Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 20 Juni 2023, 09:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Masih lekat dalam ingatan kita sekitar empat tahun lalu, Turki, Latvia, dan Selandia Baru berada di posisi puncak negara dengan sampah terbanyak di dunia dalam Global Waste Index atau Indeks Sampah Global 2019.

Global Waste Index yang diungkap pertama kali oleh Sensoneo adalah analisis komparatif pengelolaan sampah di 38 negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

Sensoneo sendiri merupakan perusahaan yang menawarkan solusi pengelolaan limbah cerdas tingkat perusahaan untuk kota, entitas bisnis, dan negara melalui pengelolaan siklus hidup limbah secara efisien dan meningkatkan lingkungan serta kesejahteraan manusia.

Indeks Sampah Global berubah pasca pandemi Covid-19 yang telah menciptakan produk sekali pakai dalam jumlah besar, seperti masker medis dan uji cepat Covid, yang menyebabkan tekanan pada sistem limbah di seluruh dunia.

Baca juga: Kita Olah Banderol Sampah Plastik hingga Rp 10.000 Per Kilogram

Kajian Sensoneo melihat kembali jumlah sampah yang dihasilkan, tingkat daur ulang dan metode pembuangan lainnya, seperti pembakaran dan penimbunan, serta konsekuensi dari salah urus, seperti pembuangan sampah ilegal.

Setelah analisis komprehensif pengelolaan sampah di 38 negara, Turki berulang kali muncul sebagai negara penghasil sampah terbesar di dunia.

Meskipun daur ulang belum menjadi bagian dari pengelolaan sampah Turki pada 2019, tiga tahun kemudian negara tersebut kini mendaur ulang 47 kilogram sampah per kapita.

Namun, upaya perbaikan tersebut tidak dapat menyembunyikan tingginya volume sampah yang dibuang secara ilegal. Sebanyak 176 kilogram sampah per kapita dibuang secara tidak terkendali di Turki.

Meskipun banyak upaya melawan barang-barang plastik sekali pakai, pandemi Covid-19 telah membuat barang-barang sekali pakai baru, seperti masker medis dan tes cepat Covid, sangat diperlukan.

Baca juga: Butuh Perubahan Pola Pikir Memilah Sampah di Rumah

Organisasi lingkungan seperti Friends of the Earth Jerman memperkirakan, kurang dari 16 persen sampah daur ulang yang dialokasikan untuk didaur ulang, benar-benar dapat digunakan kembali.

Masalah terbesar disebabkan oleh campuran bahan yang dapat didaur ulang pada barang-barang seperti wadah yogurt dengan selongsong karton dan tutup aluminium.

Jika ini tidak dipisahkan sebelum, ada kemungkinan besar itu akan didaftarkan di pabrik daur ulang tetapi masih akan dibakar.

Bahan kecil, sangat tipis, dan beberapa kemasan makanan sulit didaur ulang, karena pemrosesan ulangnya,  memerlukan teknologi canggih yang tidak mudah didapat. Kegunaan mereka di pasar dan harga bahan daur ulang juga mencerminkan proses daur ulang.

Baca juga: Super Indo Patok Sampah Plastik Rp 2.500 hingga Rp 5.000 Per Kilogram

Melalui edisi baru Global Waste Index tahun 2023, ini Sensoneo ingin menarik perhatian pada masalah sampah yang sangat besar di dunia.

Evaluasi ulang dengan data terbaru ini memungkinkan mereka untuk membandingkan volume sampah dan metode pengelolaan sampah pada tahun 2019 dan 2022.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau