KOMPAS.com - Penggunaan turbin angin ternyata menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi beberapa orang, misalnya saja mereka cemas suara desiran yang dihasilkan dapat memengaruhi pikiran dan tubuh.
Sebuah penelitian baru kemudian mencoba menjawab kekhawatiran tersebut dengan melakukan studi yang mengukur perubahan pada otak dan kinerja seseorang saat mereka mendengarkan rekaman suara turbin yang disesuaikan dengan kondisi nyata.
Para peneliti melakukan tes sederhana untuk mengetahuinya.
Para sukarelawan secara acak mendengar suara turbin angin, suara lalu lintas jalan, atau keheningan. Selama itu, aktivitas otak dan kinerja mereka dalam menyelesaikan tugas diamati. Para peserta tidak diberi tahu suara apa yang mereka dengarkan.
Baca juga: Eropa Bakal Punya Turbin Angin dengan Bilah Kayu Terpanjang di Dunia
Melansir Earth, Kamis (28/8/2025), tim peneliti menggunakan durasi paparan di laboratorium yang singkat, yang mencerminkan pendengaran sehari-hari.
Tingkat tekanan suaranya sekitar 65 desibel, yang mirip dengan volume percakapan normal pada jarak sekitar 0,9 meter.
Tingkat suara yang diputar sesuai dengan apa yang akan Anda ukur di dekat turbin modern yang berlokasi sekitar 500 meter jauhnya, saat angin bertiup stabil.
Mereka merekam elektroensefalografi untuk melacak perubahan pada ritme otak selama tugas membaca. Setelah itu, mereka melakukan dua tes kognitif yang terkenal untuk menguji perhatian dan penalaran.
Para pendengar juga diminta untuk menilai seberapa stres atau mengganggu suara yang mereka dengar, dibandingkan dengan suara lalu lintas atau keheningan.
Berdasarkan semua pengukuran, paparan singkat terhadap suara turbin tidak mengganggu perhatian atau penalaran dibandingkan dengan kondisi lainnya. Pola gelombang otak yang menunjukkan fokus dan kontrol juga tidak berubah, yang berarti tidak ada tanda-tanda ketegangan kognitif.
Peserta juga tidak menilai suara turbin lebih membuat stres atau mengganggu dibandingkan dengan suara lalu lintas kota. Sebagian besar pendengar menggambarkan suara tersebut sebagai suara "broadband" yang stabil dan menunjukkan tingkat gangguan yang rendah.
"Meskipun hasil ini tidak bisa digeneralisasi, temuan mendukung konsep bahwa hubungan antara paparan kebisingan turbin angin dan fungsi kognitif manusia bukanlah hubungan sebab-akibat," tulis Agnieszka Rosciszewska dari Adam Mickiewicz University di Poznan (AMU).
Studi ini mendukung penelitian skala besar yang dilakukan di Kanada terhadap 1238 orang dewasa tinggal sedekat seperempat mil dari turbin.
Baca juga: Pemasangan Turbin Angin Capai Rekor pada 2024, 70 Persen dari China
Studi tersebut menemukan bahwa kualitas tidur, sakit kepala, pusing, tinnitus, dan stres yang dirasakan tidak berhubungan dengan suara turbin luar ruangan.
Lebih lanjut, studi mengenai efek kebisingan turbin ini sendiri sebenarnya masih memiliki kelemahan karena penelitian tidak membahas paparan dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu juga pemutaran suara di laboratorium tidak dapat menangkap setiap pola cuaca dan medan di luar ruangan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya