JAKARTA, KOMPAS.com - Utusan Khusus Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, mengungkapkan bahwa 40 persen daratan di dunia telah terdegradasi atau mengalami penurunan kualitas yang berpengaruh pada kehidupan lebih dari 3 miliar orang.
Kondisi tersebut terjadi karena eksploitasi hutan, pertanian tak ramah lingkungan sehingga menyebabkan lahan menjadi tandus.
"Degradasi lahan dan pengguna juga menghancurkan kemampuan alam untuk menyerap, menyimpan, dan menyaring air. Jika tanah tidak sehat, tidak akan mampu menyerap air yang kemudian mengakibatkan banjir juga kekeringan," kata Retno dalam Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia di Jakarta Pusat, Rabu (9/7/2025).
Baca juga: Studi Ungkap Kerusakan Biodiversitas Global Akibat Ulah Manusia
Dia mencatat, banjir menyebabkan kerugian hingga 550 miliar dollar AS sepanjang 2024. Sementara kekeringan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar 124 miliar dollar AS.
Di 2050 mendatang, menurut Retno, kekeringan diprediksi berdampak pada dua per tiga penduduk dunia.
"Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, El Nino menyebabkan penurunan debit air hingga 40 persen di beberapa daerah alam sungai yang tentunya akan dapat mengancam ketahanan pangan dan energi," ucap dia.
Retno lantas mengusulkan agar isu air menjadi salah satu prioritas dalam agenda pembangunan maupun politik negara. Ia berpandangan bahwa isu tersebut kerap kali tidak berampak signifikan bagi masyarakat. Maka, reformasi kebijakan manajemen air sangat diperlukan.
Baca juga: Tambang Emas di TN Meru Betiri Rusak Kualitas Air dan Habitat Satwa Dilindungi
"Kedua, penting untuk memperkuat kementerian termasuk engagement dengan masyarakat. Masyarakat memegangkan penting dalam merawat bumi, jadikan masyarakat sebagai bagian dalam proses penyelesaian masalah atau community-based solution," ujar Retno.
"Kementerian dengan pemangku kepentingan lain juga penting untuk diperkuat, termasuk dengan swasta, filantropi, termasuk nantinya kemitraan di dalam bidang investasi," imbuh dia.
Ketiga, pentingnya memobilisasi ilmu pengetahuan teknologi dan inovasi. Namun tantangannya ialah akses dan teknologi yang masih terbatas.
Baca juga: Polutan Baru Picu Krisis Air dan Kenaikan Biaya Hidup di Negara Berkembang
"Karena itu penting untuk mendorong transport teknologi global dan platform terbuka yang dapat diakses oleh semua, dari aplikasi sistem peringatan dingin berbasis komunitas hingga pengelolaan air hujan berbasis internet of things," tutur dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya