Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Tinggi Karbon Berhasil Pangkas Emisi Tapi Tidak Cukup Cepat

Kompas.com, 18 Desember 2024, 19:10 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan dari World Economic Forum menemukan industri tinggi karbon seperti baja, ekspedisi, penerbangan, dan kimia telah membuat kemajuan dalam mengurangi emisi.

Akan tetapi industri tersebut tidak cukup cepat dalam mengurangi emisi dan dapat mencapai target nol emisi global pada 2050.

Temuan ini didapat setelah World Economic Forum meneliti delapan industri yang sulit dikurangi emisinya, termasuk di dalamnya adalah baja, aluminium, semen, kimia, minyak dan gas, penerbangan, pengiriman, angkutan truk (trucking).

Sektor-sektor ini secara kolektif menyumbang 40 persen emisi gas rumah kaca (GRK) global.

Dikutip dari Edie, Rabu (18/12/2024) menurut laporan, emisi dari delapan sektor tersebut turun sebesar 0,9 persen antara tahun 2022 dan 2023, bahkan ketika emisi terkait energi global meningkat sebesar 1,3 persen selama periode yang sama.

Meskipun permintaan rata-rata meningkat sebesar 9,2 persen antara tahun 2019 dan 2023, sektor-sektor ini berhasil mengurangi total emisi dan intensitas emisi, yang menunjukkan bahwa upaya dekarbonisasi telah dipisahkan dari pertumbuhan permintaan.

Baca juga:

Sektor-sektor seperti aluminium, semen, kimia, penerbangan dan trucking mencapai pengurangan intensitas emisi melalui peningkatan penggunaan listrik terbarukan dan praktik daur ulang yang lebih baik.

Namun, laporan tersebut menekankan bahwa terlepas dari kemajuannya, industri-industri tersebut masih jauh dari memenuhi target nol emisi global pada tahun 2050.

“Meskipun masih ada jalan panjang yang harus ditempuh, sangat menggembirakan melihat bahwa sektor-sektor yang sulit dikurangi ini membuat langkah maju dalam pengurangan emisi, yang menunjukkan bahwa mereka berinvestasi dalam transisi energi," ungkap Kepala pusat energi dan material WEF, Roberto Bocca.

“Mencapai nol emisi pada tahun 2050 akan membutuhkan kolaborasi dan inovasi keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh sektor untuk meningkatkan modal yang dibutuhkan. Namun, kami sudah memiliki banyak teknologi dan kerangka kebijakan untuk bertindak sekarang,” paparnya lagi.

Investasi Tambahan

Laporan memperkirakan pula untuk mencapai emisi nol bersih di delapan sektor tersebut akan membutuhkan investasi tambahan sebesar 30 triliun dollar AS pada pertengahan abad ini.

Dari jumlah tersebut, 13 triliun dollar AS berasal langsung dari industri, sementara 17 triliun dollar AS berasal dari ekosistem yang lebih luas, termasuk pemasok energi.

Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa hampir setengah dari pengurangan emisi yang diperlukan dapat dicapai dengan menggunakan teknologi yang tersedia secara komersial.

Selain itu, laporan mencatat selama lima tahun terakhir, intensitas emisi telah menurun sebesar 4,1 persen yang didorong oleh upaya-upaya seperti mengadopsi listrik terbarukan, meningkatkan efisiensi energi, mengurangi konsumsi batu bara, dan meningkatkan daur ulang.

Baca juga:

Namun, hambatan tetap ada. Suku bunga tinggi, ketidakpastian politik, pembatasan perdagangan, dan infrastruktur terbatas untuk teknologi energi bersih memperlambat kemajuan.

Lebih lanjut, meski pembangunan infrastruktur untuk tenaga rendah karbon telah berkembang, akan tetapi hidrogen dan penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS) masih belum meningkat, yang hanya memenuhi kurang dari 1 persen kebutuhan sektoral.

Menurut laporan McKinsey, kapasitas global teknologi CCUS harus setidaknya 60 kali lebih besar dari level tahun 2022 dan hingga 120 kali lebih besar pada tahun 2050 untuk mewujudkan dunia tanpa emisi karbon.

Laporan menunjukkan pula bawa kecerdasan buatan (AI) dapat mendukung kemajuan dalam manajemen aset, mempercepat penelitian dan pengembangan, serta memungkinkan pelaporan karbon yang transparan di tingkat produk.

Namun, perlu dicatat bahwa adopsi AI global yang meluas dapat meningkatkan permintaan listrik, mengintensifkan persaingan untuk sumber daya energi rendah karbon dan mengakibatkan peningkatan emisi pusat data.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau