Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dekarbonisasi Buka Peluang Indonesia Pimpin Industri Semen Hijau

Kompas.com - 21/06/2025, 17:08 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu produsen semen hijau di Asia Tenggara.

Research Associate Climate Policy Research Unit CSIS Indonesia, Via Azlia, dalam peluncuran Laporan Perdagangan dan Investasi Berkelanjutan Indonesia 2025 yang dirilis CSIS di Jakarta, Jumat (20/6/2025), menjelaskan bahwa Indonesia adalah salah satu negara penghasil produksi semen terbesar di kawasan, dengan kapasitas lebih dari 100 juta ton per tahun.

Potensi ini dapat dioptimalkan sebagai upaya dekarbonisasi industri nasional sekaligus membuka peluang besar di pasar global yang kian menuntut produk berkelanjutan.

Via menambahkan sektor semen dan pupuk, bersama besi dan baja, menyumbang hampir 82 persen dari total emisi sektor industri dan mengonsumsi hingga 85 persen batu bara.

Saat ini, PT Semen Indonesia telah menjadi pelopor dan produsen utama dalam produksi semen hijau di Indonesia.

“Sebagai produsen regional utama, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi pionir dalam pengembangan semen hijau (green cement) yang kompetitif, sekaligus mendorong transisi industri secara berkelanjutan dan inklusif,” demikian laporan CSIS.

Baca juga: Isu Emisi Karbon Tenggelam

“Untuk itu, pendekatan dan upaya seperti penggunaan bahan bakar alternatif, pengurangan penggunaan klinker97, peningkatan efisiensi energi, adopsi teknologi CCS, serta pengembangan label dan sertifikasi semen hijau untuk transparansi emisi produk menjadi relevan untuk Indonesia ke depan,” kata laporan seperti dikutip Antara.

Selain semen, industri pupuk juga mulai menunjukkan arah yang serupa. Laporan CSIS menyebutkan bahwa produksi green ammonia oleh PT Pupuk Indonesia adalah contoh konkret bahwa sektor ini memiliki potensi besar untuk mentransformasi sistem produksinya agar lebih berkelanjutan.

Indonesia merupakan salah satu negara produsen pupuk urea terbesar di Asia Tenggara, meskipun masih bergantung pada impor untuk jenis pupuk lainnya.

Laporan CSIS mengidentifikasi bahwa tantangan utama industri pupuk ke depan adalah menurunkan intensitas emisinya sejalan dengan meningkatnya tuntutan global akan produk-produk rendah karbon. Dalam konteks ini, green ammonia mulai diposisikan sebagai komoditas strategis dunia, tidak hanya sebagai pupuk yang ramah lingkungan, tetapi juga sebagai bahan bakar alternatif, terutama di sektor kelistrikan dan maritim.

Sejumlah negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara di Uni Eropa telah memasukkan green ammonia dalam strategi dekarbonisasi energi mereka.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk masuk dalam rantai pasok global green ammonia, mengingat cadangan energi terbarukan yang melimpah dan pengalaman dalam produksi pupuk rendah karbon.

Dalam COP29 tahun 2024, Indonesia telah meluncurkan inisiatif GAIA (Green Ammonia Initiative from Aceh) oleh PT Pupuk Indonesia, yang merupakan fasilitas hibrid pertama di dunia yang mengombinasikan energi terbarukan dan konvensional dalam produksi amonia hijau.

Baca juga: Emisi Semen Berkurang lewat Elektrifikasi dan Teknologi Penangkap Karbon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Swasta
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
LSM/Figur
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
LSM/Figur
Krisis Iklim Makin Parah,  WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
LSM/Figur
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pemerintah
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Pemerintah
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Swasta
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
LSM/Figur
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Pemerintah
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Pemerintah
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Pemerintah
'Circularity Tour', Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
"Circularity Tour", Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Pemerintah
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Pemerintah
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau