Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 6 Agustus 2023, 15:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

Terakhir indeks pemangku kepentingan yakni umpan balik pemangku kepentingan diminta secara aktif selama proyek berlangsung.

Untuk indeks 2023, Corporate Knights Socio-Economic Adjustment Factor (CKSEAF) telah dibuat untuk memahami dan membandingkan indikator kinerja lingkungan dan dimensi sosial dan ekonomi yang mendasari keberlanjutan.

Misalnya, indikator emisi gas rumah kaca per kapita atau konsumsi air per kapita akan rendah di negara dan kota berpenghasilan tinggi jika konservasi dan efisiensi air menjadi prioritas.

Sebaliknya, hal itu akan rendah di negara dan kota berpenghasilan rendah karena kemiskinan dan keterbatasan akses ke bahan bakar, listrik, dan air minum.

Berikut Top 10 Kota Berkelanjutan di Dunia:

Kota dengan skor tertinggi pada peringkat Indeks Kota Berkelanjutan 2023 adalah Stockholm, diikuti Oslo, Kopenhagen, Lahti, dan London, yang merupakan lima teratas.

Kota baru untuk indeks tahun ini adalah Auckland, Selandia Baru, peringkat keenam secara keseluruhan dan pertama di antara kota-kota di Asia-Pasifik, diikuti oleh Sydney, Australia, di urutan ketujuh.

Kota dengan populasi yang lebih sedikit umumnya mendapat skor lebih tinggi daripada kota yang lebih padat, dan beberapa kota terpadat berada di antara peringkat terendah, termasuk São Paulo di Brasil, Lagos di Nigeria, dan Shanghai di China. 

Menariknya, Singapura yang menurut sejumlah indeks pemeringkatan selalu berada pada posisi atas Kota Hijau, Bersih, Ramah Lingkungan, namun kini menempati posisi 48 dari total 70 kota.

Posisi negeri jiran ini turun empat peringkat dari tahun 2022 di level 44. Sedangkan Jakarta, sama sekali tak masuk dalam daftar Indeks Kota Berkelanjutan 2023.

Tower Bridge, London, InggrisUnsplash.com/CHARLESPOSTIAUSX Tower Bridge, London, Inggris
Mayoritas (53 persen) kota yang masuk dalam Indeks Kota Berkelanjutan 2023 berada di negara berpenghasilan tinggi dan sisanya (47 persen) berada di negara berpenghasilan menengah.

Meskipun hampir seimbang, sebagian besar (88 persen) dari 35 kota teratas dalam indeks berada di negara berpenghasilan tinggi, dan sebagian besar (83 persen) dari separuh kota terbawah berada di negara berpenghasilan menengah.

Disparitas pendapatan berdampak pada kinerja keberlanjutan yang terlihat melalui kinerja indikator ketahanan perubahan iklim dan lainnya.

Perubahan iklim akan memperparah rendahnya akses terhadap air minum yang aman, memaksa migrasi karena hilangnya lahan di wilayah pesisir, meningkatkan risiko ketahanan pangan, dan berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.

Sangat penting untuk mengurangi kemiskinan global sambil memperkuat kapasitas mereka yang hidup dalam kemiskinan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
LSM/Figur
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Swasta
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Pemerintah
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
LSM/Figur
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau