Penulis
KOMPAS.com - Bus listrik mulai muncul di kotakota besar Indonesia dan akan terus bertambah. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan Jakarta untuk punya 550 armada bus listrik. Di kota lain, bus listrik masih terbatas, tetapi setidaknya mulai digagas.
Mengapa sebenarnya kita bertransformasi ke bus listrik? Kalau dibilang bakal mengurangi emisi, berapa besar sebenarnya emisi yang bisa dipangkas dari bus listrik tersebut?
Studi yang dilakukan sejumlah ilmuwan, lembaga non profit, dan pemerintah sejumlah negara kompak menyebut bahwa transformasi ke bus listrik akan memangkas emisi hingga 70 persen.
Laporan Union of Concerned Scientists (UCS), asosiasi yang menaungi lebih dari 300 ilmuwan, menunjukkan bahwa siklus hidup baterai bus listrik sendiri punay emisi 50 persen lebih rendah.
Bus listrik sendiri secara keseluruhan mengurangi emisi hingga 60 persen. Di kota seperti San Fransisco dan New York, penurunan emisi karena elektrifikasi bisa mencapai 70 persen. Secara nasional, di AS, bus listrik dinyatakan 2,5 kali lebih ramah iklim.
Studi di Uni Eropa oleh International Council on Clean Transportation (ICCT) mengungkap, bus listrik mampu memangkas emisi hingga 63 persen. Jika listrik bersumber dari energi terbarukan, pengurangan emisi bisa mencapai 92 persen.
Studi oleh pemerintah Kanada menunjukkan, di Toronto, Montreal, dan Halifax bus listrik dapat menurunkan emisi kumulatif antara 18,7 - 34,6 pada tahun 2030 dibandingkan skenario business as usual.
Di Indonesia sendiri, studi yang dilakukan oleh Institute of Transportation and Development Policy (ITDP) mengungkap bahwa transformasi ke bus listrik bisa memangkas emisi hingga 24 persen pada 2030.
Baca juga: 70 Bus Listrik dari China Tiba, Damri Perkuat Transportasi Hijau
Pemerintah Asia Tenggara mulai sadar manfaat bus listrik. Sejumlah target diluncurkan negara-negara kawasan itu untuk menggunakan bus listrik sebagai salah satu strategi.
Indonesia menargetkan 90 persen elektrifikasi bus kota di 42 kota pada 2030, termasuk angkot atau microbus pada 2045 menurut AfMA Transport Policy Summary. Di Jakarta, Transjakarta setidaknya menargetkan ada 500 bus listrik pada 2025.
Singapura akan mengonversi 5.800 bus publik menjadi listrik pada 2040, dengan sistem charging pantograf berdaya tinggi. Vietnam menargetkan semua bus dan taksi serta seluruh armada baru menggunakan energi bersih pada 2050.
Malaysia menargetkan pengoperasian lebih dari 1.000 bus listrik pada 2037. Meski tak secepat negara-negara tetangganya, Thailand dan Kamboja pun mulai kenalkan bus listrik. Tahun 2023, Kamboja memperkenalkan percontohan bus listrik lewat kerjasam dengan China.
Meski manfaat lingkungan sangat jelas, tantangan dalam adopsi tetap besar—mulai dari kesiapan infrastruktur pengisian daya, struktur regulasi yang belum mapan, hingga resistensi dari operator angkutan konvensional.
Political, Economic, Social, and Technological (PEST) Policy Review yang disusun oleh ASEAN Center for Energy mengungkap bahwa negara-negara seperti Indonesia, Filipina, dan Myanmar masih menghadapi hambatan multi-dimensi dalam elektrifikasi transportasi.
Namun, seiring dengan turunnya harga baterai, meningkatnya kesadaran iklim, dan dukungan kebijakan, bus listrik menjadi langkah konkret dan strategis untuk menurunkan emisi sektor transportasi, yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama pemanasan global.
Baca juga: Bus Listrik Bisa Pangkas Emisi GRK, tetapi Berpotensi Jadi Proyek FOMO
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya