Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

200 UMKM Jajakan Produk untuk Dipasarkan di Ritel lewat Meet The Market

Kompas.com, 11 Februari 2026, 16:28 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 200 usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjajakan produk unggulannya melalui acara bertajuk Meet The Market Road to InaBuyer 2026, agar bisa dipasarkan di ritel modern domestik atau ekspor ke pasar internasional.

Direktur Utama Smesco Indonesia, Doddy Akhmadsyah Matondang mengatakan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal sebeum digelarnya InaBuyer 2026, program kerja sama Kementerian UMKM dan Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) yang mempertemukan UMKM potensial dengan jaringan ritel. 

Baca juga: 

"Harapan kami nanti pada saat InaBuyer 2026-nya, kami sudah bisa sampaikan bahwa kami sudah berhasil memfasilitasi berapa UMKM masuk ke ritel modern dengan nilai transaksi berapa, dan ini kira-kira ke depan bisa berkembang jadi berapa," ujar Doddy saat ditemui di Gedung Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2026).

"Meet The Market atau jumpa pasar ini adalah fasilitasi untuk antara UMKM dengan gerai ritel modern dan jaringan-jaringan yang bisa membantu untuk ekspor ke luar negeri," imbuh dia.

Meet The Market Road to InaBuyer 2026

Targetkan potensi transaksi Rp 2,1 triliun atau lebih

Peserta UMKM dalam acara Meet the Market Road to InaBuyer 2026, Rabu (11/2/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Peserta UMKM dalam acara Meet the Market Road to InaBuyer 2026, Rabu (11/2/2026).

Doddy menyebutkan, pada penyelenggaraan InaBuyer 2025, tercatat potensi transaksi hingga Rp 2,1 triliun. Melalui skema road to InaBuyer ini, pihaknya menargetkan capaian dengan angka yang sama atau bahkan lebih tinggi.

Setiap pertemuan antara UMKM dengan pembeli dilengkapi formulir evaluasi berisi catatan dan persyaratan dari pihak ritel. Selanjutnya akan dipantau dalam kurun waktu 30 hari setelah pertemuan.

"30 hari lagi kami akan monitor sudah terjadi transaksi apa belum. Kalau belum kenapa, karena posisinya kami akan megangin sisi buyer-nya dan sisi seller-nya. Harapan kami targetnya mudah-mudahan angka-angka yang tadi disebutkan yang berkembang segala macam ya bisa kami kejar ke arah sana," tutur Doddy.

Sejauh ini ada 25 ritel dan mitra yang telah menyatakan komitmen untuk memasarkan produk UMKM terdaftar. Smesco turut menggandeng berbagai lembaga dan institusi yang memiliki jaringan distribusi dalam hingga luar negeri, termasuk yayasan dan organisasi pengekspor. 

Smesco pun menggandeng PT Pos Indonesia dan MRT guna membuka peluang distribusi produk UMKM tidak hanya melalui rak ritel modern, tapi juga melalui jalur komunitas serta institusi.

Baca juga: 

Seleksi ketat 

Ilustrasi UMKM. Meet the Market mempertemukan 200 pelaku UMKM untuk menawarkan produknya agar bisa dijual di ritel modern. SHUTTERSTOCK/BASTIAN AS Ilustrasi UMKM. Meet the Market mempertemukan 200 pelaku UMKM untuk menawarkan produknya agar bisa dijual di ritel modern.

Setidaknya ada 587 pendaftar Meet The Market Road to InaBuyer 2026, dengan hanya 200 di antaranya yang dinyatakan lolos proses kurasi untuk bertemu calon pembeli.

Doddy menjelaskan, seleksi dilakukan berdasarkan kriteria utama yakni kualitas produk, kontinuitas pasokan, kapasitas produksi, serta kesiapan pembiayaan.

Di samping itu, pengalaman ekspor menjadi nilai tambah. UMKM yang produknya sudah diterima di pasar luar negeri memiliki peluang lebih besar untuk masuk pasar domestik modern.

Lima kategori produk yang difokuskan dalam kegiatan ini meliputi makanan dan minuman, pertanian, kriya, aksesori, dan wellness (produk terkait kebugaran).

"Memang kali ini kami pilih lima karena ini yang diminta, ini yang menjadi kayaknya demand (permintaan) tertingginya dari gerai ritel modern hari ini," tutur Doddy.

Baca juga:

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Kecil Menengah Kementerian UMKM, Temy Satya Permana mengakui masih banyak produk impor yang dijual di ritel modern dalam negeri.

Hal ini, lanjut Temy, bukan karena pelaku usaha besar enggan bermitra dengan UMKM, melainkan akibat keterbatasan kapasitas dan konsistensi pasokan.

"Kalau bicara kemitraan antara usaha besar dengan UMKM, saya harus mengingatkan bahwa ada 3K yang harus Bapak-Ibu pegang yakni kualitas, kontinuitas, dan kapasitas. Berurusan dengan usaha besar bukan sekadar punya barang atau produk bagus, tetapi selanjutnya seperti apa termasuk masalah kebijakan harga yang benar," papar Temy.

Dia lalu mengingatkan kepada pelaku UMKM betapa pentingnya membangun merek sendiri dalam skema kemitraan, agar konsumen tak salah persepsi terhadap produk yang dijajakan.

"Di forum ini Meet the Market saya harapkan dapat menjadi ajang bertemunya Bapak-Ibu dengan teman-teman pengusaha besar. Catat peluang-peluang yang ada, dan kita harus open-minded apabila ternyata kurasi demikian ketat, wajar karena saingannya pun adalah produk-produk impor," tutur dia.

Pemerintah mewajibkan belanja minimal 40 persen produk UMKM dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah maupun BUMN. Maka dari itu, Temy mendorong sektor swasta untuk turut memperluas kemitraan dengan UMKM.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
RUU Migas Dinilai Harus Selaras dengan Transisi Energi
LSM/Figur
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
KLH Beberkan Kronologi Kadis LH Jakarta Jadi Tersangka, Terancam 6 Tahun Penjara
Pemerintah
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Krisis Iklim Lemahkan Keandalan EBT, Terlalu Panas untuk PLTS dan Terlalu Berangin bagi PLTB
Pemerintah
Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun  bagi Perekonomian Global
Ekonomi Sirkular Berpotensi Sumbang Rp512,7 Kuadriliun bagi Perekonomian Global
Pemerintah
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Aturan EUDR Ditunda, Impor Daging dari Amazon Brasil Terus Naik
Pemerintah
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
Konsumen Berharap Perusahaan Lebih Aktif Lindungi Sumber Air
LSM/Figur
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Vietnam Perpanjang Potongan Pajak Kendaraan Listrik Hingga 2030
Pemerintah
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
Perang Timur Tengah: Warganet Soroti Kebijakan WFH hingga Kenaikan Harga Plastik
LSM/Figur
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Gunakan Energi Terbarukan, Apple Kurangi Emisi 26 Juta Ton di Rantai Pasoknya
Pemerintah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau