Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

45 Tahun, Bakti Lingkungan Djarum Foundation Tanam 2,3 Juta Pohon

Kompas.com, 27 Agustus 2024, 19:30 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

MOJOKERTO, KOMPAS.com - Sejak tahun 1979, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menginisiasi penanaman pohon dan melestarikannya demi keberlanjutan dan terciptanya lingkungan yang berkualitas.

Diawali dengan penghijauan di kota Kudus, Jawa Tengah, hingga kini BLDF telah menanam lebih dari 2,3 juta pohon di seluruh Indonesia.

Tak hanya itu, BLDF juga ikut menghijaukan infrastruktur konektivitas sepanjang 3.361 kilometer di Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa, Jalur Pantai Selatan (Pansela) Jawa, Pulau Madura, Pulau Lombok, dan Jalan Trans Sumatera.

Keseriusan BLDF dalam langkah nyata dan komitmen menurunkan emisi karbon dan mengantisipasi abrasi akibat global boiling ditunjukkan dengan menanam 1.102.468 mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah.

Baca juga: Di KCBN Trowulan, Siap Darling dan 150 Mahasiswa Tanam 6.208 Pohon

Director Communication Djarum Foundation Mutiara Diah Asmara menuturkan, komitmen penghijauan tersebut terus berkelanjutan dengan meluncurkan Siap Darling pada 2019.

Ini merupakan gerakan generasi muda berbasis digital sebagai kanal komunikasi dalam melakukan berbagai aksi nyata secara konsisten.

Salah satunya melalui aksi penghijauan dan literasi terkait lingkungan di berbagai kawasan candi di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta serta Jambi.

"Dan hari ini, Rabu (27/8/2024), kami berterima kasih kepada para mahasiswa yang secara sukarela hadir untuk turut melestarikan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur," ujar Miranti.

Dalam kegiatan di KCBN Trowulan ini, Siap Darling menanam 6.208 bibit dengan melibatkan 150 mahasiswa dari 46 perguruan tinggi di seluruh indonesia.

Miranti mengharapkan, melalui aksi tersebut, generasi muda dapat menunjukkan kepedulian pada lingkungan dengan belajar dari cara hidup nenek moyang yang harmonis dan tidak merusak alam.

Baca juga: Wujudkan Hutan Berbasis Rakyat, Amartha Tanam 2000 Pohon di Bali

Inisiatif penanaman pohon di situs bersejarah sebagai bagian dari program Candi Darling dengan menjangkau sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Sumatera.

Hingga Agustus 2024, terdapat enam kawasan dan 12 candi yang telah dihijaukan yaitu Candi Prambanan, Candi Situs Ratu Boko dan Idjo, Candi Gedung Songo, Candi Sambisari, Candi Barong, Candi Banyunibo, Candi Dieng, dan Candi Muarajambi.

Sebanyak 1.132 mahasiswa dari 137 universitas di 81 kota/kabupaten di Indonesia berperan aktif dalam kegiatan ini.

Bupati Mojokerto dalam sambutan kunci yang disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Mojokerto Zaqqi menambahkan, Mojokerto sebagai kota peninggalan kebesaran Majapahit juga menerapkan pesan harmonisasi dalam pengelolaan kota.

"Harapannya, inspirasi yang kami warisi dari leluhur dan tergambar di KCBN Trowulan ini dapat disebarluaskan ke berbagai kota di Indonesia untuk mendorong aksi kolaboratif yang bernapaskan alam,” sambung Zaqqi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau