Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Arief Wiwaha
Karyawan BUMN

Akademisi, Praktisi di oil & gas dan pertambangan mineral & batubara

Di Balik Target "Net Zero Emission": Apakah Kita Melangkah Maju?

Kompas.com - 25/05/2024, 09:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Sekarang kita lihat aspek lain dari upaya penurunan emisi global ini, yaitu upaya ekonomi dalam bentuk carbon trading.

Carbon trading atau emission trading di-definisikan sebagai aktifitas jual beli ‘emisi’ di mana suatu pihak dapat ‘membeli pengurang’ (carbon credit) dari kelebihan emisi yang dihasilkannya dari pihak lain yang sudah berhasil menurunkan emisi.

Dengan kata lain, pihak pertama bisa meng-klaim penurunan emisi dengan melalui mekanisme jual-beli.

PBB juga memiliki UN Carbon Offset Platform yang memungkinkan suatu perusahaan, organisasi dan masyarakat dapat membeli carbon credit.

Mekanisme ini sudah cukup lama ditetapkan dan memiliki market place tersendiri. Harga yang diperjual belikan berkisar antara 75 – 80 Euro per ton berdasarkan data yang dilansir dari badan pemantau harga karbon Eropa ‘Ember’.

Berdasarkan data yang dikutip dari Reuters, nilai transaksi carbon credit di Eropa mencapai 948 miliar euro tahun 2023, melampaui rekor sebelumnya 881 miliar euro dengan kenaikan 2 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan harga ini mengindikasikan permintaan pasar yang tinggi atau dengan kata lain, semakin banyak pihak yang memilih untuk ‘membeli’ pengurangan emisi dari kelebihan yang dihasilkannya.

Secara intuitif, seseorang bisa memilih untuk melakukan ini secara terus menerus sehingga kelebihan emisinya bisa selalu ‘nol’ selagi ia memiliki dana untuk melakukan pembelian.

Sementara dana untuk 'membeli' mungkin didapatkan dari aktifitas produksi berlebihan. Jika ini dilakukan, maka pengurangan emisi yang diharapkan akan sulit untuk bisa dicapai.

Apakah mekanisme carbon trading adalah sesuatu yang buruk? Tidak juga. Mekanisme ini adalah win-win solution yang didesain oleh regulator dan pihak industri/negara yang secara aktif juga harus melakukan pembangunan dan memutar roda perekonomian.

Namun demikian, diharapkan mekanisme ini tidak disalahgunakan sebagai escape strategy dari pihak-pihak yang ingin me-nol kan emisinya dengan cara membeli.

Hal ini sebetulnya bisa dilakukan dengan tidak menetapkan Net Zero Emission sebagai ’target’ yang harus dicapai dan dapat menyalah-arahkan (misleading) industri untuk terlalu mengandalkan mekanisme carbon trading dalam mencapai ‘target’ tersebut.

Net Zero Emission sebaiknya memiliki arti yang lebih mulia (profound) dan dipandang sebagai ‘journey’ atau perjalanan yang terus menerus dilakukan dan ditempuh menuju tercapainya masa depan yang layak menjadi tempat hidup umat manusia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya

Hutan Mangrove Lindungi Pesisir dari Tsunami, Tapi Terancam Hilang

Hutan Mangrove Lindungi Pesisir dari Tsunami, Tapi Terancam Hilang

Pemerintah
Penginderaan Jauh Bantu Pantau Sampah Plastik di Sungai dan Danau

Penginderaan Jauh Bantu Pantau Sampah Plastik di Sungai dan Danau

Pemerintah
Bagaimana Cara Rayakan Tahun Baru yang Lebih Ramah Lingkungan?

Bagaimana Cara Rayakan Tahun Baru yang Lebih Ramah Lingkungan?

LSM/Figur
Ada Pengaruh China, Permintaan Batu Bara Global Alami Titik Jenuh Hingga 2027

Ada Pengaruh China, Permintaan Batu Bara Global Alami Titik Jenuh Hingga 2027

LSM/Figur
7 Prediksi Tren Keberlanjutan Tahun 2025, dari ESG sampai Karbon

7 Prediksi Tren Keberlanjutan Tahun 2025, dari ESG sampai Karbon

LSM/Figur
Anak Usaha Telkom Bangun Menara dari Resin, Kurangi Emisi 856,96 Ton

Anak Usaha Telkom Bangun Menara dari Resin, Kurangi Emisi 856,96 Ton

Pemerintah
Harimau Berperilaku Unik Muncul di Sumbar, Ikuti Warga sampai Batas Kampung

Harimau Berperilaku Unik Muncul di Sumbar, Ikuti Warga sampai Batas Kampung

Pemerintah
Kriminalisasi Masyarakat Adat Meningkat, 121 Kasus pada 2024

Kriminalisasi Masyarakat Adat Meningkat, 121 Kasus pada 2024

LSM/Figur
Deforestasi, 1,9 Juta Hektare Hutan Indonesia Rusak Dalam 2 Tahun

Deforestasi, 1,9 Juta Hektare Hutan Indonesia Rusak Dalam 2 Tahun

LSM/Figur
Perlindungan Masih Minim, RUU Masyarakat Adat Harus Disahkan pada 2025

Perlindungan Masih Minim, RUU Masyarakat Adat Harus Disahkan pada 2025

LSM/Figur
Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali Capai 75 Persen Target Investasi

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali Capai 75 Persen Target Investasi

Swasta
Transisi Energi, Kerjasama Teknologi dengan China dan UAE Perlu

Transisi Energi, Kerjasama Teknologi dengan China dan UAE Perlu

Pemerintah
Transisi Energi Indonesia Lambat, Regulasi Tak Jelas Sebabnya

Transisi Energi Indonesia Lambat, Regulasi Tak Jelas Sebabnya

Pemerintah
Berdaya, Cerita Perjuangan Penyandang Disabilitas Wujudkan Usaha Mandiri bersama Nusantara Infrastructure

Berdaya, Cerita Perjuangan Penyandang Disabilitas Wujudkan Usaha Mandiri bersama Nusantara Infrastructure

Swasta
Dukung SDGs, Nusantara Infrastructure Bangun Ekosistem UMKM Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Dukung SDGs, Nusantara Infrastructure Bangun Ekosistem UMKM Inklusif untuk Penyandang Disabilitas

Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau