Selain melayani dengan menyediakan fasilitas khusus bagi penyandang disabilitas, Yulla turut terjun memberdayakan mereka di bidang pertanian pada 2020.
Harapannya, ketika akhir tahun, mereka punya pegangan untuk perayaan dari hasil pertanian tersebut. "Jadi setiap akhir tahun, (posyandu difabel) kami punya perayaan, kalau Kristen Natal kalau yang muslim syukuran," ucap Yulia.
Bawang merah menjadi komoditas pertama yang mereka pilih untuk dibududayakan. Oleh Pemerintah Desa Rompo, mereka diberi bantuan bibit bawang merah 10 kg.
Meski bukan berlatar belakang petani, Yulla tetap ikut terjun mendampingi penyandang disabilitas tersebut bertani, dibantu para kader posyandu difabel di sana.
"Kami semua turun menanam bawang merah. Ketika panen, ternyata hasilnya lumayan, sekian ratus kilo. Ini menjadi titik terang bahwa bukan hanya (bisa mendapat) pelayanan kesehatan saja, tapi mereka juga bisa (berdaya). Karena memang notabene mereka dari keluarga petani," tutur Yulla.
Baca juga: Pendidikan Inklusi Jadi Modal Hapus Stigma Penyandang Disabilitas
Hasil panenan bawang merah tersebut dijanjikan akan dibeli oleh pihak dari desa sebelah. Mereka antusias menunggu, akan tetapi harapan tersebut rupanya harus kandas.
"Ketika panen tiba dan waktunya untuk dijual, bawang-bawang tersebut rupanya tak jadi dibeli. Alasannya tidak punya merek. Itu membuat saya sangat sedih," ujar Yulla.
Sempat patah arang, Yulla kembali diajak memberdayakan mereka dengan budidaya jagung dengan Pemerintah Desa Rompo, lembaga swadaya masyarakat Wahana Visi Indonesia, dan masyarakat sekitar.
"Memberdayakan mereka tidaklah mudah. Difabel banyak tidak sekolah. Memberikan pengajaran kepada mereka harus lewat contoh," jelas Yulla.
Yulla mengiyakan ajakan tersebut. Para penyandang disabilitas bahkan disediakan lahan oleh salah satu tetangga dan diberikan bantuan bibit dan alat-alat pertanian dari pemerintah desa.
Baca juga: Aksesibilitas Pelabuhan bagi Kaum Disabilitas
Ternyata, hasil yang didapatkan dari pertanian jagung tersebut cukup untuk menjadi dibagi-bagi bagi anggota kelompok yang ikut serta bekerja.
Kini, program pemberdayaan untuk para penyandang disabilitas di Desa Rompo masih jalan terus. Yulla mengaku, selama masih sanggup, dia akan terus mendampingi kelompok difabel di Desa Rompo.
Dia berharap, para penyandang kebutuhan khusus di Desa Romp bisa mandiri dan berdaya, minimal untuk dirinya sendiri.
Baginya, Tuhan menciptakan penyandang disabilitas mempunyai tujuan. Karena itulah, dia berharap para penyandang disabilitas tidak lagi dipandangs ebelah mata, apalagi menjadi beban.
Dan menurutnya, sekecil apa pun kebaikan yang dia berikan, akan dibalas Tuhan dengan sebesar-besarnya karena tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
"Tuhan menyayangi mereka karena punya tujuan. Apakah di hati nurani kita tidak punya rasa seperti itu? Karena bagi saya, lebih baik cacat tubuh daripada cacat hati," tutup Yulla.
Baca juga: Cerita Mira, Mahasiswa Disabilitas Raih Beasiswa Kuliah S2 di Unair
Kami mengundang berbagai perusahaan yang memiliki program berkelanjutan dalam rangka mengakselerasi pencapaian SDGs di Indonesia serta menginspirasi publik. Kunjungi lestari.kgmedia.id/award untuk informasi lebih lebih lanjut tentang Lestari Awards.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya