Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba

Kompas.com, 21 Januari 2026, 12:13 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Emisi karbon yang dilepaskan dari lempeng teknonik bumi memicu perubahan iklim pada zaman purba, menurut studi yang dipublikasikan di Communications Earth & Environment.

Studi yang dipimpin peneliti dari University of Melbourne dan University of Sydney itu merekonstruksi pergerakan karbon antara gunung berapi, lautan, dan bagian dalam bumi selama 540 juta tahun terakhir.

Baca juga: 

Penelitiannya memberikan gambaran baru tentang mekanisme perubahan iklim jangka panjang bum, ,sekaligus hubungannya dengan laju perubahan iklim yang terjadi saat ini.

Peneliti School of Geography, Earth and Atmospheric Sciences, University of Melbourne, Ben Mather menjelaskan, riset tersebut bertentangan dengan pernyataan yang menyebut rangkaian gunung berapi akibat tumbukan lempeng teknonik sebagai sumber utama emisi karbon di atmosfer.

"Temuan kami menunjukkan bahwa gas karbon yang dilepaskan dari celah dan punggungan di dasar samudera akibat pergerakan lempeng tektonik kemungkinan menjadi penggerak utama perubahan besar antara iklim dingin dengan iklim panas sepanjang sebagian besar sejarah di bumi," ujar Mather, dilansir dari Phys.org, Rabu (21/1/2026).

Emisi karbon dari lempeng bumi picu perubahan iklim

Jelaskan pergeseran iklim penting dalam sejarah bumi

Karbon yang dilepaskan dari lempengan tektonik bumi disebut telah memicu perubahan iklim sejak zaman purba. Freepik Karbon yang dilepaskan dari lempengan tektonik bumi disebut telah memicu perubahan iklim sejak zaman purba.

Penelitian ini menemukan, emisi karbon dari aktivitas vulkanik, seperti di kawasan Cincin Api Pasifik, baru menjadi sumber karbon utama dalam sekitar 100 juta tahun terakhir.

Hal tersebut menantang pemahaman ilmiah yang selama ini berkembang.

Peneliti lainnya, Profesor School of Geosciences University of Sydney, Dietmar Muller menyampaikan, dengan memadukan rekonstruksi global lempeng tektonik dan pemodelan siklus karbon, timnya bisa menelusuri bagaimana karbon disimpan, dilepaskan, ataupun didaur ulang seiring pergeseran benua.

Studinya disebut dapat membantu menjelaskan pergeseran iklim penting dalam sejarah bumi.

Baca juga:

"Termasuk zaman es Paleozoikum akhir, rumah kaca (greenhouse) Mesozoikum yang hangat, serta kemunculan iklim dingin (icehouse) Kenozoikum modern, dengan menunjukkan bagaimana perubahan pelepasan karbon dari lempeng yang menyebar membentuk transisi iklim jangka panjang tersebut,” jelas Muller.

Tim peneliti menyampaikan, keseimbangan pelepasan karbon dari aktivitas geologi dan penyerapan karbon ke dalam litosfer samudera menjadi faktor utama yang mengendalikan pergeseran iklim besar.

Pada periode iklim hangat, emisi karbon dari busur vulkanik, punggung tengah samudra, dan retakan benua melebihi kemampuan bumi menyerap karbon.

"Sebaliknya, pada periode zaman es, penyerapan karbon oleh lempeng samudra justru lebih dominan dibandingkan emisi," tulis peneliti, dilansir dari Nature.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RI Gabung 'The Coalition to Grow Carbon Markets' untuk Perkuat pembiayaan Iklim
RI Gabung "The Coalition to Grow Carbon Markets" untuk Perkuat pembiayaan Iklim
Swasta
OpenAI Siapkan Rencana Stargate agar Pusat Data AI Tak Bebani Warga
OpenAI Siapkan Rencana Stargate agar Pusat Data AI Tak Bebani Warga
Swasta
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
LSM/Figur
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Pemerintah
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
Swasta
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Pemerintah
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau