KOMPAS.com - Polutan secara umum bisa mengganggu keberlangsungan burung laut liar, khususnya dari segi produksi energi pada tingkat seluler, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Environment & Health.
Dalam studi ini, peneliti fokus pada burung camar Scopoli yang berkembang biak di Linosa, sebuah pulau vulkanis kecil dan terpencil di Selat Sisilia, Italia.
Baca juga:
"Polusi kimia adalah salah satu ancaman yang lebih kompleks terhadap ekosistem laut di semua tingkatan karena sifatnya yang tidak mencolok dan dampaknya yang beragam," kata salah satu penulis pertama dan mahasiswa pascasarjana di Universitas Giessen, Jerman, Lucie Michel, dilansir dari Phys.org, Jumat (9/1/2026).
Para ilmuwan mencatat bahwa kontaminan yang tersebar luas, seperti merkuri dan senyawa kimia "abadi" atau PFAS tertentu, memengaruhi fungsi mitokondria burung.
Mitokondria merupakan pembangkit energi seluler kecil yang menghasilkan energi untuk berbagai aktivitas, dari terbang hingga reproduksi.
Baca juga:
Studi terbaru mengungkap polutan laut seperti merkuri dan PFAS merusak mitokondria burung laut. Simak selengkapnya.Di lautan, merkuri sering kali diubah oleh bakteri menjadi metilmerkuri yang sangat berbahaya, yang kemudian menumpuk di dalam jaringan tubuh dan konsentrasinya meningkat seiring naiknya rantai makanan.
PFAS, yang merupakan bahan kimia sintetis abadi yang ditemukan dalam berbagai produk termasuk alat masak anti lengket dan kain tahan noda, terus menumpuk dalam jumlah yang lebih besar.
Penumpukan tetap terjadi meski ada upaya internasional untuk mengendalikan penggunaannya.
Polutan tersebut sangat beracun, bahkan pada konsentrasi rendah dan mencapai lautan melalui atmosfer serta aliran air permukaan.
Baca juga: KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir
Studi laboratorium menunjukkan bahwa zat-zat tersebut dapat memengaruhi produksi energi dalam mitokondria, tapi tidak mencerminkan tingkat pencemaran yang ditemukan di ekosistem saat ini dan bagaimana efeknya pada satwa liar.
Untuk mengetahuinya, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Stefania Casagrande, seorang ilmuwan di Institut Max Planck untuk Intelijen Biologis, mengukur kadar polutan sekaligus fungsi mitokondria pada burung laut Scopoli.
Peneliti tidak hanya melihat apakah ada racun di tubuh burung, tapi juga memeriksa apakah mitokondria yang berfungsi sebagai pembangkit energi seluler kecil di dalam sel burung masih bekerja dengan baik atau tidak.
Mitokondria ini menggerakkan produksi adenosin trifosfat (ATP) yang digunakan sel untuk melakukan segala aktivitas mulai dari menggerakkan otot sayap untuk terbang atau mencerna makanan.
Jika produksi ATP turun, burung tersebut secara teknis mengalami "krisis energi".
Studi terbaru mengungkap polutan laut seperti merkuri dan PFAS merusak mitokondria burung laut. Simak selengkapnya.Tim peneliti menemukan pada burung dengan kadar merkuri yang lebih tinggi, membran mitokondria menjadi lebih berpori sehingga menyebabkan membuat energi terbuang.
Sebaliknya, kadar tinggi senyawa PFAS tertentu meracuni mereka dari dalam dengan merusak sistem pembuangan limbah sel mereka.
Gangguan produksi energi ini tentu akan memengaruhi kebugaran mereka dalam beraktivitas, mulai dari terbang hingga reproduksi.
“Polutan yang menjadi perhatian global, seperti PFAS dan merkuri, sudah dikenal sebagai zat beracun. Namun, baru sekarang kemajuan dalam teknologi memungkinkan kita untuk memahami dampaknya terhadap satwa liar pada skala ekosistem yang berguna untuk mengembangkan pendekatan konservasi," kata Guadalupe Lopez-Nava, penulis pertama bersama dan mahasiswa pascasarjana di Max Planck Institute for Biological Intelligence.
Para ilmuwan mengatakan, memahami jalur paparan yang berbeda ini sangat penting untuk melindungi populasi burung laut dan mengembangkan strategi pengurangan polusi yang tepat sasaran.
Selain satwa liar, pemantauan jangka panjang akan sangat penting untuk memahami dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Baca juga: Menyelamatkan Burung Laut, Menyelamatkan Lautan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya