Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 29 Mei 2024, 07:06 WIB
Add on Google
Farida Farhan,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KARAWANG, KOMPAS.com - PT Pupuk Kujang mengeklaim dapat mencegah 53.000 ton karbon terbuang ke udara dalam setahun.

Caranya adalah dengan mengubah emisi karbon menjadi produk komersial sebagai komitmen penerapan prinsip industri hijau.

VP Pengembangan Pupuk Kujang Iswahyudi Mertosono menjelaskan, sebagai perusahaan yang fokus pada kelestarian lingkungan, Pupuk Kujang terus berupaya menurunkan emisi karbon.

Selain melakukan tanggung jawab kepada lingkungan dan sosial, tujuan Pupuk Kujang mereduksi karbon yaitu menghemat modal, meningkatkan inovasi, dan memanfaatkan peluang pasar.

Baca juga: Elektrifikasi Transportasi Perkotaan Kurangi Emisi GRK dan Polusi

Iswahyudi mengatakan, ada berbagai strategi yang diupayakan Pupuk Kujang. Beberapa strategi lainnya sedang dipelajari dan dihitung.

"Penerapan strategi ini telah dilakukan dan berdampak positif bagi lingkungan sekaligus bisnis perusahaan," ujar Iswahyudi kepada Kompas.com, Selasa (28/5/2024).

Iswahyudi menambahkan, Departemen Pengembangan Pupuk Kujang terus merancang strategi dan melakukan berbagai upaya untuk menurunkan karbon.

Sebagai perusahaan petrokimia, Pupuk Kujang menghasilkan emisi karbon dalam proses produksinya.

“Kami upayakan mengurangi emisi itu terbuang ke udara. Kita tangkap dan manfaatkan menjadi produk yang bernilai. Punya manfaat bagi kehidupan juga bernilai ekonomi bagi perusahaan,” tutur Iswahyudi.

Baca juga: Keputusan Pengadilan Maritim PBB: Emisi Karbon Jadi Polusi Lautan

Adapun langkah yang telah dilakukan saat ini yaitu membuat dua pabrik. Pabrik pertama adalah pabrik CO2 cair, pabrik kedua yakni pabrik dry ice atau es kering.

Kedua pabrik itu berdiri di area produksi Pupuk Kujang di Kawasan Industri Kujang Cikampek.

“Jika digabungkan, pabrik CO2 dan dry ice Pupuk Kujang bisa mencegah 53.000 ton karbon terbuang ke udara,” ujar Iswahyudi.

Rinciannya, pabrik CO2 cair dibangun pada tahun 2019 dan beroperasi secara komersial pada 2020. Melalui pabrik itu, karbon dioksida ditangkap dan diolah menjadi produk cair atau dikenal sebagai CO2 cair.

Pabrik kemudian mengolah karbon dioksida menjadi produk setiap hari. Dalam setahun, pabrik itu bisa menghasilkan 50.000 ton karbon dioksida cair dengan kemurnian mencapai 99,9 persen.

Baca juga: Uni Eropa Sahkan Aturan Pangkas 90 Persen Emisi Kendaraan Berat

“Melalui pabrik itu kami bisa mencegah 50.000 ton karbon dioksida cair terbuang ke udara dalam setahun. Sementara ini, pabrik karbon dioksida cair Pupuk Kujang menjadi pabrik penghasil CO2 cair terbesar di Indonesia,” kata Iswahyudi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau