Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanoto Foundation Gelar Simposium Perkuat Komitmen Kebijakan PAUD-HI

Kompas.com, 20 November 2024, 19:34 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Tanoto Foundation bersama sejumlah kementerian menggelar simposium internasional, untuk memperkuat komitmen kebijakan program Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI).

Country Head Tanoto Foundation Indonesia Inge Kusuma mengatakan bahwa simposium bertema Nurturing Care for Early Childhood Development (NFC).

NFC merupakan konsep yang dirancang oleh WHO, UNICEF, dan World Bank untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDG's).

Baca juga:

"Simposium ini diharapkan menjadi platform untuk diskusi lintas sektoral, bertukar pengetahuan dan praktik baik, dan memperkuat komitmen kebijakan PAUD HI di Indonesia," ungkap Inge dalam sambutannya di International Symposium on ECED, Jakarta Pusat, Rabu (20/11/2024).

Inge berpendapat, masih banyak yang harus dibenahi terkait ekosistem PAUD di Indonesia. Perbaikan itu memerlukan kolaborasi pemerintah maupun swasta.

"Tahun ini kami bermitra dengan pemerintah dan juga berbagai pihak untuk menginisiasi terbentuknya Early Childhood Education and Development Council, atau council PAUD di Indonesia," ucap Inge.

ECED, kata dia, berfokus pada penelitian, pendidikan, pelayanan, kebijakan, edukasi masyarakat, dan peningkatan kapasitas tenaga PAUD. Adapun simposium digelar sebagai upaya memutus rantai kemiskinan, transformasi, dan menyejahterakan masyarakat sejak usia dini.

"Kedua, membangun masa depan dimulai dari membangun anak-anak kita hari ini. Lima tahun pertama menentukan arah hidup seseorang mungkin dalam 50-60 tahun ke depannya," paparnya.

Hadirkan Rumah Bersama Merah Putih

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Woro Srihastuti mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa kementerian untuk menyiapkan Ruang Bersama Merah Putih.

"Sehingga nanti pada saat bicara ruang bersama HI, ketahuan untuk nanti kami memperkuatnya kementerian lembaga mana saja yang harus kami perkuat yang harus kami gerakkan," jelas Woro.

Baca juga:

Pemerintah juga akan memperkuat koordinasi terkait PAUD HI di tingkat desa. Dengan begitu, program ini dapat berjalan seiring dengan Ruang Bersama Merah Putih.

"Jadi itu yang nanti akan kami lakukan dengan menyiapkan RKI-nya, kami perkuat tugas-tugasnya. Dilihat siapa-siapa yang akan menjadi koordinator baik di pusat, daerah, sampai nanti ke tingkat desa," ucap Woro.

Program tersebut bakal diresmikan pada 22 Desember 2024 di enam wilayah yang mewakili lima provinsi. Lokasinya antara lain di Jambi, Gorontalo, Kalimantan Selatan, NTT, Tanggerang dan Jawa Timur.

Inisiasi Rumah Bersama Merah Putih, melanjutkan program menteri sebelumnya untuk membentuk desa maupun kota yang ramah perempuan dan anak.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
Walhi NTB Desak Pemerintah Moratorium IPR di 60 Titik
LSM/Figur
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Banjir Rob Kian Meluas, Akademisi Unair Peringatkan Dampak Jangka Panjang bagi Pesisir Indonesia
Pemerintah
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
Kalimantan dan Sumatera Jadi Pusat Kebakaran Hutan dan Lahan Selama 25 Tahun Terakhir
LSM/Figur
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
Indonesia Perlu Belajar dari India untuk Transisi Energi
LSM/Figur
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Respons PT TPL usai Prabowo Minta Perusahaan Diaudit dan Dievaluasi
Swasta
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
DLH DKI Siapkan 148 Truk Tertutup untuk Angkut Sampah ke RDF Rorotan
Pemerintah
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Perancis Perketat Strategi Net Zero, Minyak dan Gas Siap Ditinggalkan
Pemerintah
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
3.000 Gletser Diprediksi Hilang Setiap Tahun pada 2040
LSM/Figur
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
IATA Prediksi Produksi SAF 2025 1,9 Juta Ton, Masih Jauh dari Target
Pemerintah
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025
Swasta
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Gelondong Bernomor Di Banjir Sumatera
Pemerintah
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Permata Bank dan PT Mitra Natura Raya Dorong Konservasi Alam lewat Tour de Kebun Raya
Swasta
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru
Pemerintah
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
89 Persen Masyarakat Indonesia Dukung EBT untuk Listrik Menurut Studi Terbaru
Pemerintah
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
Teluk Saleh NTB jadi Habitat Hiu Paus Melahirkan dan Melakukan Pengasuhan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau