Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pusat Unggulan Dibentuk, Masyarakat Diajak Aktif Jaga Penyu dan Cetacea

Kompas.com, 4 Juli 2025, 15:04 WIB
Eriana Widya Astuti,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com — Untuk memastikan upaya konservasi penyu dan cetacea berjalan secara berkelanjutan, WWF bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pelaksanaan Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Penyu dan Cetacea 2025–2029 dengan membentuk Center of Excellence (CoE) di tiga wilayah.

National Coordinator for Marine ETP Species WWF Indonesia, Ranny R. Yuneni, mengatakan bahwa CoE dibentuk sebagai langkah konkret agar RAN tidak berhenti pada tataran dokumen.

Pihaknya telah melakukan pemetaan lokasi CoE.

“Di wilayah barat, letaknya ada di Anambas, Kepulauan Riau. Di wilayah tengah, letaknya di Pangumbahan, Sukabumi, Jawa Barat. Dan di wilayah timur akan dilakukan di Pulau Buru, Maluku,” ujar Ranny pada Kompas.com, Kamis (3/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa keberadaan CoE akan diperkuat dengan serangkaian program yang melibatkan masyarakat pesisir dan bekerja sama dengan berbagai universitas.

Program ini mencakup riset ekologi untuk memahami ekosistem pendukung pelestarian penyu dan cetacea, edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, serta pelibatan langsung agar masyarakat merasa menjadi bagian dari upaya konservasi.

Selain itu, pengembangan teknologi juga menjadi bagian penting. Ranny menyebut program pelatihan kepada pengelola dan pemangku kepentingan pun perlukan perlu dilakukan untuk mendukung keberhasilan konservasi.

Ranny menjabarkan empat indikator keberhasilan yang digunakan WWF dalam konservasi ini.

Pertama, indikator biologis yang mencakup peningkatan jumlah sarang dan tukik, penurunan angka perburuan (poaching), serta pengurangan insiden bycatch.

Kedua, indikator sosial, yaitu meningkatnya partisipasi masyarakat dalam konservasi.

Ketiga, indikator kelembagaan berupa penguatan kebijakan lokal dan nasional.

Dan keempat, pengembangan teknologi yang mendukung keberlanjutan konservasi.

Baca juga: Melihat Konservasi Penyu Pulau Sangalaki di Timur Kalimantan

“Keberhasilan konservasi ini tidak hanya memberikan manfaat terhadap keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat,” ujar Ranny.

Menurutnya, jika indikator biologis tercapai, peningkatan jumlah penyu dan cetacea akan mendorong tumbuhnya ekowisata yang berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.

Tercapainya indikator sosial seperti partisipasi masyarakat akan berdampak pada keseimbangan ekosistem laut. Penyu dapat berperan optimal menjaga kesehatan terumbu karang dan padang lamun, sedangkan cetacea menjaga rantai makanan dan penyebaran nutrisi. Keduanya penting bagi keberlanjutan sektor perikanan.

“Meningkatnya nilai dari spesies tersebut juga menjadi kebanggaan masyarakat lokal,” ujarnya.

Meski demikian, Ranny menyebut masih rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat sebagai tantangan terbesar dalam upaya ini, sehingga bukan hanya menghambat keberhasilan konservasi, tetapi juga menyebabkan masih banyak penangkapan ilegal terhadap dua spesies ini.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu adanya kesadaran dan perubahan perilaku terhadap perburuan dan perdagangan ilegal satwa dilindungi serta produk turunannya. Selain itu penting juga adanya penegakkan hukum terhadap perdagangan satwa liar yang di lindungi oleh aparat.

Ia menekankan pentingnya edukasi yang menggugah agar masyarakat terdorong untuk mengambil peran, termasuk sebagai first responder dalam kasus keterdamparan satwa, melalui pelatihan dasar dan pendampingan oleh pihak yang memiliki tugas khusus di bidang ini.

Lebih jauh, Ranny menekankan bahwa masyarakat juga perlu dibekali keterampilan untuk memanfaatkan kehadiran penyu dan cetacea secara bertanggung jawab, misalnya melalui ekowisata yang memperhatikan kesejahteraan satwa (animal welfare), bukan sekadar eksploitasi.

Baca juga: Lindungi Hiu Paus, Indonesia dan Timor Leste Rancang Konservasi Lintas Batas

Agar RAN tidak hanya menjadi dokumen formal, Ranny juga menyebut perlunya penugasan yang jelas pada setiap instansi pelaksana sesuai peran masing-masing. Hal ini harus didukung oleh pendanaan yang terencana dan berkelanjutan, serta pelaksanaan monitoring dan evaluasi secara berkala.

Selain itu, publikasi atas kegiatan dan capaian konservasi juga perlu ditingkatkan, termasuk menyoroti keberhasilan di lapangan agar bisa menjadi inspirasi bagi wilayah lain.

Ranny menutup dengan peringatan bahwa jika strategi ini tidak dijalankan secara serius, maka risiko jangka panjang akan menghantui ekosistem laut Indonesia dan masyarakat pesisir.

“Degradasi parah akan terjadi karena minimnya peran penyu dan cetacea. Dalam jangka pendek, populasinya akan terus menurun, dan dalam jangka panjang, kedua spesies ini terancam punah,” ujarnya.

Dampaknya pun akan dirasakan langsung oleh masyarakat pesisir, yang akan kehilangan sumber daya alam penopang mata pencaharian di sektor perikanan, peluang ekonomi dari ekowisata, serta ketahanan sosial-ekologis yang selama ini bergantung pada kesehatan laut.

Sebelumnya, KKP telah mengumumkan inisiasi pembentukan RAN konservasi penyu 2025–2029 bersama WWF Indonesia dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara.

Proses penyusunannya melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah pusat dan daerah, peneliti BRIN, sejarawan, hingga organisasi masyarakat sipil.

Baca juga: Melihat Konservasi Penyu Pulau Sangalaki di Timur Kalimantan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau