Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia

Kompas.com, 29 Agustus 2025, 19:00 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penggunaan turbin angin ternyata menimbulkan pertanyaan tersendiri bagi beberapa orang, misalnya saja mereka cemas suara desiran yang dihasilkan dapat memengaruhi pikiran dan tubuh.

Sebuah penelitian baru kemudian mencoba menjawab kekhawatiran tersebut dengan melakukan studi yang mengukur perubahan pada otak dan kinerja seseorang saat mereka mendengarkan rekaman suara turbin yang disesuaikan dengan kondisi nyata.

Para peneliti melakukan tes sederhana untuk mengetahuinya.

Para sukarelawan secara acak mendengar suara turbin angin, suara lalu lintas jalan, atau keheningan. Selama itu, aktivitas otak dan kinerja mereka dalam menyelesaikan tugas diamati. Para peserta tidak diberi tahu suara apa yang mereka dengarkan.

Baca juga: Eropa Bakal Punya Turbin Angin dengan Bilah Kayu Terpanjang di Dunia

Melansir Earth, Kamis (28/8/2025), tim peneliti menggunakan durasi paparan di laboratorium yang singkat, yang mencerminkan pendengaran sehari-hari.

Tingkat tekanan suaranya sekitar 65 desibel, yang mirip dengan volume percakapan normal pada jarak sekitar 0,9 meter.

Tingkat suara yang diputar sesuai dengan apa yang akan Anda ukur di dekat turbin modern yang berlokasi sekitar 500 meter jauhnya, saat angin bertiup stabil.

Mereka merekam elektroensefalografi untuk melacak perubahan pada ritme otak selama tugas membaca. Setelah itu, mereka melakukan dua tes kognitif yang terkenal untuk menguji perhatian dan penalaran.

Para pendengar juga diminta untuk menilai seberapa stres atau mengganggu suara yang mereka dengar, dibandingkan dengan suara lalu lintas atau keheningan.

Berdasarkan semua pengukuran, paparan singkat terhadap suara turbin tidak mengganggu perhatian atau penalaran dibandingkan dengan kondisi lainnya. Pola gelombang otak yang menunjukkan fokus dan kontrol juga tidak berubah, yang berarti tidak ada tanda-tanda ketegangan kognitif.

Peserta juga tidak menilai suara turbin lebih membuat stres atau mengganggu dibandingkan dengan suara lalu lintas kota. Sebagian besar pendengar menggambarkan suara tersebut sebagai suara "broadband" yang stabil dan menunjukkan tingkat gangguan yang rendah.

"Meskipun hasil ini tidak bisa digeneralisasi, temuan mendukung konsep bahwa hubungan antara paparan kebisingan turbin angin dan fungsi kognitif manusia bukanlah hubungan sebab-akibat," tulis Agnieszka Rosciszewska dari Adam Mickiewicz University di Poznan (AMU).

Studi ini mendukung penelitian skala besar yang dilakukan di Kanada terhadap 1238 orang dewasa tinggal sedekat seperempat mil dari turbin.

Baca juga: Pemasangan Turbin Angin Capai Rekor pada 2024, 70 Persen dari China

Studi tersebut menemukan bahwa kualitas tidur, sakit kepala, pusing, tinnitus, dan stres yang dirasakan tidak berhubungan dengan suara turbin luar ruangan.

Lebih lanjut, studi mengenai efek kebisingan turbin ini sendiri sebenarnya masih memiliki kelemahan karena penelitian tidak membahas paparan dalam jangka waktu yang panjang. Selain itu juga pemutaran suara di laboratorium tidak dapat menangkap setiap pola cuaca dan medan di luar ruangan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
Gen Z di Dunia Kerja, Pemalas atau Punya Cara Kerja Baru?
LSM/Figur
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
PBB Prediksi El Nino Terjadi Lagi Tahun Ini, Suhu Global Terancam Naik
Pemerintah
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Ada 3 Bibit Siklon Tropis di Sekitar Indonesia, Waspada Angin Kencang
Pemerintah
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
Laba Melonjak 578 Persen, Seberapa Jauh Ambisi Keberlanjutan BTN?
BUMN
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
El Nino Diprediksi Terjadi Lagi Tahun 2026, Dunia Bisa Makin Panas
Pemerintah
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
Kurangi Camilan dan Minuman Rendah Gizi Bisa Tekan Dampak Lingkungan
LSM/Figur
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
Abrasi Ban Jadi Sumber Mikroplastik di Udara, Bisa Masuk ke Paru-paru
LSM/Figur
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
PBB Sahkan Kredit Karbon Pertama Sesuai Standar Perjanjian Paris
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Pemerintah
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Kasus Pembunuhan Gajah Tanpa Kepala di Riau, 15 Orang Jadi Tersangka
Pemerintah
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Hingga Akhir 2025, Xurya Kembangkan Lebih dari 300 Proyek PLTS di Indonesia
Swasta
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
Konflik Israel-AS Vs Iran Bisa Picu Transisi Energi di Indonesia?
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
Serangan AS-Israel ke Iran Ancam Transisi Energi dan Emisi Global
LSM/Figur
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, PBB Soroti Pentingnya Energi Terbarukan
Pemerintah
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
Perang AS-Israel Vs Iran Picu Lonjakan Harga CPO, Petani Sawit Bisa Paling Terdampak
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau