Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Sektor Farmasi Meningkat Dua Kali Lipat dalam 24 Tahun

Kompas.com, 22 Maret 2025, 16:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Orang-orang mungkin selama ini tidak mempertimbangkan konsekuensi lingkungan saat mengonsumsi obat pereda nyeri, antibiotik, atau obat resep.

Namun ternyata sektor farmasi pun memiliki jejak karbon yang signifikan.

Studi dari University of Leiden di Belanda menemukan emisi gas rumah kaca yang terkait dengan sektor farmasi telah tumbuh jauh lebih cepat daripada sebagian besar industri lain dan rata-rata global.

Studi yang dipublikasikan di The Lancet Planetary Health mengungkapkan emisi sektor farmasi meningkat hampir dua kali lipat dalam 24 tahun.

Baca juga: Setengah Eksekutif Energi Pesimis Capai Nol Emisi pada 2070

Mengutip Phys, Sabtu (22/3/2025) antara tahun 1995 hingga 2019, emisi dari konsumsi farmasi meningkat sebesar 77 persen.

"Jika Anda melihat semua jenis konsumsi di seluruh dunia, peningkatannya hanya 49 persen," ungkap Rosalie Hagenaars, penulis utama studi.

Dalam studinya, Hagenaars dan rekan-rekannya menggunakan kumpulan data dari OECD untuk menganalisis76 negara sekaligus menggabungkan data dari seluruh dunia.

Ini adalah pertama kalinya para peneliti mampu menganalisis tren emisi terkait farmasi pada skala tersebut menggunakan data primer.

"Sampai saat ini, sebagian besar estimasi emisi farmasi bersifat sepotong-sepotong, berfokus pada masing-masing obat, bukan pada keseluruhan sistem," kata Hagenaars.

Basis data yang diperluas oleh OECD, dengan menambahkan statistik dari Afrika dan Asia Tenggara, memungkinkan gambaran yang lebih lengkap.

Peningkatan Emisi

Lantas apa penyebab peningkatan emisi di sektor farmasi?

Alasan utama peningkatan ini adalah konsumsi farmasi yang terus meningkat. Meskipun akses yang lebih besar terhadap obat-obatan bermanfaat, hal itu juga menyebabkan pemborosan yang signifikan.

"Dari penelitian lain, kami mengetahui bahwa pemborosan farmasi dapat berkisar antara 3 hingga 50 persen", kata Hagenaars.

Ia menyebutkan persediaan yang kedaluwarsa, resep yang berlebihan, dan ukuran kemasan yang besar sebagai kontributor utama. Di banyak negara, terdapat pilihan terbatas untuk mengembalikan obat-obatan yang tidak terpakai.

Selain limbah, produksi farmasi membutuhkan banyak energi. Dan seiring dengan globalisasi produksi, lebih dari setengah emisi terkait farmasi kini terjadi di luar negara tempat obat-obatan tersebut dikonsumsi. Tanpa pengawasan dan akuntabilitas yang lebih baik, emisi ini sebagian besar tetap tidak terlihat.

Mengurangi solusi dengan fokus pada meminimalkan limbah pun menjadi pilihan terbaik untuk mengurangi jejak gas rumah kaca sektor farmasi.

Pemerintah dapat memainkan peran penting dengan memulai program untuk mengurangi limbah atau membuat skema untuk mengumpulkan obat-obatan yang tidak terpakai.

"Tren ini tidak akan dimulai dengan sendirinya, jadi kita memerlukan intervensi pemerintah," papar Hagenaars.

Baca juga: PBB: Pengurangan Jejak Karbon Bangunan Perlu Segera Dilakukan

Negara-negara dapat belajar dari satu sama lain, karena emisi farmasi sangat bervariasi. Di negara-negara berpenghasilan tinggi, jejak gas rumah kaca per orang sembilan hingga sepuluh kali lebih tinggi daripada di negara-negara berpenghasilan rendah.

Bahkan di antara negara-negara berpenghasilan tinggi, terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa praktik resep, metode produksi, dan kebijakan yang lebih baik dapat mengurangi emisi tanpa mengurangi akses ke obat-obatan.

Perusahaan pun juga perlu berbagi lebih banyak data.

Laporan dari perusahaan dapat membantu memberikan gambaran yang lebih jelas dan lebih rinci tentang dampak sektor tersebut.

Namun, hal ini mengharuskan perusahaan farmasi untuk mengungkapkan lebih banyak detail tentang emisi mereka. Hal itu tetap menjadi tantangan karena kerahasiaan paten dan pembatasan lainnya.

Baca juga: Ukur Emisi, Google Beri Data Jejak Karbon pada Pengiklan

Selain itu perusahaan juga perlu melaporkan emisi Cakupan 3.

Emisi ini disebabkan secara tidak langsung di hulu atau hilir dalam rantai produksi. Emisi Cakupan 3 mencakup lebih dari 80 persen dari total emisi di lebih dari setengah wilayah yang diteliti.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau