Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak CO2 pada Pangan, Nutrisi Hilang dan Kalori Bertambah

Kompas.com, 20 Desember 2025, 20:35 WIB
Add on Google
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Tingginya kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer tidak hanya memicu krisis iklim, tapi juga memengaruhi nutrisi makanan.

Penelitian dari Leiden University dalam jurnal Global Change Biology menunjukkan, peningkatan CO2 bikin pangan jadi lebih tinggi kalori, tapi miskin nutrisi penting.

Baca juga:

"Melihat betapa dramatisnya beberapa perubahan nutrisi tersebut, dan bagaimana hal ini bervariasi antar-tanaman, sungguh mengejutkan," dosen di Universiteit Leiden di Belanda, Sterre ter Haar, dilansir dari The Guardian, Sabtu (20/12/2025).

"Kami tidak melihat efek pengenceran sederhana, melainkan pergeseran total dalam komposisi makanan... Hal ini juga menimbulkan pertanyaan apakah kita perlu menyesuaikan pola makan kita dengan cara tertentu, atau bagaimana kita menanam atau memproduksi makanan kita," tambah dia.

Pengaruh CO2 terhadap nutrisi pangan

Rata-rata nutrisi tanaman pangan turun 4,4 persen

Kadar karbon dioksida (CO2) yang meningkat membuat makanan lebih tinggi kalori, tapi kehilangan nutrisi penting menurut riset terbaru.Freepik/zirconicusso Kadar karbon dioksida (CO2) yang meningkat membuat makanan lebih tinggi kalori, tapi kehilangan nutrisi penting menurut riset terbaru.

Makanan yang selama ini dianggap sehat bisa berubah kandungannya. Nasi dan tomat yang disantap pada masa depan berpotensi tidak lagi memberikan zat gizi yang cukup bagi tubuh.

Tanaman pangan diketahui mengandung lebih sedikit zinc, zat besi, dan protein ketika kadar CO2 di udara meningkat.

Dilansir dari laman Universteit Leiden, penelitian tersebut mencatat bahwa kandungan nutrisi penting dalam tanaman menurun rata-rata 4,4 persen. Dalam beberapa kasus, penurunannya bahkan mencapai 38 persen.

Pada saat yang sama, jumlah kalori justru meningkat. Kondisi ini berisiko memicu obesitas meski asupan nutrisi tubuh tidak tercukupi.

Tidak hanya itu, konsentrasi zat berbahaya seperti timbal juga berpotensi meningkat pada tanaman pangan. Namun, para peneliti menegaskan bahwa masih diperlukan data tambahan untuk memastikan dampak ini.

Banyak penduduk dunia bergantung pada beras dan gandum sebagai sumber makanan utama. Penelitian menunjukkan bahwa kedua tanaman ini mengalami penurunan nutrisi yang signifikan seiring naiknya kadar CO2.

Baca juga:

Analisis dari puluhan tanaman pangan

Kadar karbon dioksida (CO2) yang meningkat membuat makanan lebih tinggi kalori, tapi kehilangan nutrisi penting menurut riset terbaru.Unsplash/rodreis Kadar karbon dioksida (CO2) yang meningkat membuat makanan lebih tinggi kalori, tapi kehilangan nutrisi penting menurut riset terbaru.

Dalam riset ini, para peneliti membandingkan data dari berbagai studi sebelumnya. Tanaman ditanam dalam kondisi dengan kadar CO2 yang berbeda. Meski awalnya sulit dibandingkan, peneliti menemukan pola yang jelas.

Efek peningkatan CO2 terhadap pertumbuhan dan kandungan nutrisi tanaman bersifat linear. Ketika kadar CO2 naik dua kali lipat, dampaknya pada nutrisi juga meningkat dua kali lipat.

Temuan tersebut memungkinkan peneliti membuat pengukuran dasar untuk membandingkan data.

Secara total, penelitian ini menganalisis 43 jenis tanaman pangan, meliputi padi, kentang, tomat, dan gandum. Semua menunjukkan tren penurunan kualitas nutrisi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
Perempuan Pesisir Diberdayakan untuk Lindungi Terumbu Karang yang Terancam Krisis Iklim
LSM/Figur
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau