Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Darwin Darmawan
Pendeta

Sekertaris Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI)

Food Estate dan Orang Asli Papua

Kompas.com - 11/12/2024, 13:20 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ketika berburu dan mengolah makanan, mereka bernanyi bersama, melantunkan lagu-lagu sakral suku.

Ketika makan, mereka bercerita tentang nenek moyang dan narasi mitologis lainnya. Hutan bagi masyarakat Marind adalah ruang hidup yang di dalamnya aktivitas spiritual, kultural dan jasmani terjadi.

Dora, seorang Ibu dari Papua berkata kepada penulis, hutan juga super market besar yang menjadi sumber pangan tanpa batas bagi OAP.

Suku Marind melihat keberadaan mereka sebagai bagian integral dari yang lain. Menjadi Marind berarti menjadi “makanan yang baik untuk yang lain”. Itu mereka tunjukkan ketika meninggal dunia.

Orang Marind memilih untuk menaruh jenazah keluarga atau kerabatnya di hutan sebab dengan itu jenazah akan dikonsumsi cacing, mikro organisme pengurai, yang kemudian diserap tanah untuk menjadi mineral yang berguna bagi tumbuh-tumbuhan.

Ketika hutan dikonversi menjadi food estate, entah melalui cetak sawah atau perkebunan, orang Marind bukan saja kehilangan supermarket kebutuhan sehari-hari mereka, tetapi juga ruang hidup.

Dari 1,28 juta ha lahan yang diperuntukkan proyek MIFEE, sebanyak 90,2 persen berlokasi di dalam kawasan hutan. Itu berarti lahan seluas 1.157.347,5 ha merupakan kawasan hutan yang akan dikonversi secara massif menjadi lahan agrobisnis (Binadesa, 2012).

Bisa dibayangkan jutaan pohon sumber oksigen, hewan, tumbuh-tumbuhan akan musnah!

Dalam artikel Limbung Pangan di Merauke (Kompas, 13 Desember 2022), di empat desa Zaneki, Baad, Wonorejo, dan Bokem di Kabupaten Merauke, terjadi peningkatan kasus tengkes pada balita.

Dari data Puskesmas ditemukan kenyataan yang memprihatinkan juga. Tingkat malnutrisi meningkat pesat di Bian atas, yaitu di desa Mirav, Bayau, lokasi yang dekat dengan proyek agribisnis sawit (2014-2019).

Ini terjadi karena masyarakat kehilangan hutan dan sumber pangan berupa sagu, ubi-ubian dan hewan buruan.

Bukan hanya itu, mereka juga kehilangan kesempatan hidup dengan world view yang memandang hutan sebagai sumber hidup. Sebagai gantinya, mereka harus membeli mie instan, beras, biscuit dari warung.

Dari sumber pangan yang beragam dan kaya nutrisi, mereka mengonsumsi makanan yang tinggi garam dan gula dalam wujud minuman dan makanan kemasan.

MIREE pasti diikuti transmigrasi besar-besaran penduduk dari luar Papua, sebagai tenaga kerja di perusahaan agribisnis atau petani.

Transmigrasi besar-besaran ini sudah barang tentu semakin meminggirkan OAP karena mereka dianggap terbelakang dan sulit beradaptasi dengan “kemajuan”.

Halaman Berikutnya
Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau