KOMPAS.com - Beberapa jenis nyamuk disebut semakin bergantung pada darah manusia sebagai sumber makanan mereka. Menurut penelitian terbaru, hal ini disebabkan turunnya keanekaragaman hayati.
"Dengan semakin sedikitnya pilihan sumber darah alami yang tersedia, nyamuk terpaksa mencari sumber darah alternatif baru," ucap mikrobiolog dari Federal University of Rio de Janeiro, Sergio Machado, dilansir dari Science Alert, Jumat (16/1/2026).
Baca juga:
"Mereka akhirnya lebih sering mengisap darah manusia karena kemudahan karena kita adalah inang yang paling umum di daerah-daerah tersebut," tambah dia.
Namun, konsekuensi dari serangan nyamuk ini lebih mengerikan daripada hanya gatal-gatal di kulit.
Nyamuk adalah vektor utama penyakit sehingga perubahan preferensi untuk menggigit manusia dapat memiliki implikasi kesehatan yang besar.
Adapun penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Federal University of Rio de Janeiro dan Oswaldo Cruz Institute, serta diterbitkan di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution.
Baca juga:
Penelitian terbaru menemukan nyamuk semakin bergantung pada darah manusia akibat turunnya keanekaragaman hayati dan deforestasi.Dalam studi ini, tim peneliti memasang perangkap cahaya di dua cagar alam di Hutan Atlantik, Brasil, untuk menangkap 52 spesies nyamuk.
Tim kemudian memisahkan nyamuk betina yang telah mengisap darah dari sampel lebih dari 1.700 individu.
Dari jumlah tersebut, 24 sampel mengandung DNA yang dapat diidentifikasi, yang berisi jejak 18 manusia yang berbeda.
Kelompok tertinggi berikutnya adalah burung, dengan darah dari enam burung berbeda yang terdapat dalam sampel nyamuk.
Sementara itu, darah amfibi, hewan pengerat, dan anjing masing-masing muncul sekali dalam sampel.
"Di sini kami menunjukkan bahwa spesies nyamuk yang kami tangkap di sisa-sisa Hutan Atlantik memiliki preferensi yang jelas untuk menghisap darah manusia," kata ahli biologi di Oswaldo Cruz Institute, Jeronimo Alencar.
Baca juga:
Penelitian terbaru menemukan nyamuk semakin bergantung pada darah manusia akibat turunnya keanekaragaman hayati dan deforestasi.Ada beberapa alasan mengapa jumlah darah manusia yang ditemukan sangat tinggi dalam sampel nyamuk.
Namun, alasan yang paling jelas adalah meningkatnya deforestasi. Alasan lainnya adalah ada lebih banyak manusia di sekitar wilayah tersebut.
Lebih lanjut, tim peneliti mennyampaikan bahwa analisis yang lebih detail diperlukan, termasuk kemungkinan metode yang lebih baik untuk menangkap serangga.
Perangkap cahaya jauh lebih mungkin menarik nyamuk yang lapar, sedangkan nyamuk yang baru saja makan lebih suka tidur sehingga lebih sulit ditangkap.
Pemahaman yang lebih baik tentang kebiasaan makan nyamuk dapat meningkatkan strategi pencegahan penyakit.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya