Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Berkembang Tagih Pajak Daging dari Negara Kaya lewat Deklarasi Belem, Mengapa?

Kompas.com, 1 Desember 2025, 16:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Beberapa negara, antara lain Nigeria, Fiji, Uganda, Chad, Papua Nugini, dan Liberia menandatangani Deklarasi Belém tentang Penetapan Harga Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada Sistem Pertanian dan Pangan.

Deklarasi tersebut megimbau negara-negara berpenghasilan tinggi dan negara-negara ekonomi utama, termasuk Komisi Uni Eropa, 30 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dan China untuk memperkenalkan mekanisme penetapan harga GRK dalam produksi daging industri mereka.

Baca juga:

"Para penandatangan adalah negara-negara berpendapatan rendah. Tujuh negara Afrika yang menandatangani mewakili 30 persen dari seluruh penduduk Afrika," ucap Direktur dan Pendiri TAPP Coalition, Jeroom Remmers, dilansir dari Down to Earth, Senin (1/12/2025).

Adapun TAPP Coalition merupakan inisiator deklarasi tersebut.

Remmers menambahkan, deklarasi ini mencakup 21 negara pulau kecil di Pasifik yang menghadapi kenaikan permukaan laut akibat konsumsi daging dan produk susu di seluruh dunia.

Baca juga:

Pajak daging untuk negara berpenghasilan tinggi, mengapa?

Konsumsi daging berlebih tercatat di negara berpenghasilan tinggi

Nigeria, Fiji, dan Papua Nugini meminta negara berpenghasilan tinggi membayar emisi dari industri daging lewat Deklarasi Belem. Apa itu?Freepik/serhii_bobyk Nigeria, Fiji, dan Papua Nugini meminta negara berpenghasilan tinggi membayar emisi dari industri daging lewat Deklarasi Belem. Apa itu?

Sebagai informasi, konsumsi daging berlebih disebut tercatat di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Sementara itu, negara-negara berkembanglah yang merasakan dampak harian perubahan iklim karena emisi GRK.

Bila negara-negara berpenghasilan tinggi tersebut tidak mau mengurangi emisi GRK mereka dari sektor peternakan industri secara sukarela, mereka harus membayar kerusakan iklim yang ditimbulkannya melalui mekanisme penetapan harga emisi GRK.

Negara berkembang pun mendesak penerapan prinsip pencemar emisi untuk membayar setidaknya 20 persen dari pendapatan yang diperoleh melalui mekanisme penetapan harga, yang mana disalurkan ke Dana Kerugian dan Kerusakan.

Hal tersebut digunakan untuk mendukung negara-negara berkembang yang menderita dampak krisis iklim.

Pertanian dan sistem pangan bertanggung jawab atas sepertiga dari seluruh emisi GRK global, produksi peternakan menghasilkan sebagian besar emisi ini.

Sebagai informasi, jejak iklim daging sapi 70 kilogram (kg) emisi GRK/kg pangan, daging babi sekitar 12 kg emisi GRK/kg, dan daging ayam sekitar 9,9 kg emisi GRK/kg.

Angka tersebut relatif tinggi dibandingkan dengan protein pangan lainnya, seperti legume sekitar 2 kg/kg dan kacang-kacangan sekitar 0,4 kg/kg. 

"Ketika bicara tentang ketidakadilan global, kita hanya berbicara dalam konteks bahan bakar fosil bahwa negara-negara industri kaya telah menggunakan jauh lebih banyak bahan bakar fosil untuk meningkatkan ekonomi dan industri mereka," ucap Tim Reysoo dari TAPP Coalition.

"Tetapi mereka juga mengonsumsi protein hewani dalam jumlah besar di dunia," tambah dia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
GEF Kucurkan Rp 74,6 Miliar untuk Lindungi Biodiversitas dari Spesies Invasif
Pemerintah
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Peringatan Hari Air Sedunia, Akses Air Minum Aman di Indonesia Masih Jadi Tantangan
Swasta
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Menambang Nikel di Kota, Ini Keuntungan Daur Ulang Baterai Bekas
Pemerintah
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Kolaborasi Beorganik dan Anteraja Hadirkan Ruang Berbagi untuk Anak-anak Rumah Yatim
Swasta
Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia Capai 345,6 juta Ton per Tahun, Apa Tantangannya?
Potensi Hidrogen Hijau di Indonesia Capai 345,6 juta Ton per Tahun, Apa Tantangannya?
LSM/Figur
Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
Tren Cyberbullying pada Anak Meningkat, Diperparah oleh AI
Pemerintah
Gandeng Pegadaian, Pemkot Banjarmasin Inisiasi Program Menabung Sampah Jadi Emas
Gandeng Pegadaian, Pemkot Banjarmasin Inisiasi Program Menabung Sampah Jadi Emas
Pemerintah
Kementerian ESDM Lakukan Road Test B50, Performa Dinilai Bagus
Kementerian ESDM Lakukan Road Test B50, Performa Dinilai Bagus
Pemerintah
Bantargebang Direncanakan Jadi Lokasi Fasilitas Waste to Energy
Bantargebang Direncanakan Jadi Lokasi Fasilitas Waste to Energy
Pemerintah
Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal
Virus Pandemi Bisa Menular ke Manusia Tanpa Adaptasi Awal
LSM/Figur
BRIN Kembangkan AI untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional
BRIN Kembangkan AI untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional
Pemerintah
Zulhas Sebut Fasilitas Waste to Energy Bakal Beroperasi 2027 di 4 Kota
Zulhas Sebut Fasilitas Waste to Energy Bakal Beroperasi 2027 di 4 Kota
Pemerintah
Investasi AI Masih Berlanjut, Ini Survei KPMG pada 100 CEO Perusahaan
Investasi AI Masih Berlanjut, Ini Survei KPMG pada 100 CEO Perusahaan
Swasta
Akademisi UGM Usulkan Perluasan Habitat Komodo di Flores
Akademisi UGM Usulkan Perluasan Habitat Komodo di Flores
LSM/Figur
Hukum Kesetaraan Kerja Perempuan Baru Diterapkan Separuhnya
Hukum Kesetaraan Kerja Perempuan Baru Diterapkan Separuhnya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau