Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Valuasi Ekonomi Tunjukkan Raja Ampat Lebih Kaya dari Hasil Tambangnya

Kompas.com, 18 Juni 2025, 11:09 WIB
Add on Google
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Akademisi IPB University dari Sekolah Bisnis, Nimmi Zulbainarn, menegaskan bahwa ekosistem Raja Ampat memiliki nilai ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan, jauh melampaui royalti sesaat dari ekstraksi nikel.

Pernyataan ini disampaikannya menanggapi maraknya laporan terkait alih fungsi lahan hijau di Pulau Gag, Kawe, Manuran, dan sejumlah kawasan lain di Raja Ampat dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, Raja Ampat yang selama ini dikenal sebagai simbol megabiodiversitas laut dunia—dengan lebih dari 500 spesies karang dan ribuan jenis ikan—seharusnya dilindungi, alih-alih dijadikan sasaran eksploitasi tambang nikel. Aktivitas tersebut justru menimbulkan gejolak serius dan krisis kepercayaan terhadap arah pembangunan nasional.

Nimmi menyebut, masalah utamanya bukan hanya soal ada atau tidaknya izin pertambangan, tetapi absennya pendekatan kebijakan berbasis valuasi ekonomi yang komprehensif. Valuasi ekonomi, tegasnya, tidak sekadar mencari keuntungan maksimum, tetapi menyangkut upaya menjaga kelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan.

Baca juga: Raja Ampat Bisa Hidup Tanpa Tambang dan Tetap Hasilkan Rp 300 Miliar Setahun

“Pendekatan valuasi menyeluruh meliputi nilai penggunaan langsung seperti perikanan dan pariwisata, nilai tidak langsung seperti perlindungan pantai dan penyerap karbon, serta nilai eksistensi seperti keberlanjutan ekosistem,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis di laman IPB University, Selasa (17/6/2025).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa valuasi ekonomi bukan sekadar mengonversi nilai lingkungan menjadi angka rupiah, tetapi merupakan pendekatan ilmiah dan normatif untuk menempatkan lingkungan di pusat pertimbangan kebijakan.

Jika pembangunan hanya dipahami sebagai akumulasi kapital dan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, kata Nimmi, maka kasus Raja Ampat menjadi cerminan nyata dari kegagalan memahami esensi keberlanjutan.

Selain itu, menurut Nimmi, alih fungsi ekosistem di wilayah pesisir Raja Ampat juga menunjukkan adanya kontradiksi kebijakan. Di satu sisi, pemerintah mempromosikan ekonomi biru dan pariwisata berkelanjutan, namun di sisi lain tetap mengizinkan aktivitas ekstraktif di kawasan yang sama atas nama mendorong perekonomian.

Padahal, sebuah studi empiris menunjukkan bahwa setiap hektare terumbu karang di Raja Ampat mampu menghasilkan miliaran rupiah per tahun melalui pariwisata bahari, perikanan tangkap, dan jasa ekosistem lainnya.

“Aktivitas pertambangan berpotensi merusak seluruh potensi tersebut,” ujar Nimmi.

Ia menambahkan, bahwa sedimentasi, kerusakan karang, dan polusi air yang ditimbulkan dapat menggerus basis ekonomi lokal serta merusak integritas ekologis yang menjadi fondasi keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Baca juga: Konservasi Indonesia: Raja Ampat Tak Boleh Dikelola Buat Ekonomi Sesaat

Nimmi juga menyoroti lemahnya tata kelola lingkungan. Banyak pertambangan yang tidak mempertimbangkan daya dukung lingkungan, dan ini menjadi bukti lemahnya penegakan prinsip kehati-hatian.

“Banyak izin tambang di masa lalu dikeluarkan tanpa Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yang partisipatif dan ilmiah, bahkan sebelum kajian valuasi ekonomi yang kredibel,” ujarnya.

Sementara itu, dalam konteks kebijakan publik, menurutnya, valuasi ekonomi seharusnya digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan agar eksternalitas negatif dari setiap kebijakan bisa diinternalisasi.

Jika kerusakan lingkungan akibat tambang dihitung sebagai biaya nyata—seperti kerugian produksi nelayan, biaya pemulihan terumbu karang, atau penurunan kualitas hidup masyarakat pesisir—maka menjaga kelestarian lingkungan akan tampak jauh lebih rasional secara ekonomi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau