Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari New York ke Jakarta, Apa Kata Pakar soal Bus Listrik dan Emisi Gas Rumah Kaca?

Kompas.com, 4 Agustus 2025, 17:31 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Penulis

KOMPAS.com - Bus listrik mulai muncul di kotakota besar Indonesia dan akan terus bertambah. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menargetkan Jakarta untuk punya 550 armada bus listrik. Di kota lain, bus listrik masih terbatas, tetapi setidaknya mulai digagas.

Mengapa sebenarnya kita bertransformasi ke bus listrik? Kalau dibilang bakal mengurangi emisi, berapa besar sebenarnya emisi yang bisa dipangkas dari bus listrik tersebut?

Studi yang dilakukan sejumlah ilmuwan, lembaga non profit, dan pemerintah sejumlah negara kompak menyebut bahwa transformasi ke bus listrik akan memangkas emisi hingga 70 persen. 

Bukan Omon-omon

Laporan Union of Concerned Scientists (UCS), asosiasi yang menaungi lebih dari 300 ilmuwan, menunjukkan bahwa siklus hidup baterai bus listrik sendiri punay emisi 50 persen lebih rendah.

Bus listrik sendiri secara keseluruhan mengurangi emisi hingga 60 persen. Di kota seperti San Fransisco dan New York, penurunan emisi karena elektrifikasi bisa mencapai 70 persen. Secara nasional, di AS, bus listrik dinyatakan 2,5 kali lebih ramah iklim.

Studi di Uni Eropa oleh International Council on Clean Transportation (ICCT) mengungkap, bus listrik mampu memangkas emisi hingga 63 persen. Jika listrik bersumber dari energi terbarukan, pengurangan emisi bisa mencapai 92 persen.

Studi oleh pemerintah Kanada menunjukkan, di Toronto, Montreal, dan Halifax bus listrik dapat menurunkan emisi kumulatif antara 18,7 - 34,6 pada tahun 2030 dibandingkan skenario business as usual. 

Di Indonesia sendiri, studi yang dilakukan oleh Institute of Transportation and Development Policy (ITDP) mengungkap bahwa transformasi ke bus listrik bisa memangkas emisi hingga 24 persen pada 2030.

Baca juga: 70 Bus Listrik dari China Tiba, Damri Perkuat Transportasi Hijau

Perjalanan Asia Tenggara

Pemerintah Asia Tenggara mulai sadar manfaat bus listrik. Sejumlah target diluncurkan negara-negara kawasan itu untuk menggunakan bus listrik sebagai salah satu strategi. 

Indonesia menargetkan 90 persen elektrifikasi bus kota di 42 kota pada 2030, termasuk angkot atau microbus pada 2045 menurut AfMA Transport Policy Summary. Di Jakarta, Transjakarta setidaknya menargetkan ada 500 bus listrik pada 2025. 

Singapura akan mengonversi 5.800 bus publik menjadi listrik pada 2040, dengan sistem charging pantograf berdaya tinggi. Vietnam menargetkan semua bus dan taksi serta seluruh armada baru menggunakan energi bersih pada 2050.

Malaysia menargetkan pengoperasian lebih dari 1.000 bus listrik pada 2037. Meski tak secepat negara-negara tetangganya, Thailand dan Kamboja pun mulai kenalkan bus listrik. Tahun 2023, Kamboja memperkenalkan percontohan bus listrik lewat kerjasam dengan China.

Tantangan Tetap Ada, Tapi Manfaat Lingkungan Nyata

Meski manfaat lingkungan sangat jelas, tantangan dalam adopsi tetap besar—mulai dari kesiapan infrastruktur pengisian daya, struktur regulasi yang belum mapan, hingga resistensi dari operator angkutan konvensional. 

Political, Economic, Social, and Technological (PEST) Policy Review yang disusun oleh ASEAN Center for Energy mengungkap bahwa negara-negara seperti Indonesia, Filipina, dan Myanmar masih menghadapi hambatan multi-dimensi dalam elektrifikasi transportasi.

Namun, seiring dengan turunnya harga baterai, meningkatnya kesadaran iklim, dan dukungan kebijakan, bus listrik menjadi langkah konkret dan strategis untuk menurunkan emisi sektor transportasi, yang selama ini menjadi salah satu kontributor utama pemanasan global.

Baca juga: Bus Listrik Bisa Pangkas Emisi GRK, tetapi Berpotensi Jadi Proyek FOMO

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
 IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
IPBES: Baru 1 Persen Perusahaan yang Ungkap Dampak Lingkungan
Pemerintah
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
PeHa Pembersih Sepatu, UMKM Asal Medan yang Jangkau Seluruh Indonesia
LSM/Figur
Wujudkan 'Green Mining', PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
Wujudkan "Green Mining", PLN dan BIB Borong 23.040 Unit Renewable Energy Certificate
BUMN
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Harga Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Perlu Dibedakan
Swasta
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
Rahasia Sutra Laba-Laba Terungkap, Lebih Kuat dari Baja dan Kevlar
LSM/Figur
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja
LSM/Figur
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Km, KLH Ambil Sampel Air
Pemerintah
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres
LSM/Figur
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market
Pemerintah
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
Lantai Berkelanjutan Jadi Strategi Hotel Capai Target ESG
LSM/Figur
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Produktivitas Kelapa Sawit Indonesia Kalah dari Malaysia, Mengapa?
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
BMKG Prediksi Hujan Masih Terjadi hingga 16 Februari 2026
Pemerintah
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Terbukti Picu Kematian Pesut Mahakam, Operasional Perushaan Dihentikan
Pemerintah
SJS Luncurkan Ekosistem Digital untuk Perkuat SDM Indonesia
SJS Luncurkan Ekosistem Digital untuk Perkuat SDM Indonesia
Swasta
Pertamina NRE dan Medco Jajaki Pengembangan Biodiesel HACPO dan Bioetanol
Pertamina NRE dan Medco Jajaki Pengembangan Biodiesel HACPO dan Bioetanol
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau