Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Saat harga karbon belum mencerminkan nilai mitigasi yang sebenarnya, para pelaku bisnis cenderung kurang bergairah untuk beralih ke teknologi rendah karbon.
Diperlukan insentif ekonomi yang lebih kuat untuk menarik investasi hijau sehingga transformasi industri yang diharapkan bisa berjalan lebih cepat.
Selain persoalan harga, integritas sistem juga menjadi taruhan besar. Standar pemantauan dan pelaporan (MRV) harus terus diperkuat untuk mencegah risiko penghitungan ganda (double counting) atau munculnya kredit karbon berkualitas rendah.
Jika pasar kita dipenuhi oleh kredit yang tidak kredibel, reputasi Indonesia di mata investor global akan terancam. Kepercayaan pasar adalah mata uang terpenting dalam perdagangan karbon internasional. Sekali kepercayaan itu hilang, daya saing kita akan runtuh.
Di sisi lain, likuiditas pasar masih menjadi tantangan yang perlu dipecahkan. Saat ini, banyak pelaku usaha lebih memilih bertransaksi secara tertutup (B2B) daripada melalui bursa karbon. Padahal, bursa adalah jantung dari transparansi yang memungkinkan terbentuknya harga pasar yang sehat dan adil.
Pasar karbon Indonesia membutuhkan bursa yang aktif dan likuid untuk menjadi katalis pertumbuhan ekosistem karbon secara nasional.
Pada akhirnya, lemahnya tata kelola akan membawa risiko yang sangat nyata. Kebijakan yang terfragmentasi dan kredit yang tidak kredibel tidak hanya akan merusak nilai ekonomi di pasar global, tetapi juga membuat proyek-proyek hijau kehilangan dampaknya bagi pembangunan.
Itulah sebabnya, koordinasi yang solid antarlembaga bukan lagi sekadar pilihan atau anjuran, melainkan sebuah keharusan mutlak untuk memastikan masa depan ekonomi hijau Indonesia.
Untuk mengubah peluang menjadi kenyataan dan menjawab berbagai tantangan yang ada, Indonesia perlu fokus pada tiga prioritas utama yang saling berkaitan.
Aturan mengenai pemantauan dan pendaftaran karbon perlu mengurangi beban administratif yang rumit. Setiap aturan juga harus dirancang untuk mendorong ekonomi lokal.
Sebagai contoh, proyek kompensasi karbon di sektor pertanian tidak boleh hanya fokus pada pengurangan emisi di atas kertas, tetapi juga harus mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan para petani.
Kepercayaan pasar hanya bisa tumbuh jika ada keselarasan kebijakan antara pemerintah pusat, kementerian sektoral, hingga pemerintah daerah.
Konsistensi ini sangat penting bagi pelaku usaha agar mereka memiliki kepastian hukum dan stabilitas dalam merencanakan investasi hijau jangka panjang. Dengan kebijakan yang stabil, adaptasi terhadap ekonomi rendah karbon akan berjalan lebih cepat dan efisien.
Perlindungan sosial dan lingkungan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap proyek karbon. Kredit karbon berkualitas tinggi bukan hanya soal angka, melainkan soal dampak nyata bagi masyarakat.
Ketika sebuah proyek memiliki integritas yang kuat, nilai ekonominya di pasar global akan meningkat. Nilai yang tinggi inilah yang nantinya akan mendatangkan manfaat besar, mulai dari penciptaan lapangan kerja baru, peningkatan pendapatan daerah, hingga masuknya teknologi ramah lingkungan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya