Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Karbon TikTok dalam Setahun Hampir Setara dengan Sebuah Negara

Kompas.com, 17 Desember 2024, 15:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Jejak karbon yang dihasilkan aplikasi media sosial TikTok selama setahun kemungkinan setara dengan sebuah negara yakni Yunani.

Estimasi tersebut dihitung oleh Greenly, sebuah konsultan akuntansi karbon yang berpusat di Paris, Perancis, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (12/12/2024).

Emisi yang dihasilkan dari pusat data dan operasional TikTok di AS, Inggris, dan Perancis sekitar 7,6 juta metrik ton setara karbon dioksida.

Baca juga: Kebijakan Nol Emisi ASEAN Berakibat Biaya Produksi Pangan Naik

Jumlah tersebut lebih tinggi daripada media sosial lain yakni Twitter/X dan Snapchat di wilayah yang sama.

Mengingat AS, Inggris, dan Perancis hanya mencakup kurang dari 15 persen dari seluruh pengguna TikTok di dunia, jejak karbon keseluruhan platform tersebut kemungkinan sekitar 50 juta metrik ton setara karbon dioksida.

Penghitungan jejak karbon tersebut belum mencakup sumber emisi lainnya seperti ruang perkantoran dan perjalanan karyawan. 

Sebagai konteks, emisi karbon tahunan Yunani untuk tahun 2023 adalah 51,67 juta metrik ton karbon dioksida.

Baca juga: Karena Perubahan Iklim, Padang Tundra Arktik Lepaskan Lebih Banyak Emisi

Pengguna besar

TikTok memiliki 1 miliar pengguna di seluruh dunia. Penghitungan Greenly menempatkan jejak karbon media sosial tersebut tepat di atas Instagram.

Padahal, Instagram memiliki pengguna hampir dua kali lipat daripada TikTok.

Lantas mengapa demikian? Jawabannya terletak pada sifat adiktif yang unik dari platform TikTok. 

Rata-rata pengguna Instagram menghabiskan 30,6 menit di aplikasi tersebut dalam sehari. Sementara itu, rata-rata pengguna TikTok menghabiskan 45,5 menit.

Pengguna TikTok juga menghasilkan emisi tertinggi kedua per menit menurut analisis Greenly. Setiap satu menit yang dihabiskan di TikTok, ada 2,921 gram karbon dioksida yang lepas ke atmosfer.

Baca juga: Studi: Pariwisata Sumbang 9 Persen dari Total Emisi Dunia

Greenly menyebutkan, setiap pengguna TikTok rata-rata menghasilkan emisi gas rumah kaca setara dengan mengendarai mobil bertenaga bensin sejauh 197 kilometer setiap tahun.

CEO Greenly Alexis Normand mengatakan, tingginya waktu yang dihabiskan di TikTok tak bisa lepas dari adiksi yang dihasilkan kepada pengguna.

"Kecanduan juga memiliki konsekuensi dalam hal memberi insentif kepada orang untuk menghasilkan lebih banyak jejak (karbon) secara individual," kata Normand, sebagaimana dilansir dari The Guardian, Kamis (12/12/2024).

Di satu sisi, TikTok telah berkomitmen untuk menjadi netral karbon pada tahun 2030.

Perusahaan tersebut memiliki rencana yang disebut "Project Clover" yang diterapkan mulai 2023 untuk mencapai tujuan netral karbon sambil meningkatkan keamanan data secara keseluruhan. 

Namun, baru ada satu pusat data terbarukan yang telah dibangun TikTok hingga saat ini yang terletak di Norwegia yang beroperasi dengan 100 persen energi terbarukan.

Baca juga: Kejar Emisi Nol, Meta Tambah Kapasitas PLTS

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pertumbuhan Ikan Global Terus Menurun Akibat Perubahan Lingkungan
Pemerintah
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Perkuat Ekonomi Petani, Dairi Prima Mineral Luncurkan Program Agribisnis
Swasta
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Stres dan Jam Kerja Berlebih Jadi Ancaman Kematian Dini Pekerja Global
Pemerintah
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, Wahana Visi Indonesia Rehabilitasi Mangrove
LSM/Figur
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
Arisan Telur Jadi Cara Unik Desa di Ngawi Cegah Stunting
LSM/Figur
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
Rentan Krisis Global, Target Dedieselisasi Perlu Diperluas ke Pembangkit Listrik Energi Fosil Lain
LSM/Figur
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon 'Aku Net-Zero Hero'
Sediakan Kredit Karbon, Pertamina NRE Dukung Kampanye IDXCarbon "Aku Net-Zero Hero"
BUMN
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
Data Satelit Ungkap TPA Bantargebang Jadi Kontributor Emisi Metana Tertinggi Kedua di Dunia
LSM/Figur
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut
Pemerintah
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Dampak Konflik Timur Tengah, Asia-Pasifik Berpotensi Rugi Rp 5.158 Triliun
Pemerintah
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Pemerintah
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara
Pemerintah
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Gerakan Novo Club Ajak Ratusan Ribu Mahasiswa Ciptakan Dampak Nyata
Swasta
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
Dilema Pemberantasan Ikan Sapu-Sapu di Indonesia
LSM/Figur
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Bencana Alam Berpotensi Ganggu Pelaksanaan Pemilu Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau