Gangguan rantai pasok dari Kalimantan akan berdampak pada harga batu bara global melalui tiga mekanisme. Pertama, supply shock. Gangguan selama satu bulan pada jalur logistik utama melalui Sungai Mahakam diperkirakan akan menahan sekitar 40 juta ton pasokan atau setara 7 persen pasokan global tahunan.
Kedua, stok terbatas. Rata-rata stok persediaan batu bara untuk mengamankan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di China dan India hanya 15-20 hari. Imbasnya, kondisi gangguan dalam rantai pasok batu bara akan mempercepat respons pasar.
Ketiga, preseden Januari 2022. Ketika Indonesia menghentikan ekspor selama satu bulan, maka harga acuan Newcastle naik 32 persen dalam 10 hari perdagangan.
Lonjakan harga batubara akan merambat ke tarif listrik industri di negara importir, yang mendorong peralihan ke liquefied natural gas (LNG) dan berpotensi menyumbang tekanan inflasi. Sementara itu, kapasitas substitusi dari Australia dan Rusia terbatas akibat kendala infrastruktur dan geopolitik.
Baca juga: PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Iwa merekomendasikan kebijakan dalam jangka pendek dan menengah dalam menghadapi permasalahan rantai pasok batu bara ini. Dalam jangka pendek, Indonesia perlu mengoptimalisasikan pengerukan alur sungai dan sistem monitoring debit air secara real-time.
Dalam jangka menengah, Indonesia harus mempercepat pembangunan infrastruktur kereta api batubara sebagai alternatif logistik untuk mengurangi ketergantungan pada sungai.
"Stabilitas logistik batubara Kalimantan bukan hanya isu sektoral, melainkan bagian dari agenda ketahanan energi nasional dan stabilitas ekonomi makro," tutur Iwa.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya