Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perempuan Migran Rentan Alami Kekerasan dan Eksploitasi Menurut UN Women

Kompas.com, 13 Januari 2026, 12:30 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber UN Women

KOMPAS.com - Perempuan migran, termasuk pekerja migran perempuan, berisiko mengalami kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi, menurut UN Women yang berada di bawah naungan PBB. 

Bahkan, di beberapa rute migrasi, perempuan terancam dipaksa bekerja di luar kehendak mereka dan menghadapi ancaman penculikan.

Baca juga:

Kekerasan selalu ada di semua tahapan migrasi, mulai dari perjalanan, penyeberangan perbatasan, kehidupan di negara tujuan, hingga pada kepulangan mereka.

"Perempuan migran sering kali mengalami kekerasan berulang oleh pelaku yang berbeda. Risikonya sangat tinggi bagi perempuan yang bepergian tanpa dokumen, dengan sedikit dan tanpa informasi tentang migrasi yang aman atau sumber daya keuangan yang terbatas sehingga mereka berisiko lebih besar menjadi korban pemerasan dan eksploitasi," tulis keterangan resmi UN Women, dilansir Selasa (13/1/2026).

Perempuan migran berisiko alami kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi

Risiko semakin besar bila tidak lewat jalur resmi

UN Women memperingatkan perempuan migran berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan manusia.KOMPAS.com/JOY ANDRE T UN Women memperingatkan perempuan migran berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan manusia.

Menurut catatan, satu dari tiga perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual, dengan perempuan migran menghadapi risiko yang lebih tinggi.

UN Women menyatakan, hak-hak kaum perempuan seakan ikut ditinggalkan ketika kaki mereka melangkah pergi dari negara asalnya.

Perempuan migran juga kerap kali diberikan janji palsu dengan iming-iming pekerjaan. Mereka harus membayar sejumlah uang, dan tak sedikit yang terlilit utang.

Situasi ini membuat korban terpaksa bergantung pada perekrut kerja, tak mampu menolak tuntutan, dan akhirnya sangat rentan terhadap eksploitasi yang berujung pada perdagangan manusia.

"Bagi perempuan yang menggunakan jalur tidak resmi, risikonya makin besar. Perempuan mengalami perjalanan yang ditandai dengan pemerasan, pelecehan, dan penyerangan oleh penyelundup, pedagang manusia, dan pejabat korup serta migran lainnya," tulis UN Women.

Di sepanjang koridor Afrika Selatan–Zimbabwe, misalnya, Human Rights Watch melaporkan bahwa hampir semua perempuan migran yang baru tiba diperkosa atau menyaksikan pemerkosaan selama penyeberangan.

Beberapa laki-laki yang diwawancarai mengakui bahwa mereka memperkosa perempuan migran sebagai harga untuk izin memasuki Afrika Selatan.

Sementara itu, di Celah Darien, antara Kolombia dengan Panama, kasus kekerasan seksual melonjak tujuh kali lipat pada tahun 2024.

Baca juga:

Risiko perdagangan manusia

UN Women memperingatkan perempuan migran berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan manusia.SHUTTERSTOCK/hei iyoet UN Women memperingatkan perempuan migran berisiko mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perdagangan manusia.

UN Women menyampaikan, para pelaku perdagangan manusia memperlakukan tenaga kerja dan tubuh perempuan sebagai komoditas yang dapat dibeli, dijual, dikendalikan, ataupun dilanggar.

Perempuan tiga kali lebih mungkin diperdagangkan untuk kerja paksa dibandingkan laki-laki akibat mengakarnya ketidaksetaraan gender.

"Bagi jutaan perempuan, perdagangan manusia berarti ditipu, dikurung, dilecehkan secara seksual, atau dijual untuk pekerjaan yang tidak dapat mereka tinggalkan. Banyak yang tidak berhasil keluar hidup-hidup," tulis UN Women.

Perdagangan manusia berkembang subur di tempat perempuan dipandang sebagai komoditas yang dapat dieksploitasi.

Pemicunya adalah lemahnya perlindungan seiring permintaan pekerja bergaji murah di sektor pertanian, garmen, pekerja rumah tangga, dan perhotelan.

Upah rendah dan ketergantungan pada majikan untuk status migrasi mereka memudahkan perempuan migran dikendalikan dan dibungkam. Sebab, banyak yang berisiko kehilangan pekerjaan atau izin tinggal jika mereka mencoba melapor.

Baca juga:

Teknologi juga membuat kejahatan ini semakin sulit dilacak. Para pelaku menggunakan media sosial, aplikasi perpesanan, dan platform terenkripsi untuk membuat profil, merekrut, serta memanipulasi perempuan migran.

Jaringan perdagangan manusia juga disebut bergantung pada mata uang kripto untuk memindahkan dan mencuci keuntungan lintas batas. Akibatnya, operasi dan aliran keuangan mereka kian sulit dilacak

Studi menunjukkan, 87 persen korban perbudakan rumah tangga adalah perempuan dan anak perempuan.

Sebanyak 15 persen korban perdagangan manusia dalam pekerjaan rumah tangga mengalami pelecehan seksual.

Survei tahun 2023 di Thailand menemukan enam dari 10 pekerja rumah tangga migran Myanmar melaporkan kekerasan.

Di sisi lain, UN Women juga menyoroti stigma dan pengucilan ketika migram mengalami kekerasan berbasis gender ataupun usai menjadi korban perdagangan manusi.

Kondisi ini banyak terjadi di Ethiopia dan Bangladesh, di mana pekerja rumah tangga yang kembali ke negara asal mereka dikucilkan masyarakat setempat.

Di Ethiopia, perempuan yang mengalami pelecehan di luar negeri dicap sebagai pekerja migran gagal, sedangkan di Bangladesh eksploitasi dalam pekerjaan rumah tangga dianggap mempermalukan keluarga.

"Penilaian ini memperdalam isolasi dan membuat pemulihan serta reintegrasi menjadi lebih sulit," tulis UN Women.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau