Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mundurnya AS dari JETP Dinilai Tak Berdampak Signifikan ke Transisi Energi RI

Kompas.com, 8 Maret 2025, 17:17 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Amerika Serikat mengumumkan mundur dari Just Energy Transition Partnership (JETP) seiring dengan kebijakan efisiensi yang dilakukan Presiden AS Donald Trump. 

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai mundurnya Amerika Serikat dari Just Energy Transition Partnership (JETP) tidak berdampak signifikan ke transisi energi Indonesia. Sebab, JETP saat ini sudah memasuki fase implementasi.

“Fase implementasi itu sudah ada tiga hal yang memang harus terjadi, pertama adalah pelaksanaan dari proyek-proyek yang sudah disusun di dalam Comprehensive Investment Policy Plan (CIPP), kan sudah ada investment focus area,” ungkap Fabby saat dihubungi, Sabtu (8/3/2025).

Baca juga: Sumber Energi Baru Tersembunyi di Pegunungan

Proyek tersebut mencakup pembangkit energi terbarukan. Fabby berpandangan yang terpenting saat ini ialah dorongan pemerintah Indonesia implementasi proyek CIPP.

“Implementasinya berarti harus ada proyek. Daftar proyek yang ada di dalam CIPP itu harus dimasukkan ke dalam yang paling dekat adalah RUPTL PLN karena di CIPP semuanya proyek on grid,” jelas Fabby.

On grid merupakan sistem pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung langsung dengan jaringan listrik utama atau grid. Langkah selanjutnya, melelang proyek lalu masuk ke tahap pendanaan.

“Di tahap pendanaan inilah yang pinjaman-pinjaman untuk konsesional finance itu bisa diberikan. Jadi menurut saya bolanya itu sudah lebih banyak di pemerintah Indonesia sekarang untuk mengeksekusi CIPP,” papar Fabby.

Dia menyampaikan bahwa salah satu yang dibatalkan imbas keluarnya AS dari JETP, adalah bantuan teknis dalam bentuk hibah yang sebelumnya diberikan melalui dua program utama.

Program pertama yakni Sustainable and Inclusive Access to Renewable Energy (SINAR), program kerja sama dengan USAID yang sudah berjalan selama tiga tahun dan dijadwalkan berakhir akhir tahun ini.

Kedua, Net Zero World yang dilaksanakan oleh Departemen Energi Amerika Serikat melalui National Lab.

Program itu bertujuan membantu negara-negara termasuk Indonesia, dalam mencapai target net zero emission.

“Memang kita akan kehilangan itu. Tetapi kalau dilihat pembiayaan yang Amerika kan komitmennya 2 miliar dolar, yang 1 miliar dolar dalam bentuk garansi pinjaman lewat World Bank,” ucap Fabby.

Adapun kesepakatan pendanaan telah disetujui sebelum berakhir masa pemerintahan Presiden Joe Biden. Maka, dengan adanya kesepakatan yang telah ditandatangani penghentian program hibah terhadap pembiayaan Indonesia tidak terlalu berdampak signifikan.

Baca juga: BRIN Gaet Korsel untuk Kembangkan Teknologi Energi Baru Terbarukan

Terlebih, sebagian besar program pembiayaan disalurkan melalui Development Finance Corporation (DFC), salah satunya proyek PLTP Ijen senilai 145 juta dolar AS.

“Maksud saya ada Amerika di JETP maupun enggak, sepanjang proyeknya bankable, sepertinya DFC akan tetap bisa membiayai bersama dengan konsorsium bank lain,” tutur Fabby.

Alasan terakhir, yaitu negara-negara yang tergabung di International Partners Group (IPG), sebagai mitra dalam JETP tetap berkomitmen memberikan dukungan.

“Dan yang menggantikan Amerika untuk menjadi lead untuk IPG, untuk JETP Indonesia itu Jerman, dan Jerman sudah menyatakan mengganti Amerika. Prosesnya di IPG-nya sudah berjalan,” terang dia.

Amerika Serikat Undur Diri

Sebelumnya, Kompas.com memperoleh dokumen dari Duta Besar AS untuk Indonesia Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Kamala Shirin Lakhdhir, kepada pemerintah RI yang menyatakan bahwa pihaknya keluar dari Just Energy Transition Partnership (JETP).

"Staf saya di kedutaan dan saya tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan Anda dan tim Anda untuk memperkuat kemitraan AS-Indonesia," kata Kamala dalam keterangan tertulis yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri H E Sugiono, Jumat (7/3/2025).

Untuk diketahui, JETP yang terdiri dari 10 negara donor pertama kali diluncurkan pada pembicaraan iklim PBB di Glasgow, Skotlandia, tahun 2021.

Baca juga: AS Mundur dari JETP, Kedubes Pastikan Kerjasama Energi dengan RI Tetap Jalan

Afrika Selatan, Indonesia, Vietnam, dan Senegal kemudian diumumkan sebagai penerima manfaat pertama dari pinjaman, jaminan keuangan, dan hibah untuk beralih dari batu bara.

Dikutip dari Reuters, Joanne Yawitch, kepala Unit Manajemen JETP di Afrika Selatan menyebut bahwa AS telah mengomunikasikan penarikannya dari rencana tersebut di wilayah itu.

Komitmen AS untuk Indonesia dan Vietnam melebihi 3 miliar dollar AS secara total, sebagian besar melalui pinjaman komersial.

Sementara untuk Afrika Selatan, komitmen AS adalah 1,063 miliar dolar AS dari yang sebelumnya 11,6 miliar dolar AS. Sejak Presiden Donald Trump menjabat, AS telah memangkas bantuan asing dan memperjuangkan pengembangan bahan bakar fosil.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
AI, Energi Hijau, dan Transisi Ekonomi Berisiko Tinggalkan Komunitas Rentan
Pemerintah
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
Anestesi Hijau Bisa Pangkas Emisi dan Hemat Biaya RS Hampir 40 Persen
LSM/Figur
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Studi: Peduli Perubahan Iklim Tidak Selalu Berarti Pilih Liburan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Target Nol Bersih Melemah, Bank-Bank Mulai Tarik Diri dari Komitmen Iklim
Swasta
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Anak Usaha AALI Bantu Tangani Karhutla di Lahan Warga
Swasta
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
UMKM Binaan Astra Catat Potensi Transaksi Rp 104,9 Miliar di TEI 2026
Desa Sejahtera Astra
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Lebih dari 800 Perusahaan Terapkan Standar Pelaporan Alam TNFD
Pemerintah
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
WHO Desak Tindakan Tegas Atasi Bahaya Keracunan Timbal
Pemerintah
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Kisah Di Balik Kaltim Dapat Triliunan Dana Karbon dari Bank Dunia...
Pemerintah
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau