Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru di Jombang Ajak Siswa Bijak Konsumsi Gula Lewat Program Sugar Smart Squad

Kompas.com, 10 Februari 2026, 08:44 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Minuman manis sudah menjadi bagian dari keseharian remaja—dibeli di perjalanan ke sekolah, diminum saat istirahat, lalu diulang hampir setiap hari. Dari kebiasaan itulah, seorang guru di Jombang memulai gerakan kecil untuk mengajak siswa lebih bijak mengonsumsi gula.

Adalah Achmad Uzlul Rozik, seorang guru di SMK Sehat Insan Perjuangan, yang menggagas  edukasi untuk membantu siswa memahami dan membatasi konsumsi gula harian melalui Sugar Smart Squad (3S), sebuah.

Lewat pendekatan Project-Based Learning, program ini telah mendorong 89 persen siswa untuk mulai mengontrol asupan gula mereka, sekaligus mengantarkan 3S meraih posisi runner-up pada kategori Physical Well-Being Project dalam ASRI 2025.

Baca juga: WHO Tetapkan Standar Global untuk Makanan Sekolah, Batasi Gula dan Garam

Minuman Bergula jadi Awal 3S

Di sekolah, minuman manis bisa ditemukan dimana aja. Dibeli di perjalanan, diminum saat istirahat, lalu perlahan sudah menjadi bagian dari rutinitas. Achmad melihat kebiasaan itu dari jarak dekat.

Ada siswa dengan berat badan berlebih. Ada yang hampir setiap hari membawa minuman berasa. Ada pula kekhawatiran yang lebih besar tentang meningkatnya risiko penyakit di usia yang semakin muda.

Semua itu tidak muncul sebagai satu peristiwa besar, melainkan potongan-potongan kecil yang berulang. Dari situlah muncul dorongan untuk tidak sekadar menegur, tetapi mengajak siswa memahami apa yang mereka konsumsi.

Berapa sebenarnya gula yang kita minum hari ini?

Pertanyaan sederhana itu menjadi awal dari Sugar Smart Squad. Bukan gerakan untuk menjauhi gula sepenuhnya, melainkan upaya membangun kesadaran.

"Di kelas, siswa diajak membaca Nutri-Grade, menghitung kandungan gula lewat kalkulator sederhana, dan mencatat konsumsi harian menggunakan kartu 3S. Tidak ada ceramah panjang. Yang ada justru diskusi, rasa ingin tahu, dan perbandingan antar pilihan," kata Achmad.

Baca juga: Gula dan Minyak Goreng Juga Sumber Emisi, Industri Perlu Hitung Dampaknya

Peran siswa pun bergeser. Mereka tidak lagi menjadi penerima aturan, tetapi pengambil keputusan. Minuman manis tetap ada, tetapi kini disertai pertimbangan. Memilih karena paham, bukan karena terbiasa.

Tidak Selalu Berjalan Mulus

Proses ini tidak selalu berjalan mulus. Saat mencoba melibatkan pedagang untuk uji coba Nutri-Grade, penolakan pun muncul. Bagi sebagian pihak, langkah kecil seperti itu terasa merepotkan.

Namun, Achmad dan siswa tidak berhenti. Mereka mencari jalur lain, berkoordinasi lintas kelas, bahkan melibatkan keluarga yang berprofesi sebagai pedagang. Edukasi tetap berjalan, meski caranya berubah.

Justru dari situ, pelajaran penting muncul. Perubahan jarang datang dalam bentuk ideal. Ia sering menuntut penyesuaian, kesabaran, dan kemauan untuk terus mencari jalan.

Dampak 3S mulai terasa ketika program ini dibawa keluar sekolah. Bersama siswa, Achmad melakukan edukasi ke beberapa sekolah dasar. Anak-anak diminta mengamati minuman yang mereka bawa sendiri.

Mereka memindai barcode, membaca komposisi, lalu menghitung kadar gula. Suasananya cair. Ada tawa, ada rasa penasaran, dan ada momen ketika anak-anak mulai saling bertanya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau