Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan di Asia Pasifik Belum Siap untuk Pelaporan Keberlanjutan Skala Penuh

Kompas.com - 11/12/2024, 19:50 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik sebagian besar telah memahami dasar-dasar pelaporan iklim dengan benar.

Namun menurut laporan dari penyedia data keuangan LSEG, masih banyak pula dari perusahaan-perusahaan tersebut yang masih belum mengungkapkan metrik lanjutan yang diwajibkan berdasarkan standar pelaporan yang dikembangkan oleh Dewan Standar Keberlanjutan Internasional (ISSB).

Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka belum siap untuk penerapan skala penuh pelaporan iklim yang selaras dengan ISSB yang akan mulai berlaku secara bertahap mulai tahun 2025 di beberapa wilayah hukum di Asia Pasifik.

Dikutip dari Business Times, Rabu (11/12/2024) laporan ini memetakan persyaratan pelaporan ISSB terhadap indikator terkait iklim dari kumpulan data lingkungan, sosial, dan tata kelola LSEG, kemudian menyaringnya menjadi 31 indikator inti sebelum menggunakannya untuk menganalisis pengungkapan keberlanjutan tahun 2022 lebih dari lebih 7000 perusahaan di Asia Pasifik.

Laporan menemukan kurangnya pengungkapan metrik lanjutan di antara perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut terutama berkisar pada metrik strategis dan keuangan.

Baca juga: Komisi Eropa Terbitkan Dokumen untuk Sederhanakan Pelaporan Keberlanjutan

Misalnya, laporan tersebut menemukan bahwa 10 persen perusahaan mengungkapkan rencana transisi tetapi hanya 2 persen yang mengumumkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menetapkan rencana tersebut.

Selain itu hanya 1 persen memberikan perincian terperinci tentang bagaimana langkah-langkah tersebut dapat membantu mereka mencapai target pengurangan emisi.

Ada juga kurangnya ambisi dalam beberapa tujuan iklim, dengan hanya 1 persen perusahaan di kawasan tersebut yang memiliki rencana transisi untuk mengatasi emisi Cakupan 3, yang merujuk pada emisi tidak langsung yang timbul dari rantai pasokan perusahaan.

Emisi Cakupan 3 biasanya merupakan bagian terbesar dari total emisi karbon perusahaan, tetapi sebagian besar perusahaan hanya melengkapi pelaporan emisi Cakupan 1 dan 2 yang menunjuk pada emisi dari operasi dan pembelian listrik mereka.

Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik juga jarang mengungkapkan langkah-langkah manajemen, seperti memiliki posisi tertentu yang bertanggung jawab untuk mengawasi masalah-masalah terkait iklim di tingkat dewan, atau memasukkan kinerja perubahan iklim sebagai indikator kinerja utama dalam menentukan remunerasi eksekutif perusahaan.

Pengungkapan Metrik Keuangan

Metrik Keuangan pun jarang diungkapkan meski itu merupakan inti dari pengungkapan keuangan terkait iklim.

Hanya 16 persen perusahaan Asia-Pasifik yang melaporkan paparan keuangan mereka terhadap risiko fisik dan transisi yang terkait dengan perubahan iklim.

Padahal itu merupakan salah satu titik data paling mendasar yang dibutuhkan oleh investor yang ingin mengintegrasikan pertimbangan iklim ke dalam strategi alokasi investasi mereka.

Selain itu hanya 2 persen perusahaan yang melaporkan dampak risiko dan peluang iklim pada perencanaan keuangan, sementara 1 persen mengintegrasikan rencana transisi mereka ke dalam perencanaan keuangan.

Hal ini menunjukkan bahwa isu iklim masih belum terintegrasi ke dalam praktik manajemen keuangan sehari-hari perusahaan, kata laporan tersebut.

Lebih lanjut, sekitar 4 persen perusahaan melaporkan belanja modal hijau (capex) mereka.

Baca juga: Sebagian Besar Perusahaan di Dunia Siap Hadapi Pelaporan Baru untuk ESG

Namun yang lebih memprihatinkan adalah bahwa hanya 1 persen yang memiliki target capex hijau, dan hanya 0,2 persen yang berkomitmen untuk menyelaraskan rencana capex mereka dengan target pengurangan emisi jangka panjang mereka.

Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan Asia Pasifik memiliki tingkat pengungkapan rata-rata yang tinggi untuk metrik inti tertentu yang diwajibkan berdasarkan kerangka ISSB, termasuk pengawasan dewan atas isu-isu iklim, emisi Cakupan 1 dan 2, serta target pengurangan emisi.

Laporan tersebut mencatat bahwa perusahaan-perusahaan Asia-Pasifik memiliki tingkat pengungkapan ISSB rata-rata sekitar 15 persen atau kedua setelah Eropa, yang memiliki tingkat 19 persen.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa perusahaan-perusahaan Asia Pasifik mengungkapkan rata-rata 7,8 indikator dari 31 indikator inti, sementara perusahaan-perusahaan Eropa rata-rata mengungkapkan sembilan.

“Pengungkapan ini menunjukkan pemahaman yang kuat tentang dasar-dasar pelaporan iklim oleh perusahaan-perusahaan Asia Pasifik, yang dapat dikaitkan dengan peraturan iklim di yurisdiksi Asia-Pasifik, meningkatnya kematangan praktik keberlanjutan perusahaan, dan dukungan jangka panjang untuk rekomendasi Taskforce on Climate-related Financial Disclosures (TCFD),” tulis laporan tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau