Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 4 September 2023, 15:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

KOMPAS.com - Pasar karbon dianggap sebagai mekanisme yang efisien untuk mencapai masa depan iklim yang lebih aman dan terjangkau.

Dengan menetapkan harga emisi gas rumah kaca (GRK), mengalokasikan pendanaan untuk kegiatan-kegiatan yang selaras dengan iklim, dan memberi insentif pada investasi (teknologi, perilaku utama, dan institusi baru), pasar karbon berkomitmen melindungi penyerap karbon alami.

Selain itu juga sekaligus menghilangkan 10-13 gigaton karbon per tahun diperlukan agar tetap berada pada jalur net zero emission (NZE) tahun 2050.

Namun, menciptakan pasar karbon yang efektif terbukti sulit dilakukan, meskipun pasar tersebut telah berkembang menjadi dua kategori besar.

Baca juga: Indonesia Minta ASEAN Bersatu dalam Perdagangan Karbon

Pasar kepatuhan atau Compliance Markets yang bertumpu pada kebijakan, undang-undang, atau peraturan, tidak mencapai cakupan atau skala yang diperlukan untuk mengatasi tantangan iklim.

Sementara itu, pasar karbon sukarela atau Voluntary Carbon Markets (VCM) dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks dan tuntutan yang bersaing.

VCM beroperasi berdasarkan aturan yang ditetapkan oleh organisasi non-pemerintah (LSM) dan organisasi yang mempunyai tujuan publik lainnya.

VCM memungkinkan pihak swasta untuk membeli dan menjual kredit karbon yang mewakili penghindaran, pengurangan, atau penghapusan GRK dari atmosfer.

Ketika teknologi tenaga angin, tenaga surya, dan energi terbarukan lainnya mengalami kesulitan untuk bersaing dalam hal biaya, VCM menyediakan sumber pendanaan tambahan yang penting untuk membantu mereka tumbuh dan bersaing dengan bahan bakar fosil.

Baca juga: Indonesia Andalkan Alam Kurangi Emisi Karbon

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pasar sukarela telah dibebani dengan berbagai fungsi yang tidak dirancang untuk dijalankan secara menyeluruh atau bersamaan.

Hal ini mencakup penawaran jalan menuju NZE bagi perusahaan-perusahaan terbesar di dunia; memberikan pendapatan kepada negara-negara yang menginginkan pertumbuhan ekonomi selaras dengan iklim; dan menciptakan mekanisme pembiayaan untuk teknologi tahap awal sehingga dapat mencapai ambang batas komersialisasi.

Akibatnya, VCM tenggelam dalam transisi yang rumit. Meskipun berkembang pesat, VCM juga harus menyempurnakan proses mereka untuk memastikan dua prioritas.

Pertama, semua kredit harus memberikan dampak emisi yang terukur dan dapat diverifikasi. Kedua, potensi efisiensi, akurasi, dan transparansi teknologi digital harus diintegrasikan tanpa menimbulkan risiko baru atau biaya yang berlebihan.

Tantangan dan Peluang VCM

Dalam beberapa tahun terakhir, VCM telah mewujudkan janji dan kompleksitas upaya kolektif untuk memerangi perubahan iklim dan melakukan dekarbonisasi dengan cepat untuk mencapai tujuan Perjanjian Paris yang membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celcius tahun 2050.

Baca juga: Langkah Praktis Mengurangi Jejak Karbon dalam Perjalanan

VCM mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan dapat menjadi mekanisme pendanaan penting untuk berbagai solusi iklim, mulai dari menghentikan deforestasi hingga meningkatkan teknologi penangkapan udara langsung.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Banjir Sumatera, KLH Setop Operasional 3 Perusahaan untuk Sementara
Pemerintah
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
Berkomitmen Sejahterakan Umat, BSI Maslahat Raih 2 Penghargaan Zakat Award 2025
BUMN
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Veronica Tan Bongkar Penyebab Pekerja Migran Masih Rentan TPPO
Pemerintah
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
Mengapa Sumatera Barat Terdampak Siklon Tropis Senyar Meski Jauh? Ini Penjelasan Pakar
LSM/Figur
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Ambisi Indonesia Punya Geopark Terbanyak di Dunia, Bisa Cegah Banjir Terulang
Pemerintah
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Saat Hutan Hilang, SDGs Tak Lagi Relevan
Pemerintah
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
Ekspansi Sawit Picu Banjir Sumatera, Mandatori B50 Perlu Dikaji Ulang
LSM/Figur
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
SBTi Rilis Peta Jalan untuk Industri Kimia Global
Pemerintah
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Bukan Murka Alam: Melacak Jejak Ecological Tech Crime di Balik Tenggelamnya Sumatra
Pemerintah
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Agroforestri Sawit: Jalan Tengah di Tengah Ancaman Banjir dan Krisis Ekosistem
Pemerintah
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Survei FTSE Russell: Risiko Iklim Jadi Kekhawatiran Mayoritas Investor
Swasta
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Tuntaskan Program KMG-SMK, BNET Academy Dorong Penguatan Kompetensi Guru Vokasi
Swasta
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Harapan Baru, Peneliti Temukan Cara Hutan Tropis Beradaptasi dengan Iklim
Pemerintah
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
Jutaan Hektare Lahan Sawit di Sumatera Berada di Wilayah yang Tak Layak untuk Monokultur
LSM/Figur
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau