Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNICEF: Ratusan Anak di Myanmar Terbunuh akibat Konflik

Kompas.com, 22 November 2024, 21:18 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Data terbaru United Nations Children's Fund (UNICEF) menunjukkan, sebanyak 650 anak di Myanmar terbunuh ataupun mengalami cacat sepanjang 2024.

Mengutip laman UN News, Jumat (22/11/2024), kondisi anak-anak di Myanmar makin terpuruk karena konflik hingga bencana iklim.

"Meningkatnya penggunaan senjata mematikan di wilayah sipil termasuk rumah, sekolah, dan rumah sakit telah membuat anak-anak hampir tidak memiliki tempat yang aman," ujar Wakil Direktur Eksekutif UNICEF Ted Chaiban.

Baca juga:

Serangan di kompleks gereja di Negara Bagian Kachin, misalnya, menewaskan tujuh anak-anak dan dua orang dewasa saat sedang bermain sepak bola.

Sementata itu, UNICEF mencatat lebih dari 3,4 juta orang mengungsi ke negara lain. Dari total itu, 40 persen di antaranya merupakan anak-anak.

“Saya melihat langsung betapa rentannya anak-anak dan warga sipil lainnya di daerah yang terkena dampak konflik,” ungkap Chaiban.

Situasi ini makin diperparah dengan cuaca ekstrem. UNICEF mengatakan, peristiwa topan Yagi menyebabkan anak-anak putus sekolah, sulit mengakses fasilitas kesehatan, maupun layanan vital lainnya.

Dia pun meminta agar pihak terkait menegakkan hukum humaniter internasional, serta melindungi anak-anak dari serangan saat konflik terjadi.

Bantuan Kemanusiaan Dibatasi

"Akses (bantuan) masih dibatasi karena konflik bersenjata yang sedang berlangsung, kondisi yang tidak aman, birokrasi, kurangnya telekomunikasi serta alat pelindung diri,” tutur Chaiban.

Di samping itu, UNICEF baru mendapatkan dana kurang dari 25 persen dari yang diajukan. Meski begitu, UNICEF dan mitra kemanusiaan lainnya tetap berupaya memberikan layanan ke wilayah yang sulit dijangkau.

Baca juga:

Dia pun meminta agar negara-negara lain dapat membantu pendanaan, advokasi, dan solidaritas untuk anak-anak di Myanmar.

“Biayanya (pendanaan) tidak terlalu tinggi. Anak-anak Myanmar tidak bisa lagi menunggu," ucap dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pemerintah
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Swasta
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pemerintah
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
LSM/Figur
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
LSM/Figur
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
LSM/Figur
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon 'Aku Net-Zero Hero'
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon "Aku Net-Zero Hero"
BUMN
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
LSM/Figur
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Pemerintah
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Pemerintah
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Pemerintah
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Pemerintah
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Swasta
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
LSM/Figur
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau