Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Tanah Mendadak Berlubang atau Sinkhole, Ternyata Bukan Peristiwa Langka

Kompas.com, 5 Januari 2026, 19:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

Sumber Antara

KOMPAS.com - Fenomena sinkhole atau tanah yang tiba-tiba berlubang bisa terjadi. Ahli Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi dan Vulkanologi, Ade Edward menjelaskan bahwa peristiwa ini bukanlah hal langka karena sinkhole kerap terjadi di wilayah yang tersusun dari batuan kapur.

"Fenomena sinkhole ini sebenarnya sering terjadi, terutama di daerah bukit kapur," kata Ade Edward, dilansir dari Antara, Senin (5/1/2026).

Baca juga:

Adapun peristiwa sinkhole terjadi di Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Wilayah tersebut diketahui berada di kawasan bukit kapur.

Fenomena sinkhole atau tanah berlubang

Berkaitan dengan sungai bawah tanah yang mengikis batuan kapur

Fenomena sinkhole atau tanah berlubang mengejutkan warga Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada Minggu (4/1/2026). Dok BPBD Fenomena sinkhole atau tanah berlubang mengejutkan warga Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat, pada Minggu (4/1/2026).

Menurut Ade, Nagari Situjuah Batua merupakan kawasan batu kapur. Namun, batuan tersebut tidak terlihat jelas di permukaan. Kawasan itu tertutup oleh material erupsi Gunung Sago.

Kondisi tersebut membuat wilayah ini tampak subur. Masyarakat setempat memanfaatkan lahan untuk kegiatan pertanian.

Batuan kapur memiliki sifat khas yakni material tersebut mudah larut ketika terkena air hujan. Proses pelarutan berlangsung perlahan dan terus-menerus, dengan air hujan meresap ke dalam tanah lalu membentuk retakan.

Dalam jangka waktu tertentu, retakan berkembang menjadi rongga besar di bawah permukaan.

Ketika lapisan tanah di atasnya tidak lagi kuat menopang, tanah bisa ambruk secara tiba-tiba. Peristiwa inilah yang dikenal sebagai sinkhole.

Ade menyampaikan bahwa kejadian serupa tidak hanya terjadi di Nagari Situjuah Batua. Fenomena sinkhole juga pernah muncul di Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Biasanya, lokasi sinkhole berkaitan dengan keberadaan sungai bawah tanah. Aliran air di bawah permukaan tanah dapat mengikis batuan kapur secara perlahan. Jika terjadi penyumbatan, tekanan air bisa meningkat.

Menurut Ade, biasanya terdapat sungai bawah tanah di lokasi terjadinya sinkhole.

Baca juga:

Fenomena sinkhole bisa cukup berbahaya

Fenomena sinkhole di daerah bukit kapur bukanlah hal baru. Pakar jelaskan proses dan bahayanya bagi masyarakat.Dok. Wikimedia Commons/Kayree kh Fenomena sinkhole di daerah bukit kapur bukanlah hal baru. Pakar jelaskan proses dan bahayanya bagi masyarakat.

Fenomena sinkhole dapat menjadi cukup berbahaya. Risiko meningkat jika kejadian terjadi di area permukiman atau dekat dengan rumah warga.

Lubang yang muncul secara mendadak berpotensi menyebabkan kecelakaan. Tanah bisa ambruk tanpa tanda awal yang jelas, sedangkan wrga yang melintas atau beraktivitas di sekitar lokasi dapat terancam keselamatannya.

Ade menduga sinkhole di Nagari Situjuah Batua terjadi akibat penyumbatan di bawah tanah. Retakan yang terbentuk membuat lapisan tanah kehilangan penopang. Akibatnya, tanah ambruk dalam waktu singkat.

"Jadi, ini bukan fenomena baru di Situjuah. Masyarakat lokal kerap menyebutnya dengan istilah Sawah Luluih," ujar dia.

Baca juga: SCG Genjot Semen Rendah Karbon, Kurangi Batu Bara, Pakai Sampah untuk Energi

Apa langkah pencegahan yang bisa dilakukan?

Ade menyarankan agar pemerintah daerah dan masyarakat segera mengambil langkah pencegahan. Lubang yang muncul perlu ditutup atau ditimbun secepat mungkin.

Material yang bisa digunakan, antara lain tanah, pasir, dan batu. Setelah itu, perlu dilakukan pengecoran agar struktur tanah menjadi lebih stabil.

Langkah ini penting untuk mencegah kecelakaan lanjutan. Upaya penanganan juga dapat mengurangi risiko lubang semakin melebar.

Baca juga: Atasi Batu Sandungan Emisi Sektor Energi, Pensiunkan PLTU Jadi Solusi

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Studi: 15 Persen Pemanasan Global Berasal dari Polutan yang Sering Diabaikan
Pemerintah
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
Ekonom: Kenaikan Harga Pertamax Green Pertanda Gagalnya Program Bioetanol
LSM/Figur
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
Studi: CEO yang Kompeten Lebih Konsisten Komunikasikan Risiko Iklim Perusahaan
LSM/Figur
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
WRI: Mayoritas Negara G20 Gagal Penuhi Target Atasi Perubahan Iklim
Pemerintah
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan 'Sanctuary Park'
Lindungi Flora dan Fauna Endemik Halmahera, IWIP Resmikan "Sanctuary Park"
Swasta
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
Walhi: Wacana Kenaikan Tarif Transjabodetabek Ancam Upaya Pengendalian Polusi Udara
LSM/Figur
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Pemerintah
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
KLH Berikan Penghargaan Kalpataru ke 16 Pegiat Lingkungan, Ini Daftarnya
Pemerintah
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
IESR Desak Pemerintah Investigasi Penyebab Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa
LSM/Figur
BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
BMKG Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Peluang Terjadinya El Nino
Pemerintah
Grab Indonesia Bakal Tambah Armada EV Tiga Kali Lipat Demi Pangkas Karbon
Grab Indonesia Bakal Tambah Armada EV Tiga Kali Lipat Demi Pangkas Karbon
Pemerintah
Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi
Perang Nuklir Skala Kecil di Wilayah Tropis Berpotensi Rusak Total Lapisan Ozon Bumi
Pemerintah
Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Google Gandeng American Airlines Borong 132 Juta Liter Avtur Berkelanjutan
Swasta
Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Aset Miliarder Dunia Sumbang Kerusakan Iklim Paling Parah
Pemerintah
IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
IPB University Kucurkan Hibah untuk Akselerasi Startup dan Hilirisasi Riset
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau