Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahli Sebut Perubahan Iklim Sebagai Keadaan Darurat Kesehatan

Kompas.com, 15 Oktober 2024, 16:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Para ahli internasional di bidang kedokteran darurat telah memperingatkan bahwa perubahan iklim kemungkinan akan berdampak signifikan pada layanan medis darurat di seluruh dunia.

Meskipun demikian, hanya sedikit negara yang telah menilai skala dampaknya atau memiliki rencana untuk mengatasinya.

Temuan tersebut didapat dari survei tentang kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap perubahan iklim yang diselesaikan oleh 42 kelompok yang terdiri dari ahli dalam kedokteran darurat, perawatan pra rumah sakit, dan kedokteran bencana di 36 negara di 13 wilayah PBB.

Baca juga: Perubahan Iklim Segera Masuk Kurikulum Pendidikan Indonesia

"Dampak perubahan iklim pada layanan medis darurat bisa jadi lebih tinggi daripada sistem kesehatan global," kata Luis Garcia Castrillo, seorang profesor kedokteran darurat di Rumah Sakit Marqués de Valdecilla, Santander, Spanyol, yang kini telah pensiun.

Sayangnya, seperti dikutip dari Medicalxpress, Selasa (15/10/2024) hanya 21 persen negara yang melaporkan adanya layanan medis darurat untuk dampak perubahan iklim dan hanya 38 persen yang melaporkan tindakan untuk mempersiapkan dampak perubahan iklim.

"Sungguh mengejutkan betapa kurangnya kesadaran di banyak negara, serta di antara masyarakat kedokteran darurat. Beberapa negara tampaknya tidak peduli sama sekali. Namun, hal ini akan memengaruhi negara-negara kaya dan miskin," tulis para penulis studi yang dipublikasikan di European Journal of Emergency Medicine.

Baca juga: Akibat Krisis Iklim, Risiko Tabrakan Hiu Paus dengan Kapal Semakin Tinggi

Darurat Kesehatan

Dr. Roberta Petrino, direktur Departemen Gawat Darurat di Ente Ospedaliero Cantonale, Lugano, Swiss yang juga merupakan penulis studi pun mengungkapkan perubahan iklim merupakan keadaan darurat kesehatan sehingga tindakan untuk mengurangi dampaknya penting.

Ia pun menyebut perlunya memperkuat layanan kedokteran darurat, program pendidikan bagi mahasiswa kedokteran dan dokter kedokteran darurat, serta penelitian.

Pasalnya menurut studi ini ada tiga risiko utama teratas yang akan dihadapi masyarakat karena perubahan iklim.

Tiga risiko utama teratas adalah polusi, banjir, dan gelombang panas. Tiga risiko minor adalah cuaca dingin, kebakaran hutan, dan penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti malaria.

Hal tersebut nantinya diperkirakan akan membuat peningkatan permintaan terhadap layanan medis darurat.

Pendidikan dan persiapan rencana strategis adalah tindakan terpenting yang diperlukan untuk mengurangi risiko.

Baca juga: Perubahan Iklim Ancam Eksistensi Olahraga Ski

Analisis data berdasarkan wilayah menunjukkan pula bahwa perubahan iklim diperkirakan akan berdampak lebih besar di Australasia, dan negara-negara di Eropa Timur, Asia Selatan, Afrika Sahara Selatan, dan Amerika Tengah.

Negara-negara seperti Mesir dan Nigeria akan terkena dampak terendah sedangkan wilayah Afrika Sahara Selatan diperkirakan terkena dampak tertinggi.

"Jelas dari temuan kami bahwa perubahan iklim diperkirakan akan berdampak signifikan pada layanan medis darurat," kata Dr. Petrino.

"Kesadaran yang jauh lebih besar tentang hal ini diperlukan di tingkat nasional dan internasional di antara para pembuat kebijakan, penyedia layanan kesehatan, profesional layanan kesehatan, dan masyarakat umum," paparnya lagi.

Baca juga: Logam Berat di Lautan Jadi Lebih Beracun akibat Perubahan Iklim

Tindakan pun harus segera diambil karena perubahan iklim berdampak pada semua negara, kaya, dan miskin terlepas dari wilayah geografisnya.

Dunia menghadapi keadaan darurat perubahan iklim, dan layanan medis kita juga menghadapi keadaan darurat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
Pemerintah
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Pemerintah
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau