Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara

Kompas.com, 24 Oktober 2025, 21:32 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Komitmen itu sejalan dengan semangat Taman Safari Indonesia yang selama lebih dari empat dekade berperan dalam pelestarian satwa, baik darat maupun laut. Salah satu keberhasilannya adalah program konservasi burung perkici dada merah (Trichoglossus forsteni mitchellii), spesies endemik Bali dan Lombok yang kini terancam punah.

Baca juga: Menteri LH Apresiasi Taman Safari Indonesia: Konservasi Alam Bukan Sekadar Komitmen, tetapi Tindakan

Pada September 2025, Taman Safari Bali meresmikan Lorikeet Breeding Center, pusat pembiakan dengan sepuluh sangkar khusus berisi pasangan burung jantan dan betina. Sejak Juli, sekitar 20 ekor telah dilepasliarkan dan berkembang biak di alam.

Program tersebut merupakan kolaborasi antara Taman Safari Bali, World Parrot Trust, dan Paradise Park Inggris. Lewat kolaborasi tersebut, 40 ekor burung dari Cornwall secara bertahap sejak 2023 sebagai bagian dari pemulihan warisan hayati Indonesia.

Direktur Utama Taman Safari Indonesia Aswin Sumampau menegaskan, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab ilmuwan. Konservasi juga bisa diwujudkan melalui lembaga yang memadukan edukasi, riset, dan wisata.

“Konservasi harus bisa dirasakan dan dipahami masyarakat. Melalui pendekatan edukatif seperti di Marine Safari Bali, kami ingin menanamkan nilai bahwa setiap orang bisa berperan dalam menjaga keseimbangan alam,” ucap Aswin.

Belajar konservasi dari hulu ke samudera

Upaya Marine Safari Bali mencerminkan konsep konservasi modern yang menekankan keterhubungan antar-ekosistem. Di sini, pengunjung tidak sekadar melihat satwa, tetapi memahami perjalanan air dan kehidupan yang bergantung padanya.

Baca juga: Bayi Dugong Terlihat di Perairan Alor, Konservasi Berbasis Masyarakat Jadi Kunci

Hutan di hulu berperan menyaring air, danau menampungnya, sungai menyalurkannya, pesisir melindunginya, dan laut menjadi wadah terakhir yang menyerap serta sekaligus mengembalikan kehidupan. Semuanya terhubung dalam satu siklus yang saling bergantung.

Pengamat dan praktisi konservasi lingkungan hidup Hadi S Alikodra mengatakan, upaya yang dijalankan Marine Safari Bali dan Taman Safari Indonesia memiliki makna yang jauh melampaui batas wilayahnya.

Secara tidak langsung, mereka sedang berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 14 dan 15.

Poin 14 menekankan arti penting menjaga dan memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan, sedangkan poin 15 berfokus pada perlindungan ekosistem daratan dan keanekaragaman hayati.

Baca juga: AIPI: Bukan Restorasi, Konservasi Mangrove Jadi Kunci Pangkas CO2

Hadi menegaskan, memahami keterkaitan antara ekosistem daratan dan lautan sangat penting bagi pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan.

“Kita tidak bisa bicara soal laut tanpa memahami sungai dan kita tidak bisa bicara tentang pesisir tanpa menjaga hulu. Semua saling berkaitan,” lanjut Guru Besar di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu saat ditemui Kompas.com di Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/10/2025)

Ia menilai, apa yang dilakukan Marine Safari Bali menjadi contoh nyata bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan antara sains, kebijakan, dan kesadaran publik.

Seperti air yang terus mengalir tanpa henti, semangat konservasi pun harus terus dijaga agar mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada akhirnya, menjaga air berarti menjaga kehidupan itu sendiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia
Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia
Pemerintah
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau