Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Populasi Gurita di Inggris Melonjak, Disebut akibat Krisis Iklim

Kompas.com, 3 Januari 2026, 19:58 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews, BBC

KOMPAS.com - Jumlah gurita di lepas pantai barat daya Inggris pada tahun 2025 mencapai rekor tertinggi sejak tahun 1950. Bahkan, badan amal pelestarian satwa liar, The Wildlife Trusts mendeklarasikan tahun 2025 sebagai "the Year of the Blooming Octopus" (tahun gurita berkembang).

Krisis iklim disebut sebagai penyebab lonjakan populasi gurita. Sebab, krisis iklim menyebabkan musim dingin yang lebih hangat. 

Baca juga:

Kepala Konservasi Laut di The Wildlife Trusts, Ruth Williams, mengatakan bahwa "ledakan populasi" gurita kemungkinan disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor lingkungan yang bersamaan, termasuk pemanasan air laut.

"Suhu laut di wilayah barat daya lebih tinggi 1,5 hingga tiga derajat celisus dari biasanya, dan musim dingin yang lebih hangat memungkinkan telur gurita bertahan hidup dengan tingkat yang lebih tinggi," jelas Williams, dilansir dari Euronews, Sabtu (3/1/2026).

"Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami fenomena tersebut secara lebih rinci," tambah dia.

Populasi gurita melonjak tahun 2025

Belum jelas apakah permanen atau siklus belaka

Populasi gurita di Inggris melonjak pada tahun 2025. Krisis iklim disebut sebagai penyebabnya.Dok. Wikimedia Commons/damn_unique Populasi gurita di Inggris melonjak pada tahun 2025. Krisis iklim disebut sebagai penyebabnya.

Berdasarkan data pemerintah Inggris, lebih dari 1.200 ton gurita ditangkap oleh nelayan di perairan pada musim panas 2025.

Namun, masih belum jelas apakah kenaikan populasi gurita bersifat permanen atau siklus belaka, yang berarti jumlahnya akan kembali ke tingkat normal usai lonjakan pada tahun 2025.

Dikenal sebagai salah satu makhluk laut paling cerdas, gurita tersebut biasanya ditemukan lebih jauh ke selatan di perairan hangat Mediterania.

Penampakan gurita berjalan, membersihkan diri, dan kawin di sepanjang pantai selatan Inggris menampilkan pertunjukan perairan dangkal yang langka.

"Sungguh luar biasa. Kami melihat gurita menggunakan jet propulsion untuk bergerak. Kami juga melihat gurita menyamar, mereka terlihat persis seperti rumput laut," kata Matt Slater dari Cornwall Wildlife Trust, dilansir dari BBC

"Kami melihat mereka membersihkan diri. Dan bahkan kami melihat mereka berjalan, menggunakan dua kaki untuk dengan santai berenang menjauh dari penyelam di bawah air," imbuh dia.

Meski lonjakan populasi gurita di Inggris pernah terjadi sebelumnya, tapi pada 2025 peningkatannya terlalu tinggi atau sebesar 1.500 persen dari jumlah di tahun 2023.

Baca juga:

Pola makan dan pola penangkapan ikan harus berubah

Populasi gurita di Inggris melonjak pada tahun 2025. Krisis iklim disebut sebagai penyebabnya.Dok. Wikimedia Commons/Revital Salomon Populasi gurita di Inggris melonjak pada tahun 2025. Krisis iklim disebut sebagai penyebabnya.

The Wildlife Trusts memperingatkan pentingnya perubahan pola penangkapan ikan dan kebiasaan makan jika populasi gurita tetap tinggi.

Hal itu karena Cephalopoda berlengan delapan ini memakan kerang-kerangan, seperti lobster, kepiting, dan kerang scallop.

"Mereka berdampak pada spesies (kerang) di sekitar pantai kita. Dan sebagai konsekuensinya, mereka juga akan berdampak pada industri perikanan kita yang menargetkan spesies tersebut," ujar Williams.

Baca juga: Kemunculan Beruang di Jepang Makin Meresahkan, Diduga akibat Krisis Iklim

Ia menambahkan, industri perikanan Inggris sedang melakukan sejumlah penelitian untuk mencoba beradaptasi dengan dampak krisis iklim.

Hasil tangkapan kepiting menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya berdasarkan data pemerintah Inggris. Namun, hasil tangkapan lobster, udang karang, serta kerang tetap stabil.

Banyak restoran mulai menawarkan gurita dalam menu mereka seiring penurunan hasil laut. Penambahan menu tersebut untuk mengakomodasi tangkapan nelayan di perairan Inggris yang kebanyakan gurita.

Populasi gurita di Inggris melonjak pada tahun 2025. Krisis iklim disebut sebagai penyebabnya.vecstock/freepik Populasi gurita di Inggris melonjak pada tahun 2025. Krisis iklim disebut sebagai penyebabnya.

Kendati demikian, penambahan menu gurita dinilai sulit diterima para aktivits hak-hak hewan yang telah lama menyerukan agar predator ini dilindungi dari pembunuhan untuk konsumsi manusia.

Pada tahun 2021, pemerintah Inggris telah mengubah Rancangan Undang Undang (RUU) Kesejahteraan Hewan dengan mengakui gurita sebagai makhluk hidup yang memiliki perasaan.

Gurita diakui bisa merasakan sakit. Maka dari itu, praktik yang dikategorikan penyiksaan hewan, seperti merebus gurita hidup-hidup, menjadi dilarang. Akan tetapi, aturan tidak sampai melarang praktik membunuh gurita.

"Hewan-hewan ini memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga ada masalah kesejahteraan, seperti halnya banyak hewan yang ditangkap atau diternakkan untuk produksi pangan," tutur Williams.

Baca juga: Simpan Satwa Dilindungi Secara Ilegal, Pria di Karawang Terancam 15 Tahun Penjara

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
Belajar dari India, Indonesia Dinilai Perlu Target Ambisius EBT
LSM/Figur
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
Pakar Ungkap Peran Hutan dan Iklim Mikro untuk Kurangi Risiko Banjir Bandang
LSM/Figur
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Kemenhut Gandeng Ahli Investigasi 11 Subyek Hukum Terkait Banjir Sumatera Utara
Pemerintah
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
PBB Buka Pelaporan Keanekaragaman Hayati, Masyarakat Adat Bisa Lapor
Pemerintah
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
Banjir Sumatera Cerminan Kegagalan Pemanfaatan Bentang Alam
LSM/Figur
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
Perluas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes Gandeng BRI
BUMN
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang
LSM/Figur
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
Krisis Pengungsi Global Disebut Akan Makin Parah Tanpa Investasi Jangka Panjang
LSM/Figur
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
Tutupan Hutan DAS Tamiang Aceh Tergerus Sawit dan Permukiman Selama 20 Tahun
LSM/Figur
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
Suhu Bumi Meningkat, Kupu-kupu Monarch Makin Rentan Parasit
LSM/Figur
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
Di Balik Manuver AS ke Venezuela, Trump Ingin Dunia Tetap Bergantung pada Minyak?
LSM/Figur
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Bayi Panda Lahir di Taman Safari, Presiden Prabowo Beri Nama Satrio Wiratama
Pemerintah
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
Dukung Literasi Papua, WVI dan Mitra Universitas Terbitkan Buku Cerita Anak
LSM/Figur
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
Banjir dengan Bongkahan Batu di Sulut, Pakar Tekankan Penilaian Risiko dan Multi-layer Solution
LSM/Figur
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau