Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Atasi Air Sadah di Sumbawa, Siswa SMAN 1 Kembangkan Alat Distilasi Sederhana

Kompas.com, 12 Februari 2026, 18:17 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Editor

KOMPAS.com - Untuk masyarakat di Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), air yang meninggalkan kerak di ketel menjadi keseharian. Air tersebut sulit berbusa saat bercampur sabun dan terasa kurang nyaman saat digunakan.

Selama bertahun-tahun, kondisi yang dikenal sebagai air sadah ini diterima begitu saja sebagai hal yang wajar.

Baca juga:

Kebiasaan itulah yang kemudian dipertanyakan oleh sekelompok siswa SMAN 1 Sumbawa Besar yang tergabung dalam tim SMANIKA MALVA beranggotakan Azka Fachrizal Arhab, Mohammad Zulfikar Aulia, dan Raghil Muhammad Agsa.

Berangkat dari pengamatan sederhana di lingkungan sekitar, mereka mengembangkan Prototipe Evaseditor Water, alat distilasi sederhana yang dirancang untuk mengurangi kandungan zat kapur dalam air rumah tangga.

Inovasi ini mengantarkan mereka menjadi pemenang kategori Nature Conservation Project di ASRI Awards 2025.

Siswa SMAN 1 Sumbawa Besar bikin alat distilasi sederhana

Masalah sehari-hari yang dianggap biasa

Masalah air sadah bukan hal baru bagi tim SMANIKA MALVA. Kerak yang menumpuk pada peralatan dapur, pipa yang cepat rusak, dan keluhan masyarakat soal kualitas air sudah sering mereka temui.

Namun, titik balik muncul ketika dampaknya mulai terasa lebih nyata. Peralatan rumah tangga tak lagi berfungsi optimal, sedangkan kekhawatiran akan dampak kesehatan jika air tersebut dikonsumsi terus-menerus makin sering terdengar.

Dari situ muncul kesadaran bahwa masalah ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan persoalan kualitas air yang belum tertangani secara praktis di tingkat rumah tangga.

Mereka juga menyadari bahwa teknologi pemurnian air yang tersedia belum tentu mudah diakses atau sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Baca juga:

Solusi sederhana dari pengalaman nyata

Evaseditor Water dikembangkan dengan prinsip yang sederhana. Alat ini menggabungkan proses evaporasi dan sedimentasi untuk memisahkan zat kapur dari air.

Desainnya dibuat agar mudah diterapkan dan terjangkau, menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Proyek ini tidak lahir dari konsep ilmiah semata, melainkan dari pengalaman langsung melihat dan merasakan persoalan air sadah di lingkungan sekitar.

Dari proses perancangan hingga pengujian, para siswa terlibat langsung, belajar dari percobaan yang belum berhasil, dan terus melakukan perbaikan.

Belajar melihat diri sendiri sebagai bagian dari solusi

Prototipe Evaseditor Water tim SMANIKA MALVA.Dok. Tim Prototipe Evaseditor Water tim SMANIKA MALVA.

Perjalanan bersama ASRI turut mengubah cara pandang mereka. Awalnya, mereka melihat diri sebagai pelajar yang mempelajari teori di kelas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perancis Minta Warga Batasi Makan Daging Demi Iklim dan Kesehatan
Perancis Minta Warga Batasi Makan Daging Demi Iklim dan Kesehatan
Pemerintah
Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan
Sektor Jasa Meningkat Namun Lapangan Kerja Layak Jauh dari Harapan
Pemerintah
Atasi Air Sadah di Sumbawa, Siswa SMAN 1 Kembangkan Alat Distilasi Sederhana
Atasi Air Sadah di Sumbawa, Siswa SMAN 1 Kembangkan Alat Distilasi Sederhana
LSM/Figur
40 Persen Perusahaan Lebih Hati-hati Komunikasikan Keberlanjutan
40 Persen Perusahaan Lebih Hati-hati Komunikasikan Keberlanjutan
LSM/Figur
Pemkab Paser Bangun 2 TPST, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Semen
Pemkab Paser Bangun 2 TPST, Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Semen
Pemerintah
AOP Exhibition, Wadah Berbagi Penerapan ESG untuk Anak Perusahaan Astra Otoparts
AOP Exhibition, Wadah Berbagi Penerapan ESG untuk Anak Perusahaan Astra Otoparts
Swasta
Hemat Energi dan Air, Palembang Icon Raih Sertifikasi EDGE Bertaraf Global
Hemat Energi dan Air, Palembang Icon Raih Sertifikasi EDGE Bertaraf Global
Swasta
Kompas Gramedia Resmikan 'Waste' Station untuk Daur Ulang Sampah
Kompas Gramedia Resmikan "Waste" Station untuk Daur Ulang Sampah
Swasta
149 Daerah Berstatus Sangat Kotor dalam Adipura, Kepala Daerahnya Bakal Diperiksa
149 Daerah Berstatus Sangat Kotor dalam Adipura, Kepala Daerahnya Bakal Diperiksa
Pemerintah
Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
Banjir Jadi Faktor Pendorong Polusi Plastik di Sungai dan Laut
LSM/Figur
Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Eropa Larang Pemusnahan Pakaian Tak Laku, Industri Fashion Wajib Kelola Stok
Pemerintah
Menteri LH Sebut Ada Dugaan Tindak Pidana Terkait Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel
Menteri LH Sebut Ada Dugaan Tindak Pidana Terkait Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel
Pemerintah
PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
PLTS Atap di Indonesia, Bagaimana dengan Limbahnya?
Swasta
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
Fenomena Overwork di Indonesia, Upah Rendah dan Jam Kerja Panjang
LSM/Figur
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
Data Satelit Ungkap Luasnya Jelajah Paus Biru Kerdil di Perairan Indonesia
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau