Sementara India menunjukkan gambaran yang berbeda.
Pada bulan Maret 2025, kapasitas energi terbarukan di negara tersebut telah melampaui 220 GW, sebuah tonggak penting yang memperkuat target mereka sebesar 500 GW pada tahun 2030.
Namun, batu bara masih menjadi pusat bauran energi India, menyuplai sekitar 70 persen dari produksi listrik.
Analisis Carbon Brief menunjukkan bahwa India berencana untuk menambah sekitar 90 GW kapasitas batu bara dalam tujuh tahun ke depan atau sekitar 60 persen lebih banyak dari target sebelumnya.
Pada paruh pertama tahun ini, India telah mengoperasikan 5,1 GW pembangkit batu bara baru, dibandingkan dengan 4,2 GW pada periode yang sama tahun lalu.
Tren di China dan India ini sangat kontras dengan wilayah lain.
Di Eropa, penggunaan batu bara sedang dalam proses dihentikan. Irlandia telah menutup pembangkit batu bara terakhirnya pada bulan Juni 2025, dan banyak negara Uni Eropa berencana menghentikannya secara total antara tahun 2029 hingga 2033.
Di Amerika Latin, laporan tersebut menemukan bahwa proposal pembangkit batu bara baru hampir tidak ada, yang secara efektif menandakan berakhirnya masa depan batu bara di wilayah tersebut.
Perbedaan ini menimbulkan tantangan besar bagi target Persetujuan Paris untuk membatasi pemanasan global hingga 1.5 derajat C.
Baca juga: Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya