Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 29 Maret 2025, 15:33 WIB
Sri Noviyanti,
Hotria Mariana,
Aditya Mulyawan

Tim Redaksi

Tidak hanya di langit taman, di dekat sungai, biawak air sesekali muncul di antara bebatuan. Dulu, reptil ini sering diburu, tetapi kini keberadaannya mulai dihargai. Masyarakat setempat turut menjaga kelestarian taman dengan memastikan tidak ada perburuan liar yang terjadi di sekitar taman.

Mengukur kualitas air Sungai Pusur

Lebih dari sekadar ruang terbuka hijau, Taman Kehati AQUA juga jadi living library. Fungsi ini tidak hanya terlihat dari katalog vegetasi dan satwa yang ada, tapi juga keberadaan Laboratorium Biotilik. Letaknya persis di tepi Sungai Pusur.

Di area tersebut, terdapat papan informasi yang menjelaskan bagaimana makroorganisme air dapat menjadi indikator kualitas sungai.

Menurut Nanda, biotilik adalah metode pemantauan kualitas air yang tidak membutuhkan alat mahal. Sebab, pelaksanaannya cukup dengan menyaring air sungai di area riparian dan mengamati makhluk kecil yang tersaring. Dari situ, bisa diketahui apakah air masih bersih atau sudah mulai tercemar.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, makroorganisme yang menjadi indikator kebersihan sungai terbagi dalam dua kelompok.

Pertama, Ephemeroptera, Plecoptera, and Trichoptera (EPT). Kelompok ini terdiri dari serangga air, seperti capung dan larva lalat air. Serangga ini hanya dapat hidup di air yang kaya oksigen dan minim pencemaran.

Kedua, non-EPT. Kelompok ini meliputi berbagai jenis siput air, cacing merah, dan larva serangga tertentu. Jika ditemukan dalam jumlah besar, bisa menjadi pertanda bahwa air mulai mengalami degradasi kualitas.

Baca juga: Ubah Sampah Jadi Berkah, Kisah Bank Sampah Semutharjo Selamatkan Sungai Pusur

Tim Kompas.com berkesempatan melakukan uji biotilik dengan menyaring air di riparian sungai. Hasilnya, ditemukan siput-siput kecil dan beberapa anakan udang.

Berdasarkan indikator biotilik, keberadaan siput air menunjukkan bahwa air masih dalam kondisi cukup baik, meskipun mungkin sudah mengalami sedikit pencemaran organik.

Nanda menjelaskan bahwa selain makroorganisme, vegetasi riparian di sepanjang sungai juga berperan dalam menjaga kualitas air. Tumbuhan ini mampu menyerap polutan dan menyaring air sebelum masuk ke aliran sungai, membantu proses self-recovery—kemampuan alami sungai untuk memperbaiki ekosistemnya sendiri.

"Sungai punya kemampuan self-recovery. Namun, jika ekosistemnya rusak, kemampuan tersebut tidak akan optimal. Vegetasi riparian di sepanjang bantaran sungai inilah yang membantu menyaring polutan sebelum air mengalir lebih jauh,” terang Nanda.

Papan indikator di Laboratorium Biotilik Taman Kehati AQUA Klaten menampilkan jenis-jenis makroorganisme air sebagai penanda tingkat pencemaran sungai.KOMPAS.com/Hotria Mariana Papan indikator di Laboratorium Biotilik Taman Kehati AQUA Klaten menampilkan jenis-jenis makroorganisme air sebagai penanda tingkat pencemaran sungai.

Selain dipakai untuk memantau kualitas air Sungai Pusur, laboratorium biotilik Taman Kehati AQUA Klaten juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung, terutama pelajar dan mahasiswa yang ingin memahami lebih dalam tentang ekologi perairan.

Ekowisata river tubing di Sungai Pusur

Sungai Pusur yang melintasi Taman Kehati tidak hanya menjadi pusat penelitian ekologi, tetapi juga berkembang sebagai lokasi ekowisata, seperti river tubing.

Sejak beberapa tahun terakhir, kata Nanda, wisata river tubing mulai dikelola secara profesional di sungai ini. Wisatawan bisa menyusuri aliran sungai dengan ban besar, menikmati arus yang cukup menantang dengan pemandangan vegetasi riparian yang masih asri.

Baca juga: Menjaga Kemurnian Sumber Air Jadi Investasi untuk Masa Depan

“Dulu, Sungai Pusur dipenuhi sampah. Namun, sejak river tubing mulai berjalan, masyarakat jadi lebih peduli terhadap kebersihan sungai,” ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
PepsiCo, BWC, dan Pemkot Denpasar Ubah Sampah Bekas Kemasan Jadi Papan Penanda Jalan
Swasta
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
KKP Siapkan 6 Proyek Prioritas Karbon Biru, Tersebar di 6 Wilayah
Pemerintah
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau