JAKARTA, KOMPAS.com – Sore itu, Teater Salihara Jakarta diselimuti keheningan sebelum denting gamelan perlahan mengalun.
Dari sisi kanan panggung, sekelompok penari muncul dengan gerak yang gemulai, tetapi tegas. Tak lama kemudian, sosok Calon Arang—perempuan yang kerap disalahpahami sebagai simbol kejahatan—menapaki panggung.
Hari itu, ia bukan lagi sosok menakutkan. Melalui pementasan Palegongan Satua Calonarang garapan Bengkel Tari AyuBulan, tokoh ini tampil sebagai perempuan berilmu, penuh kasih, dan berani melawan stigma.
Pertunjukan yang digelar pada Minggu (9/11/2025) itu menjadi momen istimewa. Selain memperingati satu dekade sejak versi pertamanya dipentaskan di Galeri Indonesia Kaya pada 2015, karya ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada mendiang Ayu Bulantrisna Djelantik, maestro tari Legong klasik Bali yang menjadi inspirasi lahirnya Bengkel Tari AyuBulan.
“Ini bukan sekadar pentas mengenang Ibu Bulantrisna. Kami ingin meneruskan semangat beliau dalam menjaga relevansi tari palegongan di masa kini—bagaimana seni tradisi bisa tetap bicara dengan bahasa zaman,” ujar pimpinan Bengkel Tari AyuBulan Nyoman Trianawati.
Baca juga: Perempuan Aceh dan Peran Budaya dalam Membangun Citra Tanah Rencong di Dunia
Versi terbaru Satua Calonarang ini hadir lebih panjang, sekitar satu jam, dengan tata gerak dan musik yang disempurnakan. Para penari lintas generasi bergantian menghidupkan kisah legendaris yang telah hidup berabad-abad di Jawa dan Bali itu.
Kisah Calon Arang pertama kali tercatat dalam naskah lontar abad ke-16 (tahun Saka 1462) dan diwariskan lewat tuturan lisan di berbagai daerah.
Cerita rakyat ini berkisah tentang Dirah, seorang janda sakti dari Desa Girah yang memiliki seorang putri cantik, Ratna Manggali. Ilmunya yang tinggi membuatnya dihormati sekaligus ditakuti.
Pertunjukan Palegongan Satua Calonarang dipentaskan Bengkel Tari AyuBulan di Teater Salihara Jakarta, Minggu (9/11/2025)Selama berabad-abad, Calon Arang dikenal sebagai lambang “kejahatan”. Ia dicap sebagai perempuan yang melawan tatanan dan dianggap mengganggu keseimbangan dunia karena kekuatannya. Namun, pementasan Bengkel Tari AyuBulan berupaya membaca ulang makna itu.
“Bagi kami, Calon Arang bukan perempuan jahat. Ia justru perempuan berdaya, ibu tunggal yang mendidik anaknya dengan cinta. Tapi karena ia terlalu kuat, ia dilabeli negatif,” tutur pimpinan produksi pementasan Renny Triwahyuni.
Dalam pementasan itu, sosok Dirah ditampilkan sebagai perempuan yang terluka oleh ketidakadilan sosial. Ia disingkirkan karena keberaniannya, dituduh sesat karena ilmunya, dan dicap “jahat” karena tak tunduk pada norma yang diciptakan oleh laki-laki.
Baca juga: Lewat Teras Perwira, Grab Ajak Mitra-Pengguna, dan Komunitas Tuli Dukung Kesetaraan
Renny menyebut, pesan moral yang ingin mereka angkat adalah kebenaran dan kesalahan tidak selalu hitam dan putih.” Dalam kisah Calon Arang, baik Dirah maupun Baradah, sama-sama memiliki sisi benar dan salah.
“Cerita ini tidak memberi jawaban tunggal. Namun, di sanalah keindahannya. Kebenaran bisa dilihat dari banyak sisi, termasuk dari pandangan seorang perempuan yang selama ini dibungkam,” ucapnya.
Pementasan versi terbaru ini juga menambahkan unsur-unsur baru—seperti karakter prajurit Lemah Tulis, pengawal Baradah—dan menggabungkan karya lain dari Bulantrisna Djelantik dan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani berjudul Solah Shanti di bagian awal.
Tak hanya kisah di atas panggung yang sarat makna, di balik layar pun pementasan ini merupakan cermin kekuatan perempuan. Sebagian besar kru, koreografer, dan penari utama adalah perempuan—dari generasi muda hingga senior.
Baca juga: Mendengar Suara Perempuan Penggerak Keberlanjutan di Lestari Summit 2025
Bengkel Tari AyuBulan memang dikenal sebagai salah satu kelompok yang konsisten menjaga eksistensi dan kemurnian pakem Legong Klasik (terutama di luar Bali), salah satunya dengan berkarya dalam bentuk Palegongan.
Namun, lewat Satua Calonarang, mereka menambahkan lapisan baru, yakni tafsir sosial dan refleksi perempuan.
“Calon Arang adalah representasi banyak perempuan yang berani menolak label. Ia berilmu, mandiri, dan tak takut menempuh jalan yang berbeda. Kami ingin penonton melihat sisi itu, bukan hanya mitos seramnya,” cerita Renny.
Dalam tradisi Bali, kisah Calon Arang biasanya dipentaskan dalam konteks ritual penyucian (melukat) untuk menolak bala atau membersihkan energi negatif. Namun, pementasan versi AyuBulan mengubahnya menjadi ruang renungan yang lebih universal.
“Tradisi Bali itu lentur dan bisa menyesuaikan tafsir zaman tanpa kehilangan makna. Kini, Calon Arang bahkan disebut sebagai simbol kekuasaan perempuan walau tanpa mahkota—perempuan yang berdaulat atas dirinya sendiri,” tulis Indonesia Kaya dalam salah satu artikelnya.
Baca juga: CSW69, Indonesia Tekankan Pentingnya Kesetaraan Gender di Era Digital
Pementasan Satua Calonarang memperlihatkan bagaimana seni tradisi mampu beradaptasi dengan gagasan kontemporer. Dari ritual sakral, pementasan ini menjelma menjadi refleksi moral dan sosial yang berbicara tentang relasi kuasa, kebenaran, dan keberanian.
“Tradisi tidak harus membatasi. Tradisi bisa menjadi pintu untuk memahami diri kita sebagai manusia, dan bagi perempuan, untuk memahami kekuatannya,” kata Renny.
Tarian Solah Shanti membuka pertunjukan Palegongan Satua Calonarang yang dipentaskan Bengkel Tari AyuBulan di Teater Salihara Jakarta, Minggu (9/11/2025)Di tengah dunia modern yang masih sering menilai perempuan berdasarkan peran sosial, kisah Calon Arang terasa relevan. Sosok Dirah mencerminkan pergulatan perempuan hari ini yang ingin berdaya dan berilmu, tetapi sering dihadapkan pada pandangan sempit.
“Banyak perempuan masih harus membuktikan diri agar diterima. Melalui kisah ini, kami ingin mengingatkan bahwa perempuan tidak perlu meminta izin untuk menjadi kuat,” ucap Renny.
Dalam pementasan itu, saat Calon Arang menari sendirian di tengah panggung, geraknya terasa tegas, tetapi berlapis emosi. Penonton pun bisa merasakan getir dan kekuatan sekaligus.
Baca juga: Diterpa Bencana Iklim, Perempuan Pesisir Tangguh dan Pandai Shifting Pekerjaan
Adegan itu menjadi momen puncak yang hening, tetapi menggugah. Pesan yang disampaikan terasa jelas: ketika seorang perempuan memilih berdiri sendiri, bukan karena tak punya tempat, melainkan karena sudah menemukan dirinya sendiri.
Sosok Dirah menunjukkan bahwa kekuatan perempuan tidak selalu ditunjukkan lewat kekuasaan, tapi lewat pengetahuan, kasih, dan ketulusan.
Kekuatan pementasan Satua Calonarang tidak hanya terletak pada keindahan gerak, tapi juga pada keberanian untuk menghadirkan wacana.
Melalui Satua Calonarang, Bengkel Tari AyuBulan mengajak penonton untuk meninjau ulang pandangan lama terhadap perempuan—dari makhluk yang ditakuti menjadi sosok yang layak dihormati.
“Calon Arang bukan mitos tentang kutukan. Ini adalah cerita tentang cinta, kehilangan, dan keberanian seorang perempuan yang melawan sistem yang menolak dirinya,” tutur Renny.
Dari naskah lontar abad ke-16 hingga panggung Teater Salihara di abad ke-21, pesan Calon Arang tetap sama: perempuan yang berpengetahuan dan berani selalu punya tempat di dunia ini.
Baca juga: Bappenas Gelar Lomba Menulis, Dorong Perempuan Berani Bersuara
Senja menyambut ketika tabuh terakhir gamelan mereda. Para penari menunduk, menerima tepuk tangan panjang penonton. Namun, bagi Bengkel Tari AyuBulan, pementasan ini bukanlah akhir.
“Siap-siap, ya. Kami akan hadirkan sesuatu yang penuh makna lagi,” imbuh Renny.
Ketika tirai panggung tertutup, yang tertinggal bukan sekadar kisah kuno atau keindahan tari, melainkan gema pesan yang abadi bahwa kekuatan sejati perempuan lahir dari pengetahuan, keberanian, dan cinta.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya