Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Deterjen dari Kayu dan Jagung Solusi Pembersih Ramah Lingkungan

Kompas.com, 24 Maret 2025, 18:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Produk pembersih merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Sayangnya, bahan kimia yang membuat produk-produk tersebut efektif seperti alkilfenol polietoksilat dan fosfat sulit diurai atau bahkan dapat memicu pertumbuhan alga yang mengubah ekosistem.

Upaya yang telah dilakukan saat ini untuk mengganti pembersih komersial berbahaya dengan alternatif alami pun sudah coba dilakukan dengan hasil yang beragam.

Namun, hasil yang didapatkan belum sesuai harapan sehingga malah mengakibatkan biaya produksi dan eceran yang tinggi serta potensi kerusakan pada permukaan dan kain.

Sehingga pembersih alami yang murah, mudah diproduksi, efektif dan ramah lingkungan pun menjadi hal yang penting.

Baca juga: BRIN Kembangkan Material Sel Surya Ramah Lingkungan Bebas Timbal

Untuk mengatasi kebutuhan tersebut peneliti dari Tianjin University of Science and Technology di China mengembangkan detergen ramah lingkungan yang terbuat dari sumber daya terbarukan yang melimpah seperti serat kayu halus dan protein jagung.

Mengutip Phys, Senin (24/3/2025) peneliti menggabungkan nanofiber selulosa dari kayu dengan protein zein dari jagung untuk menciptakan emulsi.

Selulosa dapat menarik dan menolak air, sehingga efektif dalam membentuk emulsi tersebut dan menarik berbagai jenis noda.

Di sisi lain, protein zein membantu menstabilkan emulsi dan memerangkap minyak.

Peneliti kemudian menguji kapasitas pembersihan detergen selulosa/zein pada kain katun dan piring yang terkena noda tinta, minyak cabai, dan pasta tomat.

Mereka membandingkan kinerja deterjen baru mereka dengan bubuk pencuci dan larutan sabun cuci piring komersial dengan air deionisasi.

Deterjen selulosa/zein sedikit kurang efektif dalam membersihkan kain katun dibandingkan dengan larutan bubuk pencuci dengan pengenceran yang sama (deterjen 1 persen atau bubuk menurut beratnya).

Namun, pada konsentrasi 5 persen, produk para peneliti lebih efektif daripada larutan bubuk pencuci 1 persen dalam membersihkan setiap noda dari kain.

Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa deterjen selulosa/zein tidak meninggalkan residu pada kain katun setelah dicuci dan dibilas, yang menunjukkan bahwa deterjen tersebut tidak akan merusak kain.

Baca juga: BRIN Kembangkan Sel Surya Mikroalga, Disebut Lebih Ramah Lingkungan

Para peneliti juga menguji kapasitas deterjen alami untuk menghilangkan noda minyak cabai dari piring yang terbuat dari keramik, baja tahan karat, kaca, dan plastik.

Sekali lagi, deterjen selulosa/zein membersihkan hampir sama baiknya dengan sabun cuci piring komersial dengan pengenceran yang sama, dan pada konsentrasi 5 persen, produk mereka lebih unggul.

Pada piring baja tahan karat, misalnya, larutan selulosa/zein 5 persen menghilangkan 92 persen noda dibandingkan dengan 87 persen dengan larutan sabun cuci piring komersial 1 persen.

Hasil ini menunjukkan bahwa deterjen alami yang terbuat dari serat kayu dan jagung dapat menjadi alternatif yang efisien, hemat biaya, dan berkelanjutan untuk bahan pembersih sintetis yang saat ini beredar di pasaran.

Studi dipublikasikan di Langmuir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau