Namun, para peneliti menekankan bahwa perkiraan tersebut masih bersifat konservatif karena belum mencakup dampak gabungan ketika peristiwa ekstrem terjadi secara bersamaan, seperti gelombang panas dan kekeringan.
Perkiraan ini juga tidak termasuk biaya bahaya, seperti kebakaran hutan, yang memecahkan rekor di seluruh Eropa tahun ini, atau kerusakan akibat hujan es dan angin dari badai.
“Kita memasuki realitas baru dunia dengan kenaikan suhu 1,5 derajat celsius, yang mana risiko fisik yang intens saat ini mengancam perekonomian, biaya hidup, dan sistem keuangan, dan titik kritis bencana sudah di depan mata,” kata Dr. Jesse Abrams dari University of Exeter.
Seiring dengan percepatan laju pemanasan global, guncangan iklim kemungkinan akan datang lebih cepat dan membawa dampak yang lebih langsung dan intens terhadap perekonomian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya