Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Jika musim kemarau memanjang dan mengganggu produksi pangan hanya beberapa persen saja, dampaknya dapat menjalar ke mana-mana: pendapatan petani menurun, harga pangan meningkat, inflasi naik, dan daya beli masyarakat melemah.
Inilah yang sering luput dari perdebatan publik. Kita terlalu sering menghitung nilai proyek, tetapi jarang menghitung nilai kerugian akibat iklim.
Kita rajin menghitung target investasi, tetapi kurang serius menghitung risiko bencana.
Baca juga: Mencari Budiman Sudjatmiko
Kita sibuk membahas pertumbuhan ekonomi tahunan, tetapi tidak cukup memberi perhatian pada fondasi ekologis yang menopang pertumbuhan tersebut.
Padahal berbagai studi internasional menunjukkan bahwa negara-negara yang gagal mengelola risiko iklim akan menghadapi biaya ekonomi yang semakin besar setiap tahunnya.
Dalam era perubahan iklim, bencana bukan lagi gangguan sesekali. Ia telah berubah menjadi faktor ekonomi yang permanen.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan hanya berapa persen pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai tahun depan.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa siap ekonomi Indonesia menghadapi dunia yang semakin panas, semakin tidak pasti, dan semakin ekstrem?
Jika akhir tahun lalu banjir bandang menunjukkan biaya yang harus dibayar ketika air datang terlalu banyak, maka ancaman El Niño tahun ini mengingatkan kita pada biaya yang harus ditanggung ketika air menjadi terlalu sedikit.
Keduanya menyampaikan pesan yang sama. Indonesia boleh sibuk menghitung anggaran.
Indonesia boleh sibuk memperdebatkan angka pertumbuhan. Namun pada saat yang sama, alam juga sedang menghitung kerugian.
Dan jika kita terus mengabaikan risiko iklim, besar kemungkinan perhitungan alam akan jauh lebih mahal daripada seluruh perhitungan yang sedang kita perdebatkan hari ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya