Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Forum Internasional, Menkeu Soroti Pentingnya APBN dalam Transisi Energi

Kompas.com, 2 Mei 2024, 14:00 WIB
Add on Google
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani Indrawati menegaskan pentingnya kekuatan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk efektivitas transisi energi.

“Dibutuhkan APBN yang sehat dan kuat serta strategi menarik pendanaan global yang efektif untuk dapat menjalankannya (transisi energi) secara efektif dan sustainable (berkelanjutan),” kata Sri Mulyani dalam keterangannya di akun Instagram resmi @smindrawati, dikutip Kamis (2/5/2024). 

Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara panel diskusi dalam "Future Vision Symposium" IsDB Annual Meeting di Riyadh, Arab Saudi, Selasa (30/4/2024) lalu. 

Baca juga: Butuh Rp 38,4 Triliun untuk Pekerja Batu Bara Terdampak Transisi Energi

Dalam agenda tersebut, ia menjelaskan terdapat tiga tantangan dan pilihan pelik dalam upaya transisi energi, yaitu energy security, energy sustainability, dan energy affordability.

Menurutnya, energi merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga menjadi tantangan pembangunan untuk menyediakan energi (energy security) yang terjangkau bagi masyarakat (energy affordability).

Di sisi lain, perhatian mengenai aspek keberlanjutan planet untuk menghindari ancaman katastropik perubahan mengharuskan transisi menuju energi hijau dan terbarukan (energy sustainability).

Butuh biaya besar

Sementara itu, ia memaparkan bahwa proses menuju transisi energi tidak hanya rumit dan kompleks, tetapi juga membutuhkan pembiayaan yang sangat mahal. 

“Kita harus mampu menjaga kepentingan nasional dan memperjuangkan sebuah proses transisi yang adil dan terjangkau,” tutur Sri Mulyani.

Baca juga: Generasi Muda Didorong Terlibat Transisi Energi

Dalam diskusi bersama HRH Prince Abdulaziz Al-Saud (Putra Raja Salman dan sekaligus Menteri Energi Saudi Arabia) dan Presiden IsDB Al Jasser tersebut, Menkeu menyampaikan cara Indonesia menjalankan transisi energi menuju net zero emission (NZE) dan meningkatkan energi terbarukan.

Hal itu, ia menambahkan, memerlukan kebijakan yang kompleks dan sensitif serta membutuhkan pembiayaan yang sangat besar dan menantang.

“Senang bisa menjelaskan posisi Indonesia yang mendapat respek dari seluruh panitia dan audiens,” ujar Menkeu.

Sebagai informasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani menghadiri pertemuan sekaligus peringatan 50 tahun Islamic Development Bank (IsDB).

Sri Mulyani mengatakan peringatan itu menjadi momen yang baik bagi IsDb untuk melanjutkan agenda reformasi, menjadi Bank Pembangunan yang makin besar, lebih baik, dan makin kuat dalam membantu negara-negara klien mencapai tujuan mereka.

 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
Konsumsi Nikel untuk Baterai EV Diprediksi Melonjak 218 Persen pada 2035
Swasta
Minamas Plantation Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang
Minamas Plantation Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang
Swasta
Petani di Sumsel Kelola Limbah Jerami Jadi Produk Ramah Lingkungan
Petani di Sumsel Kelola Limbah Jerami Jadi Produk Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Celios Soroti Ketimpangan Pendanaan Transisi Energi di Desa
Celios Soroti Ketimpangan Pendanaan Transisi Energi di Desa
LSM/Figur
SIG Gandeng BRIN Kembangkan Material Bangunan Rendah Emisi
SIG Gandeng BRIN Kembangkan Material Bangunan Rendah Emisi
BUMN
Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?
Harapan Justru Lebih Efektif Atasi Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu
Habitat Burung Laut Menyusut, Terpaksa Terbang Lebih Jauh untuk Berburu
Pemerintah
RI Sudah Masuk Musim Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla
RI Sudah Masuk Musim Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla
Pemerintah
Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Pemerintah
Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus
LSM/Figur
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
Pengamat: Subsidi Kendaraan Listrik Berbasis Nikel Perkuat Industri Baterai Nasional
LSM/Figur
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
Apakah Kucing yang Memangsa Tikus Bisa Ikut Tularkan Hantavirus?
LSM/Figur
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
J&T Express Rilis Laporan ESG 2025, Dorong Keberlanjutan lewat Teknologi dan Aksi Sosial
BrandzView
Gandeng SPE UI, Pertamina Internasional EP Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Bekasi
Gandeng SPE UI, Pertamina Internasional EP Tanam Mangrove di Pesisir Pantai Bekasi
BUMN
East Ventures Catat Penurunan Emisi 23 Persen sepanjang 2025
East Ventures Catat Penurunan Emisi 23 Persen sepanjang 2025
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau