Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
BEBERAPA hari terakhir, ruang publik dipenuhi perdebatan tentang ekonomi. Mahasiswa turun ke jalan.
Mereka berbicara tentang lapangan kerja, daya beli, efisiensi anggaran, dan masa depan kesejahteraan masyarakat.
Di televisi, media sosial, hingga ruang-ruang diskusi, perhatian publik tersedot pada angka-angka ekonomi.
Namun di tengah kegaduhan itu, ada satu ancaman yang nyaris tidak mendapat perhatian yang setara: risiko iklim.
Padahal alam baru saja memberikan peringatan yang sangat mahal.
Pada akhir November 2025, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dilanda banjir bandang dan longsor besar.
Data BMKG menunjukkan curah hujan mencapai tingkat yang sangat ekstrem.
Di Aceh tercatat hingga 411 milimeter per hari, di Sumatera Utara sekitar 390 milimeter per hari, dan di Sumatera Barat mencapai 261 milimeter per hari.
Angka tersebut jauh melampaui ambang hujan ekstrem BMKG yang berada di atas 150 milimeter per hari.
Bahkan BMKG menyebut sebagian wilayah mengalami curah hujan setara hujan bulanan yang "tumpah" hanya dalam satu hari.
Baca juga: Piala Dunia, China, dan Sebelas Pemain yang Tak Kunjung Datang
Akibatnya tidak hanya berupa rumah terendam atau jalan terputus. Aktivitas ekonomi lumpuh. Distribusi barang terganggu.
Lahan pertanian rusak. Infrastruktur publik hancur. Ratusan korban jiwa berjatuhan.
Kerugian ekonomi yang muncul kemungkinan jauh lebih besar dibandingkan angka yang tercatat dalam laporan kebencanaan.
Belum genap setahun sejak bencana tersebut, peringatan baru muncul.
Berbagai lembaga iklim dunia dan pemerintah Indonesia mulai mengantisipasi berkembangnya fenomena El Niño yang berpotensi memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan pada paruh kedua 2026.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya