JAKARTA, KOMPAS.com - Isu Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dinilai masih belum banyak diketahui di tingkat pendidikan. Hal inilah yang membuat Akmal Abudiman Maulana bersama alumni SDG Academy Indonesia terjun ke sekolah-sekolah melalui program Balai Guru Penggerak.
Akmal bercerita, mulanya mengetahui program ini dari salah satu alumni angkatan keempat yang bekerja di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, waktu itu.
Baca juga:
"Kami coba lanjutkan untuk kami masuk, bagaimana bisa menyuarakan SDGs ini. Jadi kami mengadakan SDG Talk, yang menyasar guru-guru yang terhimpun di Balai Guru Penggerak kebanyakan kepala sekolah," kata Akmal dalam peluncuran SDG Academy Indonesia di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026).
Ilustrasi infografik 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.Kala itu, para alumni mengadakan forum di beberapa sekolah termasuk, di Ambon dan Sulawesi, dengan total 14.000 kepala sekolah yang menjadi peserta. Akmal mengaku, waktu itu banyak dari mereka yang tak mengetahui konsep SDGs.
"Di angkatan saya banyak banget local heroes yang memang sangat luar biasa inisiatifnya," tutur dia.
SDG Academy Indonesia dulunya dikelola United Nations Development Programme (UNDP), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Tanoto Foundation. Saat ini, platform tersebut dikelola langsung oleh Bappenas.
Dengan adanya transisi ini, Akmal berharap pendalaman SDGs di tingkat sekolah bisa terus berlanjut. Ia pertama kali mengenal SDG Academy dari media sosial. Saat itu, Akmal tengah mencari pelatihan yang relevan dengan pekerjaannya di bidang keuangan berkelanjutan.
Terlebih, pogram itu bisa diikuti secara gratis oleh pelaku usaha, pekerja swasta, dan akademisi.
“Buat kami yang bekerja, formatnya sangat membantu karena berlangsung berseri dan tidak satu kali selesai. Itu memungkinkan kami untuk benar-benar mendalami materinya,” tutur Akmal.
Baca juga:
Akmal menuturkan, pembelajaran paling penting dari SDG Academy Indonesia bukan hanya pemahaman atas 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan melainkan perubahan pola pikir.
Pasalnya, banyak pelaku usaha menempatkan SDGs sebatas pemenuhan kepatuhan saja.
"Rasanya SDGs ini perlu disuarakan lebih lantang melalui kebijakan. Jadi itu yang sebenarnya cukup impact dari SDG Academy, ada perubahan pola pikir," ucap dia.
Sementara itu, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali menyampaikan, SDG Academy Indonesia telah dimanfaatkan 26.000 penerima.
Langkah ini menegaskan komitmen pemerintah serta mitra untuk memperluas jangkauan serta memastian pengeloaan yang berkelanjutan, inklusif, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya