Kepala bidang iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra mengatakan, mayoritas dari dari hampir 200 negara yang ikut serta dalam perundingan tersebut menginginkan tindakan yang lebih kuat terhadap bahan bakar fosil.
Arab Saudi, Kuwait, dan Irak adalah negara-negara yang paling vokal menentang penghentian bahan bakar fosil.
Menteri Perminyakan Irak Hayyan Abdul Ghani Al Sawad sempat menyampaikan, bahan bakar fosil akan tetap menjadi sumber energi utama di seluruh dunia.
Baca juga: COP28 Masuki Babak Akhir, Penghapusan Bahan Bakar Fosil Jadi Perdebatan Sengit
Para negosiator dari Barat sebelumnya telah mengisyaratkan bahwa mereka terbuka untuk mengkompromikan bahasa dalam rancangan berikutnya.
Dan Jorgensen dari Denmark, salah satu menteri perubahan iklim yang bertugas memimpin perundingan, menyampaikan COP28 perlu memperjelas bahwa akhir bahan bakar fosil sudah dekat.
Vanessa Nakate, seorang aktivis iklim terkemuka dari Uganda, memperingatkan kegagalan penghapusan bahan bakar fosil akan membuat dunia kehilangan kepercayaan terhadap COP.
“Jika para pemimpin gagal mengatasi akar penyebab krisis iklim setelah 28 tahun mengadakan konferensi iklim, maka mereka tidak hanya mengecewakan kita, tapi juga membuat kita kehilangan kepercayaan terhadap keseluruhan proses COP,” ujarnya.
Baca juga: COP28: Pemimpin OPEC Desak Anggota dan Mitra Tolak Penghapusan Energi Fosil
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya