Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Herman Agustiawan
Anggota DEN 2009-2014

Anggota Dewan Energi Nasional periode 2009-2014

Nuklir Sebagai Pilar Swasembada Energi

Kompas.com, 20 Januari 2025, 10:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Hal ini akan berdampak pada perekonomian nasional melalui partisipasi industri domestik dalam rantai pasok komponen PLTN. Sehingga, pemanfaatan energi nuklir menjadi kontributor utama bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Dalam UU Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Indonesia berencana mengoperasikan PLTN komersial pertama pada periode ke-2 yaitu 2030 - 2034, dengan ekspansi hingga 2040; dan pada periode ke-4 (2040 - 2045) RPJPN mengamanatkan untuk mencapai kemandirian teknologi, yaitu memiliki kemampuan membangun PLTN sendiri.

Pengalaman Indonesia mengelola tiga reaktor penelitian, yakni Triga 2000 di Bandung - Jawa Barat, Kartini di D.I. Yogyakarta dan G.A. Siwabessy di Sepong - Banten menunjukkan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dalam pemanfaatan teknologi nuklir.

Institusi seperti BRIN dan Perguruan Tinggi seperti UGM, ITB, serta STTN (Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir) menghasilkan 100 - 200 ahli nuklir per tahun, akan memberikan fondasi kuat untuk pengembangan energi nuklir ke depan.

Keberhasilan Korea Selatan melokalisasi lebih dari 90 persen komponen PLTN dalam tiga dekade bisa ditiru dan dijadikan model.

Pemilihan teknologi strategis, termasuk reaktor canggih Generasi IV seperti Molten Salt Reactors (MSR) yang diusung oleh ThorCon Power Indonesia dan High-Temperature Gas-cooled Reactors (HTGR) yang diusung oleh BRIN, keduanya akan memanfaatkan SDM lokal.

Peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) penting untuk kemandirian teknologi. Pelajaran dari PLTN Akkuyu di Turki menunjukkan betapa pentingnya keterlibatan SDM lokal. Indonesia harus memprioritaskan alih teknologi dan kemampuan produksi domestik.

Tantangan seperti kebutuhan baja berkekuatan tinggi untuk reaktor jenis MSR dan HTGR harus dapat diproduksi di dalam negeri. Proses fabrikasi bahan bakar yang lebih sederhana pada reaktor ini juga mendukung kandungan komponen lokal.

Baca juga:

Rekomendasi

Terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, kepastian kebijakan pemerintah terkait operasionalisasi PLTN pertama pada 2030-2034 dan kemandirian teknologi pada 2045.

Kedua, model IPP dan PPA harus mampu menarik investasi swasta melalui PPA yang berjangka waktu panjang.

Ketiga, memastikan terjadinya proses alih teknologi termasuk pemilihan teknologi yang sesuai dengan kemampuan domestik, seperti MSR dan HTGR.

Alih teknologi tidak hanya sebatas pada yang tertulis dalam perjanjian saja, namun teknologi terkadang harus “dibeli” atau (bahkan) “dicuri”. Sehingga, menjalin kemitraan dengan negara yang betul-betul bersedia mentransfer teknologinya menjadi sangat krusial.

Terakhir, harga listrik yang kompetitif, di bawah 7 sen dollar AS per kWh, setara dengan harga listrik dari pembangkit yang berbahan bakar fosil.

Berikut adalah Kementerian, Lembaga dan BUMN Indonesia yang telah menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan nuklir internasional:

  1. ThorCon Power telah menadatangani MoU dengan DEN (Proposal PLTN #1)
  2. NuScale Power dengan Indonesia Power (feasbility study)
  3. Copenhagen Atomics dengan Pupuk Indonesia
  4. Korea Hydro & Nuclear Power Co., Ltd., dengan Nusantara Power
  5. Rosatom dengan BATAN
  6. China National Nuclear Corporation (masih diskusi) .

Hingga saat ini, baru ThorCon Power yang telah menyampaikan proposal resmi dan melakukan persiapan konsultasi perijinan dengan BAPETEN.

Kolaborasi ini mencerminkan komitmen Indonesia dalam mengadopsi teknologi canggih pemanfaatan energi nuklir sebagai pilar strategis untuk mewujudkan swasembada energi dan Indonesia Emas 2045.

Baca juga: DEN: Tak Ada Alasan untuk Tidak Kembangkan Energi Nuklir

Kesimpulannya, terwujudnya energi nuklir sebagai pilar swasembada energi dapat memastikan kemandirian energi yang berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada impor energi.

Penguatan kebijakan, peningkatan TKDN, alih teknologi, dan kemitraan strategis, memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain global energi bersih.

"Indonesia siap menjadi pemimpin di bidang nuklir! Energi bersih, lingkungan terjaga, dan rakyat sejahtera. Menuju Indonesia Emas 2045 yang gemilang!"

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau