KOMPAS.com - Jejak karbon yang dihasilkan aplikasi media sosial TikTok selama setahun kemungkinan setara dengan sebuah negara yakni Yunani.
Estimasi tersebut dihitung oleh Greenly, sebuah konsultan akuntansi karbon yang berpusat di Paris, Perancis, sebagaimana dilansir The Guardian, Kamis (12/12/2024).
Emisi yang dihasilkan dari pusat data dan operasional TikTok di AS, Inggris, dan Perancis sekitar 7,6 juta metrik ton setara karbon dioksida.
Baca juga: Kebijakan Nol Emisi ASEAN Berakibat Biaya Produksi Pangan Naik
Jumlah tersebut lebih tinggi daripada media sosial lain yakni Twitter/X dan Snapchat di wilayah yang sama.
Mengingat AS, Inggris, dan Perancis hanya mencakup kurang dari 15 persen dari seluruh pengguna TikTok di dunia, jejak karbon keseluruhan platform tersebut kemungkinan sekitar 50 juta metrik ton setara karbon dioksida.
Penghitungan jejak karbon tersebut belum mencakup sumber emisi lainnya seperti ruang perkantoran dan perjalanan karyawan.
Sebagai konteks, emisi karbon tahunan Yunani untuk tahun 2023 adalah 51,67 juta metrik ton karbon dioksida.
Baca juga: Karena Perubahan Iklim, Padang Tundra Arktik Lepaskan Lebih Banyak Emisi
TikTok memiliki 1 miliar pengguna di seluruh dunia. Penghitungan Greenly menempatkan jejak karbon media sosial tersebut tepat di atas Instagram.
Padahal, Instagram memiliki pengguna hampir dua kali lipat daripada TikTok.
Lantas mengapa demikian? Jawabannya terletak pada sifat adiktif yang unik dari platform TikTok.
Rata-rata pengguna Instagram menghabiskan 30,6 menit di aplikasi tersebut dalam sehari. Sementara itu, rata-rata pengguna TikTok menghabiskan 45,5 menit.
Pengguna TikTok juga menghasilkan emisi tertinggi kedua per menit menurut analisis Greenly. Setiap satu menit yang dihabiskan di TikTok, ada 2,921 gram karbon dioksida yang lepas ke atmosfer.
Baca juga: Studi: Pariwisata Sumbang 9 Persen dari Total Emisi Dunia
Greenly menyebutkan, setiap pengguna TikTok rata-rata menghasilkan emisi gas rumah kaca setara dengan mengendarai mobil bertenaga bensin sejauh 197 kilometer setiap tahun.
CEO Greenly Alexis Normand mengatakan, tingginya waktu yang dihabiskan di TikTok tak bisa lepas dari adiksi yang dihasilkan kepada pengguna.
"Kecanduan juga memiliki konsekuensi dalam hal memberi insentif kepada orang untuk menghasilkan lebih banyak jejak (karbon) secara individual," kata Normand, sebagaimana dilansir dari The Guardian, Kamis (12/12/2024).
Di satu sisi, TikTok telah berkomitmen untuk menjadi netral karbon pada tahun 2030.
Perusahaan tersebut memiliki rencana yang disebut "Project Clover" yang diterapkan mulai 2023 untuk mencapai tujuan netral karbon sambil meningkatkan keamanan data secara keseluruhan.
Namun, baru ada satu pusat data terbarukan yang telah dibangun TikTok hingga saat ini yang terletak di Norwegia yang beroperasi dengan 100 persen energi terbarukan.
Baca juga: Kejar Emisi Nol, Meta Tambah Kapasitas PLTS
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya