KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga di Sulawesi sebagai taman nasional dan warisan dunia.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Hendra Gunawan menilai bahwa langkah tersebut dapat menjawab krisis iklim dan deforestasi, serta meningkatnya risiko bencana ekologis di wilayah garis Wallacea.
Baca juga:
“Pengusulan taman nasional dan warisan dunia merupakan langkah preventif berbasis bukti ilmiah, bukan keputusan politis,” kata Hendra dalam keterangannya, dilansir Selasa (6/1/2026).
Hal itu ia sampaikan pada Konferensi Wallacea Expeditions yang membahas usulan pembentukan kawasan konservasi berbasis lanskap seluas sekitar 6.000 kilometer.
Lanskap itu mencakup wilayah Sombori, Matarombeo, Tangkelemboke, dan Pegunungan Mekongga di Sulawesi Tenggara.
Berdasarkan penelitian, kawasan Wallacea kehilangan sekitar 1,37 juta hektar hutan dalam satu dekade terakhir. Sulawesi Tenggara menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak.
Sebagai informasi, dilaporkan oleh Kompas.com, Kamis (2/10/2025), "Wallacea" merujuk pada garis yang mengindikasikan keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya di Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.
Hendra menyebut, kompleks Pegunungan Mekongga seluas 258 hektar menjadi kawasan yang diusulkan sebagai taman nasional, lantaran berperan bagi tiga daerah aluran sungai (DAS) serta 30 sungai yang menopang sistem hidrologi regional.
Kawasan Wallacea. Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga, Sulawesi diusulkan menjadi taman nasional dan warisan dunia."Kawasan ini juga menyimpan bentang ekosistem langka, mulai dari hutan sub-montana hingga sub-alpin, yang menjadi habitat berbagai satwa endemik Sulawesi, seperti anoa, babirusa, rangkong sulawesi, hingga tarsius,” papar dia.
Hendra optimistis bahwa hasil riset International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) dan rangkaian Wallacea Scientific Expedition Series mengungkap adanya potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa.
Sejumlah spesies mamalia, flora, serangga, serta ratusan mikroorganisme diduga menjadi spesies baru yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Halu Oleo, La Ode Santiaji Bande memyatakan bahwa lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga memiliki nilai keanekaragaman hayati, geologi, dan arkeologi yang layak diakui sebagai warisan dunia.
Maka dar itu, dia sepakat dengan usulan lanskap tersebut menjadi taman nasional sekaligus warisan dunia.
Baca juga:
Tampak bayi anoa bernama Raden bersama induknya di Anoa Breeding Centre (ABC) yang dikelola oleh BPSILHK Manado bekerjasama dengan BKSDA Sulawesi Utara. Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga, Sulawesi diusulkan menjadi taman nasional dan warisan dunia.BRIN menilai momentum kebijakan saat ini sangat krusial untuk menghidupkan kembali komitmen daerah yang telah dideklarasikan sejak tahun 2013.
Penetapan taman nasional dan warisan dunia harus dianggap sebagai instrumen perlindungan ekologis jangka panjang yang menjamin ketahanan air, keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.
“Menunda penetapan berarti mempertaruhkan masa depan. Bertindak sekarang adalah investasi ekologis bagi generasi mendatang,” tutur Hendra.
Adapun Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua berkomitmen menyerahkan proses penetapan ini ke Kementerian Kehutanan.
Sebagai informasi, taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, serta rekreasi.
Berdasarkan hierarki penatagunaan fungsi kawasan hutan, taman nasional termasuk Kawasan Pelestarian Alam (KPA), bagian dari hutan konservasi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya