KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, krisis iklim mengakibatkan banyak bencana cuaca ekstrem. Setidaknya, terjadi 18 badai besar terdiri dari 11 badai siklon dan lima badai besar.
“Setiap tahun, krisis iklim terus memecahkan rekor baru menyebabkan makin banyaknya peristiwa cuaca ekstrem. Termasuk siklon tropis yang makin parah, curah hujan tinggi, dan banjir,” ungkap Sekretaris Jenderal World Meteorological Organization (WMO) Celeste Saulo dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/11/2024).
Bencana itu antara lain Badai Beryl, yang termasuk badai kategori 5 di cekungan Atlantik. PBB mengatakan, badai tersebut terjadi pada Juli lalu dan menyebabkan kerusakan hebat di Karibia.
Baca juga:
“Meskipun dahsyat, badai ini mengakibatkan lebih sedikit korban jiwa dibandingkan dengan badai-badai sebelumnya. Ini karena berkat kemajuan sistem peringatan dini mereka,” tutur Saulo.
Adapun badai beryl mulai melambat pada Agustus 2024, karena kondisi atmosfer di Afrika Barat. Namun, frekuensi dan intensitas badai melonjak pada awal September yang memicu tujuh badai.
Bencana lainnya ialah badai helene menerjang Pantai Teluk Florida, yang mengakibatkan banjir dahsyat di Pegunungan Appalachia bagian selatan, dan kerusakan akibat angin yang meluas di seluruh Amerika Serikat bagian timur. Kemudian, banjir akibat gelombang badai di sepanjang pantai Florida.
“Dengan lebih dari 150 korban jiwa langsung, Helene menjadi badai paling mematikan yang melanda negara itu sejak Badai Katrina pada 2005,” kata PBB.
Baca juga: Tanpa Turunnya Emisi, Populasi Dunia Hadapi Ancaman Cuaca Ekstrem
Pada bulan Oktober, Badai Milton menerjang daratan dekat Siesta Key, Florida, sebagai badai Kategori 3. Badai ini mengakibatkan 46 tornado, hujan deras, dan banjir parah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya